Friday, 22 November 2019

LULUS TEPAT WAKTU ALA STUDENT MOM


       Jadi Student Mom itu Gampang-gampang Susah!

student mom

Memutuskan jadi student mom dikala hamil anak pertama, perekonomian masih pas-pasan, LDM sama suami, rasanya itu wow nano-nano. Masih teringat gimana dulu saat suami masih gajinya gak seberapa. Harus dibagi dua antara biaya hidupnya sama biaya hidupku di Jogja. 

Dulu temen ngirainnya aku rajin banget bawa bekal makanan karena buat jaga pola makan yang sehat. Tapi sebenarnya alasan utamanya adalah NGIRIT. Ya gimana gak ngirit. Uang bulanan 1 juta harus cukup buat makan, bayar kos, kontrol ke dokter obgyn, beli vitamin, beli susu, dan nyicil buku anak. 

Tiap weekend juga buru-buru langsung pulang ke rumah. Biar bisa makan gratis di rumah orang tua. Tiap senin juga balik ke Jogja bawa sayur-mayur dan lauk-pauk. Karena kalo keseringan belanja di Mirota, pasti hasratku pengen beli yang lain nya lebih gede daripada yang dibutuhkan. Mwehe. 

Biasanya ortu menyambut anak pertama maunya beli peralatan bayi yang lucu-lucu. Aku cukup dapat warisan dari kakak dan sepupu aja. Kebetulan masih ada yang bisa dipakai. Uangnya ditabung buat biaya aqiqah sama inves buku ke anak. Waktu itu aku ikutan arisan buku Rabbit Hole 50 ribu perbulan. Tenangs, bukan yang sampe jutaan ribu per bulan kok.

Waktu anak pertama lahir, aku masih semester 2. Terpaksa udah gak ngekos lagi karena di Jogja anak gak ada yang bantu ngurus. Jadi sejak semester 2 harus PP dari Boyolali ke Jogja. Gak enaknya itu kalau dapat jam kuliah pagi dan dosennya super killer. Telat dikit gak boleh masuk. Jadi sering berangkat dari rumah jam 5 pagi. Itu Pun kadang masih ngos-ngosan sampai kampus. Beruntungnya saat itu tingkat kekileran ibunya mulai berkurang semester ini. Jadi kadang meski telat bu Amitya masih ngebolehin aku masuk. Kata ibunya: “ Gak papa masuk aja, saya juga pernah di posisi kayak kamu. Kuliah sambil ngurus anak”. Makasih banyak almarhum ibu Amitya. Saat akhir semester beliau meninggal. Bagiku beliau luar biasa.

Saat semester 3 kebanyakan teman-teman kelas seangkatanku udah gak ambil MK lagi. Semua dituntaskan di semester 2. Tapi aku masih ambil makul banyak di semester 3. Itu karena aku gak bisa ambil kuliah full karena harus mengurus newborn baby (TANPA CUTI-CUTIAN). Itupun makul yang aku prioritaskan ambil adalah makul wajib yang kalau mau ngulang harus tahun depan lagi. Oh no.

Belum lagi ujian traumatis pasca kecelakaan bus yang saya tumpangi saat pulang dari kampus. Waktu itu anak masih usia 3 minggu. Badan juga masih remuk pasca melahirkan. Rasanya terselip hasrat buat cuti aja. Asli gak kuat.

Saya udah janji lulus tepat waktu. Semester 3 meski masih ambil MK, saya terus kebut menyelesaikan tesis. Alhamdulillah saya bisa ujian proposal lebih awal dibandingkan teman-teman saya. 

Ya meski sebagian orang berpikir buat lulus itu gak harus cepet-cepet, yang penting lulus dengan ilmu sudah matang dan memperoleh predikat yang memuaskan. Ya silahkan saja. Kalau saya gak bisa leha-leha, karena saya gak ada yang namanya uang SPP untuk semester tambahan. Plus ninggalin suami jauh di pulau sana. Jadi saya harus selesaikan dengan cepat.

Alhamdulillah, tepat 1 tahun 11 bulan saya berhasil menyandang gelar Master of Arts in Psychology. Meski penelitian saya mengambil data di Palembang dan Jogja. Rumah di Boyolali. Sempat stress juga karena gak ngerti-ngerti sama desain kuantitatif yang mana penelitian pakai 5 variabel. Terlalu ribet. Tapi alhamdulillah dosen pembimbingku adalah masternya psikometri. Bapak Prof.Dr.Saifuddin Azwar, M.A. 

Memang betul kalau keterbatasan dan banyaknya tantangan  itu bikin orang punya tekad dan pergerakan yang lebih pesat. Tergantung seberapa teguh kita mau menghadapi. Banyak juga student mom yang gak kuat dengan terpaan dan terpaksa harus nambah semester, bahkan gak dilanjutkan dalam waktu lama. Semua tergantung komitmen masing-masing. Semangat ya bagi para ibu pejuang tesis, disertasi dan sejenisnya :)

       Tips Menyelesaikan Tugas Akhir  Tepat Waktu

Tugas akhir seperti tesis memang seringkali menjadi kendala bagi para mahasiswa, terutama bagi para ibu pelajar. Entah kesulitan terjadi saat menulis, meneliti, saat menemukan dosen pembimbing yang susah ditemui atau memiliki banyak permintaan saat revisi. Untuk itu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh ibu pelajar untuk mengoptimalkan kinerjanya dalam menyelesaikan sebuah tugas akhir.
Berikut beberapa tips yang bisa ibu pelajar lakukan agar dapat menyelesaikan tugas akhir tepat waktu:
1.     Buatlah target perencanaan atau modifikasi perilaku


Memuat modifikasi perilaku adalah perencanaan yang dibuat untuk mempermudah menyelesaikan tugas sesuai target yang dicapai. Dengan adanya perencanaan dari modifikasi perilaku ini, ibu pelajar bisa mengerjakan tugas akhir dengan mudah. Meskipun pada kenyataannya terkadang tidak sesuai dengan perencanaan yang ditulis. Namun, para ibu harus tetap melanjutkan target yang ditulis dan menghargai setiap kemajuan singkat hanya karena ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan.
Berikut lampirkan contoh modifikasi perilaku yang dapat menjadi gambaran bagi para ibu pelajar untuk menyelesaikan tugas akhir:

Tsurayya Syarif Zain (392257)

CP: 085728526311

Sampai saat ini (tanggal 30 Januari 2017) saya sudah menjalani pendidikan di Magister Sains Psikologi UGM (1 tahun). Saya memiliki target menyelesaikan studi pascasarjana (2 tahun). Dengan demikian saya masih memiliki (1 tahun) untuk menyelesaikan sesuai target.

Langkah 1:
      Membuat pengingat dan asosiasi dengan keuntungan positif yang dapat dicapai
a.   Saya lebih optimal mendidik Archy
b.   Saya dapat berkumpul kembali dengan anak dan suami dalam satu rumah
c.  Saya dapat mendaftar beasiswa Muhammadiyah Scholarship Preparation sebelum kembali ke Palembang
d.   Saya dapat mengurus dan mendesain rumah yang sekarang sedang saya tinggalkan
e.   Saya bisa segera melamar dosen di universitas yang saya inginkan
f.   Saya bisa fokus mengurus rumah tangga
     Merencanakan waktu dan tenaga untuk merencanakan proyek. Membuat daftar pernyataan.
a.   Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk proyek ini, saya tidak akan membuang usaha begitu saja.
b.   Saya sudah terlalu lama menghabiskan waktu di Magister Sains Psikologi UGM karena saya belajar disini pakai biaya sendiri.
     Siapkan rencana untuk menghadapi godaan yang menghalangi proyek
a.   Mengurus anak dijadikan alasan untuk malas mengerjakan tesis: Saat mengurus Archy, saya harus tetap fokus mengurus Archy. Ketika Archy tidur di siang hari, saya harus ikut tidur, sementara ketika Archy tidur di malam hari saya harus bangun untuk mengerjakan tesis minimal 1 jam sehari.
b.   Malas membaca referensi: minimal 1 hari saya harus membaca buku atau jurnal referensi. Saya bisa lakukan setelah sholat subuh jam 5.00-5.30.

Langkah 2:
Mengumpulkan data perilaku yang berlebihan untuk mengevaluasi tingkat kemajuan:
  1. Tidak konsisten melaksanakan planning
  2. Ngantuk, malas, dan capek
  3. Gadget
  4. Tidak tahu besok mau melakukan apa sehingga bermalas-malas

Langkah 3:
Membuat program kontrol diri:
  1. Saya tahu konsultasi setiap dua minggu sekali itu berat, tapi ini untuk menjaga semangat saya dan tetap fokus pada proyek saya.
  2. Saya tahu membaca jurnal terutama bahasa asing itu sangat membosankan, tapi jika saya tidak membaca saya sama halnya seperti seorang plagiat yang mengajarkan tesis tanpa paham kontennya.
  3. Saya tahu untuk fokus itu sulit, tapi orang tidak akan pernah mencapai pada hal yang diinginkan tanpa adanya fokus dan konsisten.
  4. Saya tahu menemukan banyak kesalahan di skripsi kita itu menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi jika kita mengundur kelulusan kita.
  5. Saya tahu semester 3 ini teman-teman saya sudah menyelesaikan kuliah, sementara saya masih ada kuliah 6 sks. ITU TIDAK MASALAH BAGI SAYA DAN SAYA BERHAK LULUS TEPAT WAKTU LEBIH AWAL DARIPADA MEREKA YANG SUDAH SELESAI MATERI DI SEMESTER 3 INI!
  
Langkah 4:

Buat program pemeliharaan:

      Februari            :  Acc Judul Penelitian dan Proposal Tesis oleh Pembimbing
      Maret                :  ACC Proposal Thesis
      April                 :  Lulus TPA
      Mei                   :  Seminar Kompre
      Juni                   :  Revisi Seminar Kompre
      Juli                    :  Seminar Hasil
      Agustus            :  Revisi Seminar Hasil
      September        :  Ujian Tesis
      Oktober            :  Pendaftaran

2. Catat semua revisi dari dosen pembimbing secara mendetail

Bermasalah dengan dosen pembimbing adalah momok yang seringkali menghambat target yang ditentukan. Salah satunya dikarenakan adanya mispersepsi saat melakukan revisi. Upayakan untuk merekam semua perkataan dosen saat bimbingan. Dengarkan kembali apa yang sudah dibicarakan dosen lalu catat secara mendetail. Ini dapat memudahkan dosen pembimbing juga saat merevisi tesis kita. Karena terkadang dosen pun juga lupa apa saja yang dosen minta saat merevisi tugas kita.

3.   Bangun komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing

Ini menjadi catatan penting saat melakukan bimbingan. Jangan sampai kita mendadak menghilang karena belum sanggup menyelesaikan revisi yang dosen minta. Buatlah target tanggal kapan kalian akan menemui lagi dosen pembimbing. Usahakan seminggu sekali menemui dosen entah itu untuk mengajukan revisi atau hanya sekedar minta pendapat dan berdiskusi. Itu kan menjadi lebih baik daripada harus menghilang lama karena belum menyelesaikan revisi.
Sesekali kita juga boleh memberikan hadiah seperti cemilan sebagai ucapan terimakasih karena dosen sudah bersedia  meluangkan waktu untuk bertemu dengan kita (Ingat bukan nyogok ya, tapi hanya untuk membangun silaturahm yang baik). Dengan adanya upaya ini, hal ini dapat membantu student mom untuk bisa mencapai target yang ditentukan. Pun juga student mom dapat lebih optimal dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dengan mengurus rumah tangga. 


0 comments:

Post a Comment

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh