Tuesday, 19 November 2019

ASAH KETERAMPILAN PRA MENULIS SEBELUM AJARKAN ANAK CALISTUNG


Keterampilan menulis seringkali dianggap sebagai kompetensi dasar dan tolok ukur anak untuk siap sekolah. Udah mau masuk SD, udah bisa nulis belom? Begitu kira-kira kalau para orang tua sedang ngerumpi menanyakan kesiapan anak sekolah.

Gak hanya itu, bimbel calistung juga semakin naik daun dari tahun ke tahun. Hampir semua anak-anak di komplek saya kalau anaknya belum masuk TK, ya diikutin TPA atau diikutin les calistung sama orang tuanya. Karena gak pernah tau di les itu anak belajar nulisnya kayak gimana ya saya gak bisa kasih penilaian bahkan menjudge.

Baca juga hal yang perlu disiapkan sebelum anak membaca

Namun terlepas dari itu semua, yang perlu ortu ketahui adalah proses menulis pada anak-anak itu sangat berbeda dari orang dewasa. Belajar menulis pada anak-anak adalah hal yang sangat kompleks karena diperlukan koordinasi kognitif, motorik, maupun neuromotorik.


Bahkan saat saya ikut seminarnya bu  Dr Indun Lestari Setyono, Psikolog Sekolah, beliau bilang kalau anak bisa melompat itu juga ada kaitannya dengan bagaimana ia bisa menulis ntar. Nah loh kita sebagai ortu gak kebayang kan bakal sekompleks itu. Apalagi tantangan para ortu milenial saat ini anak-anak gak bisa lepas dari yang namanya gadget. Bakal diperlukan effort yang lebih besar loh untuk mengajari anak nulis.  Yuk makanya jangan males ngilmu dan cari tahu sebelum anak dikirim les sana dan sini.

baca juga: kenapa ngajar anak nulis di jaman serba gadget itu susah

Awalnya anak mulai belajar mencoret-coret saat usia 2 tahun. Anak mula-mula belajar membuat garis vertikal, horisontal, lalu melingkar. Baru setelah itu mulai berkembang dari hal sederhana ke coretan yang lebih kompleks. 

Begitu pun betul adanya kalau proses perkembangan kognitif berawal dari hal konkret ke hal abstrak. Gimana bisa sih tiba-tiba nyuruh anak menulis huruf alphabet padahal gak ngerti huruf A itu apa, anaknya siapa, semalam berbuat apa. Eaa malah jadi nyanyi lagunya mamas Andika.

Sebelum anak benar-benar diajarin menulis, ada baiknya ortu mengenalkan terlebih dahulu tahap reading readiness (pre-writing) skill. Apaan tuh ya pre-writing skill? Keterampilan pra-menulis (pre-writing skill)  adalah keterampilan dasar yang perlu dikembangkan anak-anak sebelum mereka mampu menulis. Keterampilan ini berkaitan dengan  kemampuan anak untuk memegang dan menggunakan pensil, dan kemampuan untuk menggambar, menulis, menyalin, dan mewarnai. 

Keterampilan yang diperlukan pada tahap pre-writing meliputi:

1. Kemampuan memegang dan menggerakan alat tulis

Yaitu bagaimana cara anak memegang dan menggerakkan alat tulisnya dengan baik. Hal ini diperlukan beberapa keterampilan sebagai berikut:
  • Hand division: bagaimana jari jemari berkoordinasi satu sama lain untuk memegang alat tulis. Jari telunjuk dan ibu jari mengangkat penisl sementara jari lainnya menguatkan.

  • Object Manipulastion: Kemampuan memanipulasi alat- alat dengan terampil termasuk memegang dan memindahkan pensil dan gunting), mengendalikan alat sehari-hari seperti sikat gigi,sirir, peralatan makan)

  • Integrasi bilateral: Menggunakan dua tangan bersamaan dengan satu tangan Memegang dan menggerakkan pensil dengan tangan dominan sedangkan tangan lainnya membantu dengan memegang kertas tulis).

  • Kekuatan tangan dan jari: Kemampuan untuk mengerahkan kekuatan melawan perlawanan menggunakan tangan dan jari yang memungkinkan kekuatan otot yang diperlukan untuk pergerakan pensil yang terkontrol.


2. Kemampuan persepsi bentuk

Bagaimana sih anak bisa belajar tentang persepsi bentuk? Ya kenalkan anak dengan benda yang memiliki bentuk berbeda. Kenalkan itu juga gak harus dibilang ini limas, ini persegi panjang seperti itu juga. Tapi biarkan sensori anak mengenal macam-macam benda yang ia sentuh. Misal mintalah anak untuk menyentuh bola dan bentuk balok. Maka anak akan merasakan kalau kedua bentuk tersebut memiliki perbedaan. 

Bisa juga dengan permainan puzzle. Dari permainan puzzle anak akan belajar mencocokan bentuk yang sesuai. Semakin kecil potongan puzzle maka semakin terasah kemampuan persepsi bentuknya.
Bisa juga dengan memotong apel menjadi beberapa potongan. Lalu minta anak untuk menyusun kembali menjadi satu kesatuan buah apel. Ini juga bisa moms lakukan di rumah dengan menggunakan bahan makanan yang ada.

3. Kemampuan cara menggerakkan jari untuk membentuk huruf yang dibuat. 


Gimana nih agar anak bisa menggerakkan jari dengan baik dan benar? Stimulasi anak agar motorik halusnya bisa lebih terasah. Salah satu cara untuk mengasah gerakan jari anak bisa dengan body image awareness. 

Jadi body image awareness itu adalah bagaimana cara kita dapat menghayati anggota tubuh kita agar si anak bisa mendeteksi bagian anggota tubuhnya. Jika anak sedang mengeluh kesakitan pada anggota tubuhnya, minta anak menyebutkan anggota tubuh yang sakit di bagian mana. Bagian kaki misalnya. Kaki bagian mana? lutut, paha, betis, atau tumit? Nah itu harus jelas dan selalu ajarkan anak untuk menjelaskan bagian secara spesifik.

Baru setelah itu anak belajar mengenal huruf abjad atau angka. Sebelum anak diminta menulis, kenali dulu bentuk-bentuk abjad dan huruf yang ditulis. Kembali lagi saat mengenalkan anak, selalu optimalkan keterampilan sensorinya. Misal mengenalkan anak huruf A melalui kertas kasar/amplas. Minta anak menghayati dan merasakan bentuk huruf A pada kertas yang bisa diraba. Baru setelah anak bisa merasakan, anak bisa diajak untuk menulis huruf A. 

4. Kemampuan mengatur besaran dari huruf-huruf yang harus ditulis. 

Biasakan anak belajar menulis pada space yang ditentukan. Jadi anak juga belajar otoritas dimana aja anak berhak menulis. Misal jika anak sedang belajar menulis di atas kertas. Kertas bergaris dapat mebantu anak untuk menentukan besar kecil huruf. Tapi ini kalau anak sudah mulai terasah kemampuan pra menulisnya ya :)

5. Kemampuan mengingat cara membentuk huruf atau angka yang harus ditulis. 

Pada dasarnya semua orang memiliki faktor lupa. Begitu Pula dengan anak-anak. Latihan setiap hari dapat menguatkan anak untuk mengingat apa yang ia tulis. Tapi pastikan waktunya tidak terlalu lama ya. Cukup 15 menit per hari agar anak dapat mengingat huruf yang ia tulis. 


Pencapaian Pra Menulis sesuai dengan Tahap Usia

Semasa kuliah dulu, saya pernah dikenalkan dengan alat test Visual Motor Integration. Tes ini terdiri dari beberapa kotak. Di dalamnya ada garis dan titik. Di tes ini anak diminta untuk mengikuti gairs yang ada dalam kotak, menyambungkan, dan lain sebagainya. 

Waktu itu testi saya usia 3 tahun dan 5 bulan. Memang ternyata anak 3 tahun dan 5 tahun punya pencapaian yang berbeda. Anak 3 tahun umumnya baru mulai meniru garis veritkal horisontal. sementara anak 5 tahun sudah bisa menyalin bentuk yang lebih kompleks.

Berikut terlampir tahap pencapaian keterampilan pra menulis anak berdasarkan usianya:

Usia
Pencapaian Pra Menulis
1-2 tahun
Coretan secara acak
Coretan spontan dalam arah vertikal / horizontal dan / atau melingkar
Meniru arah horizontal / vertikal / melingkar
2-3 tahun
Meniru garis horizontal
Meniru garis vertikal
Meniru lingkaran
3-4 tahun
Salinan garis horizontal
Salinan garis vertikal
Menyalin lingkaran
Meniru +
Meniru / dan \
Meniru kotak
4-5 tahun
Salinan +
Melacak garis
Salinan kotak
Salinan a / dan \
Meniru X
Meniru Δ
Pegang pensil pada posisi menulis
5-6 tahun
Salinan X
Salinan Δ
Mengenali antara garis atau kurva besar dan kecil


Aktivitas yang Mampu melatih keterampilan Pra Menulis

Setiap anak memiliki speed yang berbeda pada pelajaran tertentu. Jadi jangan sampai banding-bandingkan dengan yang lain ya moms. Terus yakinkan pada diri kalau anak mampu melewati proses tersebut dengan kemampuan mereka masing-masing. Dan jangan lupa untuk memberikan stimulus terbaik agar anak bisa lebih terampil sebelum belajar menulis. 

Aktivitas apa aja nih yang bisa moms laukan dengan anak untuk mengasah ketrampilan pra menulis?


Kegiatan apa yang dapat membantu meningkatkan keterampilan kesiapan menulis (pra-menulis)?
1. Kegiatan meronce dengan kancing dan tali

2. Bermain dengan play doh, meremas-remas, membentuk playdogh dapat menstimulasi motorik halus maupun koordinasi dalam membuat bentuk



3. Kegiatan Menggunting seperti memotong bentuk geometris untuk kemudian menempelkannya bersama untuk membuat gambar seperti robot, kereta api atau rumah.

4. Kegiatan Menjepit benda yang dipindahkan ke tempat lain

5. Menggambar atau menulis pada permukaan vertikal.
6. Aktivitas sehari-hari yang membutuhkan kekuatan jari seperti membuka wadah dan toples.
7. Menggambar Bentuk pra menulis: Berlatih menggambar bentuk pra-menulis (l, -, O, +, /, kotak, \, X, dan Δ).
8. Permainan jari: yang melatih gerakan jari tertentu seperti Incy wincy Spider.


9. Membuat Kerajinan: Buat barang-barang menggunakan kotak-kotak tua, karton telur, wol, kertas, dan selotip.
10. Membuat Konstruksi seperti Bangunan dengan duplo, lego, mobilo atau mainan konstruksi lainnya.


Nah, dari serangkaian tulisan yang begitu panjang ini, semoga parents bisa mulai observasi keterampilan pra menulis anak ya. Amati, stimulus, dan didik dengan cinta yang paling utama. Memaksakan apa yang tidak disukai anak akan membuat anak justru semakin menghindari aktivitas tersebut. Jadi diperlukan ekstra stok kesabaran dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Selamat menemani buah hati ayah bunda di rumah ya :)

1 comment:

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh