Friday, 12 June 2020

PROFESIMU APA?



Menjadi dosen adalah cita-citaku sejak kecil karena adanya figure yang kuat dari sosok abah. Tak ayal jika kakakku saat ini berprofesi sebagai seorang dosen, namun belum untuk aku. Semenjak menikah aku merantau di tanah kelahiran suami di Palembang.

Ada harapan dari abah jika aku bisa menjadi tenaga pendidik di perguran tinggi tempat abah mengajar. Ya, karena abah melihat prestasiku di dua jurusan aku tempuh memperoleh predikat cumlaude. Pun sepak terjang pengalamanku mengikuti student summit, international conference, Liasion Officer, asisten praktikum, dan pengalaman lainnya yang meyakinkan jika aku pun bisa menjadi dosen di kampus itu.

Rupanya benar, abah menyampaikan padaku saat usai ambil S2 dulu, salah satu pejabat di kampus memintaku untuk memasukan lamaran menjadi tenaga dosen. Namun abah tidak seambisius itu: “kalau kamu mengajar disini pastinya kamu jauh sama suami. Ikutlah dan temani suamimu dalam kondisi apapun”. Disitu aku begitu terenyuh dan memutuskan untuk tetap memprioritas keluarga dalam situasi apapun.

Hidup di perantauan sama halnya kita meninggalkan zona nyaman, artinya kita harus mengulang dari awal kehidupan dengan lingkungan baru dan orang-orang baru. Namun tidak patah semangatku untuk bisa memanfaatkan ilmu yang sudah aku peroleh selama ini. Muncullah inisiatif untuk membangun biro bersama salah satu teman yang berprofesi sebagai psikolog. Namun aku minta untuk menambah satu personel lagi agar tim menjadi semakin solid. Bertambahlah menjadi 3 anggota tim. 1 orang psikolog dan 2 ilmuwan psikologi.

Kita bertiga orang perantauan. Meski dua dari kami orang Sumatara asli, namun menghabiskan seluruh hidupnya di tanah perantauan. Maka tak mudah membangun usaha yang mana kita tidak memliki jejaring sosial sama sekali. Munculah inisiatif untuk merambah dari komunitas ke komunitas untuk memperkanalkan biro kami agar biro kami semakin dikenal banyak orang di kota ini.

Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan ini bukan bisnis saja. Ini adalah panggilan kemanusiaan yang sangat membutuhkan tenaga profesionalitas untuk mengubah mindset tentang orang-orang yang mengalami gangguan mental. Akhirnya aku pun semakin rajin menjadi sukarelawan untuk terjun ke lapangan mendengarkan aspirasi masyarakat dari berbagai macam lapisan. Guru, orang tua, anak-anak, mereka bahagia merasa didengarkan.

Meski terkadang mereka tidak memastikan siapakah kita. Psikolog kah, dokter kah, atau hanya sekedar ilmuwan psikologi saja? Mereka tak curiga. Mereka senang diperhatikan, didengarkan yang mungkin sebagian orang nampak abai, acuh, bahkan GENGSI jika hanya sebatas menangani orang-orang marjinal yang mungkin hanya diupah dengan peluh keringat bercucuran.

Panggilan “membantu” ini lah yang memuat jiwa dan ragaku mengalir di biro ini. Terlebih saat rekan kami yang psikolog sedang banyak jam menangani klien, kami membantu hal yang lain agar bisa meringankan beban pekerjaanya. Kami ikut ke rehabilitasi narkoba, kegiatan pemberdayaan perempuan. Bercengkerama dengan orang-orang di rehabilitasi yang kadang membuat kita tertawa, senang, bahkan sampai meneteskan air mata. Mereka juga senang bercengkrama dengan kami. Tanpa perlu tau sebenarnya siapa kami. Psikolog kah, ilmuwan psikologi kah, dokter kah. Mereka senang, mereka diperhatikan.

Namun terkadang tidak selamanya yang kita lihat baik dianggap orang lain juga baik. Persaingan akan selalu ada dalam setiap perjalanan membangun segala hal. Saat kita dengan tulus membantu orang, pasti akan ada orang lain juga  menawarkan kebaikannya kepada kami. Yang bisa saja kebaikan itu membuat kita menjadi dikenal dan dibutuhkan oleh banyak orang.

Terkadang kita tidak pernah ada tekad untuk menawarkan diri, namun orang yang nyaman dengan kita lah yang memilih kita, menawarkankan segala pekerjaan dengan kita. Jika jika hal yang ditawarkan tersebut tidak sesuai dengan bidangku, apa lantas aku harus menerima tawaran itu? Itu sama saja seperti masuk kedalam kandang singa. Jika bukan bidang kita, untuk apa kita terima? Akan lebih baiknya kita tawarkan kepada rekan yang lain yang lebih mampu.

Lalu jika suatu ketika orang menganggapku NAMPAK lebih dikenal, dan bahkan menganggap jika aku MENGAKU-NGAKU menjadi profesi tertentu…rasanya hati ini bagai tertusuk sembilu. Sepertinya sejak awal aku tidak pernah merencanakan itu. Apa yang kulakukan mengalir seiring apa yang aku alami saat itu. Aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai macam kalangan tanpa adanya rasa pencitraan. Semua mengalir tanpa direncanakan.

Entah kalimat apa yang pantas untuk mengungkap rasa ini. Jujur aku menulis sambil menangis. Sembari mengingat kembali saat bercengkerama dengan anak-anak dan para orang tua di “sekolah kecil yang tak layak”hidup di tengah kemewahan hiruk pikuk kota. Mengingat kembali tetesan air mata seorang mantan pengguna narkoba yang begitu rindu dengan anaknya. Lantas saat dianggap itu sebagai hal yang dimanfaatkan…

HATIKU HANCUR

Terlebih banyak hal yang selalu mengingatkan jika keluarga adalah yang akan selalu menjadi nomer satu. Untuk apa banyak membantu orang namun keluarga hancur berantakan. Jika itu terjadi, rasanya semua akan sia-sia.

Aku begitu bersyukur selalu diingatkan begitu berharganya tim yang selama ini jatuh bangun berjuang di biro ini, meski terkadang orang di luar sanalah yang memberikan ketidak kenyamanan dalam bertugas. Yang membuatku untuk memutuskan untuk bekerja secara internal saja.

Semenjak mencuat kasus DS, pasti semua magister sains pernah merasakan hal yang sama. Namun tidak semua ilmuwan psikologi disamakan dengan DS. Kami masih banyak yang waras. Yang berjuang untuk tidak memanfatkan titel lain untuk meraup keuntungan. Dan selama ini belum ada senyata ini mampu bersuara.

Tidak benar jika pekerjaan kemanusiaan masih harus dikotak-kotakan ranah siapa dan siapa. Semua punya tugas mulia menolong yang membutuhkan. Namun jika merasa ilmuwan psikologi tidak boleh andil menjadi praktisi, silahkan saja keteteran mengurus seorang diri dengan kesibukan mengurus klien tiada henti.

Harusnya semua saling bersinergi satu sama lain. Ilmuwan bisa bantu terjun ke lapangan. Psikologpun juga.  Tentunya kami tidak sampai lancang melakukan hal diluar batas kami sebagai ilmuwan. Intervensi di tangan psikolog. Tapi tugas mensosialisasikan mental health adalah tugas bagi semua tenaga profesional yg bergerak di bidang mental. Note it. Tidak ada unsur menyaingi bahkan mengaku-ngaku



Terimakasih pelajaran berharga saat ini. Aku merasa semakin tangguh.



2 comments:

  1. Huhuhu aku terhau biru bacanyaa. . Makasih ya udah berkontribusi besar buat lentera

    ReplyDelete
  2. Semangat, Kak Aya! Fokus ke kebaikan hatimu yaa.

    ReplyDelete

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh