Wednesday, 10 April 2019

Baby Led Weaning vs Spoon Feeding; Mana yang Paling Baik?



Beberapa tahun belakangan ini, tepatnya 2 tahun yang lalu saat Archy MPASI, para mamah-mamah muda sedang dihebohkan dengan keunikan Andien (si penyanyi kondang smart kece nan jelita) dalam mendidik anaknya, Kawa. Terutama dalam pemilihan metode MPASI.

Sejauh ini kan yang kita tahu dari ajaran nenek moyang kita secara turun-temurun, bayi itu ya makan MPASI-nya disuapin, dan juga makan makanan yang dihaluskan macam bubur. Nah, si Andien ini udah kasih anaknya dari awal MPASI makanan yang gak dihalusin dan juga tanpa disuapin sama emaknya. Istilah kecenya adalah Baby Led Weaning alias BLW.

Sebenarnya sih BLW ini sudah jadi tren di luar negeri sejak 15 tahun yang lalu. Nah berhubung si Andien ini kan public figure sekaligus influencer, otomatis emak-emak ini pada heboh tralala-trilii terutama di sosial media. Ada yang nyinyir lah, ada juga yang terinspirasi untuk menerapkan BLW ke anak mereka.

Gak taunya, 2 tahun kemudian, sepengamatan saya di dunia para netijen, dokter Meta Hanindita, seorang dokter spesialis anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik anak (panjang bener sampe mbenges). Beliau ini sangat antusias meluruskan isu-isu tentang nutrisi anak di instagram.

Ini nih Dokter Meta Hanindita yang cantik, cerdas, dan juga lucu. Panutanku deh pokoknya

Dok Met tahu bener kalau sekarang itu para emak-emak banyak berkiblat pada informasi di dunia medsos. Jadi beliau mensosialisasikan ilmunya pake gaya super kreatif dan menyenangkan bikin emak-emak betah baca di instagram story meski bahasannya itu berat.

Salah satu yang beliau bahas adalah tentang MPASI dengan BLW. Dok Met bilang BLW itu nggak direkomendasikan oleh IDAI. BLW rentan bikin anak jadi Stunting. Wow...sontak mamak-mamak netijen yang budiman pada kebakaran jenggot.

Ada yang ngerespon dengan baik banyak juga yang gak sungkan-sungkan mensyen Andien berjamaah, ngata-ngatain lah, atau sekalian mensyen temen-temenya yang juga jadi pengikutnya Andien. War biasak...singa pun kalah kali ya kalau liat emak-emak lagi pada nyinyir wkwkw.

Aku pun juga punya banyak temen yang udah nerapin BLW ke anaknya sampai gede. Jadi ngebayangin kalau aku diposisi dia atau si Andien, kemudian di salah-salahin sama ribuan emak-emak sejagat raya. Ibu siapa coba yang gak runtuh hatinya apalagi kalau udah dikait-kaitkan sama anak. Padahal juga anaknya sehat-sehat aja, malah pinter dan lebih tinggi dari anak seusianya.

So please lah mak kalau mau nyinyir sesama ibu-ibu terutama masalah anak itu mbok ya pikir-pikir dulu. Emang kita juga siap bakal dinyinyirin balik yang lebih pedas lagi? Hmm..baiklah. Terlepas dari masalah nyinyir menyinyir, mendingan kita cari tahu aja kenapa sih BLW itu gak direkomendasikan? Terus kita juga cari tahu juga bagaimana respon para praktisi BLW terkait masalah itu? Jadi adil kan, kita denger dari dua suara biar kita belajar respect each other.

Okay, aku bakal bahas BLW yang merujuk pada IGS-nya dokter Meta ya...simak baik-baik.

Gill Rapley, pendiri BLW mendefinisikan BLW sebagai metode pemberian MPASI dimana:
  •  Anak didorong untuk mengeksplore makananya dengan tangan
  • Makanan yang disajikan berupa makanan yang mudah dipegang, bukan yang dihaluskan seperti pure.
  • Anak didorong untuk makan sendiri, tidak disuapi siapapun
  • Anak tetap dapat asupan ASI kapanpun karena nanti anak sendiri yang memutuskan kapan waktunya mengurangi nenen.
  •  Anak makan bergabung dengan keluarga kapanpun dimanapun.

Terus apa coba manfaatnya BLW? Merujuk pada Rapley, dengan BLW anak makan MPASi lebih fun, natural, belajar makan dengan aman, tekstur makanan, bentuk, dan lain sebagainya. Selain itu waktu makan adalah waktu berharga bersama keluarga, bisa mengendalikan nafsu makan, mendapatkan nutrisi yang baik, dan juga baik untuk kesehatan jangka panjang.

Eh tapi sayangnya, sejuta manfaat yang dipaparkan itu masih berdasarkan opini si penulis buku alias ibuk Gill Rapley itu sendiri. Belum ada kajian ilmiah yang secara keseluruhan membuktikan semua manfaat dari BLW yang disebutkan tadi.

Beberapa peneliti akhirnya turun tangan donk ingin membuktikan seberapa terbuktikah manfaat yang diperoleh dari BLW itu. Di salah satu jurnal yang dok Met paparkan, ada jurnal yang meneliti tentang perbedaan anak BLW sama yang non BLW dilihat dari pertumbuhannya. Hasilnya adalah anak BLW secara signifikan lebih underweight daripada anak non BLW.

“Alah, buktinya anaknya si itu baik-baik saja. Anak yang pake spoon feeding juga bisa rentan underweight blablabla..”

Hmmm, aku mah biasa banget dengerin pembenaran para ibu-ibu kalau asumsinya udah mulai dikritisi. Apalagi dulu juga sering banget denger gituan dari para emak anti-vaksin. Yaudah lah ya, kita lebih percaya mana coba sama hasil penelitian yang mana ngambil samplenya gak cuman satu dua orang dibandingin sama emak-emak yang cuman ngeliat bahkan meraba-raba dari satu sisi saja?

Belum lagi prosedur penelitian itu bukan berdasarkan kata si ini dan si itu. Semua diuji secara ilmiah ya gaes. Meskipun tiap penelitian ada limitationya, tapi plis lah hargai. Yang pernah ngerasain jadi researcher pasti tau lah rasanya jungkir balik buat ngebuktiin hipotesis ilmiahnya.

Baiq...lanjut ya..udahan nge-gasnya hahaha. Nah, ini nih jawaban yang pasti ditunggu-tunggu tentang pertanyaan “Kenapa sih BLW gak direkomendasikan?”

Alasan pertama.
Dari definisi BLW tadi, kita tau kan ya kalau MPASi yang disajikan ke anak itu bukan bubur alias berupa potongan-potongan kayak finger food. Nah,  seandainya anak BLW ini dikasih potongan wortel kukus, kentang kukus, dll dalam 3 kali sehari, berapa kandungan yang diterima oleh tubuh?

Apalagi bayi kan makan potongan gituan otomatis gak kayak orang dewasa yang langsung habis gitu aja gak bersisa. Pasti akan ada yang terbuang dan hanya sebagian yang masuk ke dalam mulut. Kalau gitu apa menjamin tercukupi semua kebutuhannya seperti zat besi, protein, lemak, vitamin, dll?

Pantas aja kalau ada hasil penelitian yang menunjukan bahwa anak yang BLW aspuan zat besi. zinc, dan vitamin B12 nya tergolong lebih rendah dari anak non BLW.

Alasan kedua.
Dilihat dari tabel perkembangan bayi normal, bayi usia 4-7 tahun baru belajar memutar lidah atas dan bawah, juga masih belajar menelan makan lunak. Makanya finger food biasanya diberikan saat anak berusia 8 bulan. Karena pada usia tersebut anak udah mulai belajar menggerakan rahang dan mengunyah.

Nah, kalau kita paksain anak usia 6 bulan langsung makan finger food, kemampuan oromotoriknya belum siap. Akibatnya anak makan makanan dengan jumlah yang lebih dikit yang beresiko pada gagal tumbuh seperti stunting juga bahaya akan tersedak makanan.
Kayak gini nih sajian MPASI ala anak BLW


Makanya beliau bilang spoon feeding adalah metode MPASi yang paling aman dan sudah terbukti lebih superior secara ilmiah. Sementara metode BLW masih kontroversi dan masih terus dikaji dari sisi manfaatnya.

Nah,begitulah penjelasan Dok Met kenapa BLW BIG NO buat MPASI. Tapi meskipun begitu, aku tuh penasaran kenapa kok ada sebagian DSA malah ngerekomendasiin BLW, kayak DSAnya andien itu. Atau alasan rasional apa sih yang masih bikin para praktisi BLW tetap konsisiten ngejalanin method ini.

Akhirnya diriku mencari-cari selebgram mana yang sekiranya mampu menjawab pertanyaanku. Ceilah. Kalo Andien udah lah kayaknya baca DM ku aja gak sempet.

Dan....selebgram yang terpilih menjadi jawaban atas pertanyaanku adalah Baby.Qianna. Aku gak tau nama asli emaknya siapa. Intinya dia-lah yang paling masuk kriteria (songong luu). Eh bener loh, abis aku DM itu, langsung beliau bales dan jadiin DM ku sebagai highliht di instastory nya.Cihuy.

Ada dua poin pertanyaan yang aku kirim ke mom baby Q. Pertama, gimana menurut pandangan dia kalau BLW gak direkomendasikan BLW. Kedua, gimana pendapatnya kalau BLW itu rentan ADB (Anemia Defisiensi Besi).

1. Gimana menurut pandangan mom Baby Q kalau BLW gak direkomendasikan BLW?

Menurut mom baby Q, WHO belum ngeluarin statement resmi kalau praktek BLW itu dilarang, karena penelitian ilmiah tentang resiko dan manfaatnya BLW itu masih sedikit banget.

Nah berhubung beliau praktisi BLW yang tinggal di New Zealand, dia bilang minat ortu di NZ pada BLW tergolong tinggi. Aku lihat di jurnal juga NZ punya praktisi BLW yang besar di dunia saat ini. Tapi mekipun demikian justru di NZ termasuk paling aktif melakukan penelitian terkait BLW. Nah kan, emak-emak disana tau gitu bukannya nyinyir tapi malah belajar cari tahu sana sini loh ahaha keren ya..

Hal ini terbukti dari hasil penelitian terbaru mereka mengenai metode BLISS, yaitu metode BLW yang dimodifikasi dengan guidelines tertentu supaya pelaksanaan BLW lebih aman dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Wah...bu ibu udah ada yang tahu belum metode BLISS?

Selain itu, merujuk pada complementary feeding guideline dari WHO; WHO menyarankan agar makanan disajikan secara soft, mashed, atau dipotong kecil. Jadi sebenarnya beda di tekstur makanan aja kan ya. Yang SF makanannya dihaluskan ortunya dulu, yang BLW makananya dihaluskan dengan bantuan gusi dan enzime ludah.

Terus perihal kemampuan oromotorik? Bukanya anak 6 bulan belum bisa menghaluskan secara sempurna? Jawaban dia, beberapa penelitian menyebutkan kalau tiap anak punya kemampuan oromotorik yang berbeda-beda. Ada yang udah terbentuk baik sejak 6 bulan, ada yang belum. Katanya sih gitu, aku disuruhnya nyari sendiri jurnalnya soalnya hahaa.

2. Gimana pendapat mom baby Q kalau BLW itu rentan ADB (Anemia Defisiensi Besi)?

Jawabannya, dia awali dengan rujukan jurnal yang sama dengan Dok Met buat bahas ini. Ciee kompakaan...

Dari studi cross-sectional tentang ADB menunjukan kalau anak BLW lebih rentan kena Adb daripada anak non BLW. Dia akuin itu. Ini emang kesalahan yang paling banyak ortu lakuakan saat menerapkan BLW.
Dampak ADB itu gak main-main lo bun, be aware ya


Harusnya sejak awal BLW, ortu harus kasih makanan yang tinggi zat besi bukan cuman sayur-sayuran aja. Ortu harus kreatif mengolah daging, hati, dan makanan yang tinggi zat besi biar mudah dimakan bayi.

Artinya yang terpenting itu adalah kita harus memperhatikan kaidah-kaidah kecukupan nutrisi untuk anak. Jadi ini bukan jadi rekomendasi buat yang BLW aja, karena yang SF pun bisa jadi kena ADB juga kalau nggak memperhatikan kandungan gizinya.

SO, kalau moms udah pada tahu statemen masing-masing moms bakal milih yang mana?

Pastinya milih yang aman aja lah ya. Kalau aku pribadi, aku bakal mengamati dulu karakter anakku seperti apa. Kebetulan saat ini Aisyah usianya udah 6 bulan dan ini kali pertamanya dia makan MPASI.

Awalnya aku ikutin saran dok Met buat SF dengan menyajikan MPASI 4 bintang sejak awal. Aisyah masih belajar menelan, lidahnya muter-muter antara mau lepeh atau mau ditelan. Seminggu kemudian dia udah bisa nelan. Eh, tapi dia selalu berusaha merebut sendok dan segala sesuatunya untuk dimasukin ke mulut saat makan.

Yaudah lah, karena keinginanya ingin makan sendiri, aku siapkan dia finger food sambil aku suapin dia bubur. Hasilnya dia malah makin semangat makan. Yeayy...emang bener sih kesimpulan dari ulasan tadi, yang penting kan memperhatikan kaidah kebutuhan nutrisi, perkara metode yang mau dipakai itu keputusan ibu masing-masing.


Method is just method, do what works best for you and baby. Yang penting anak makan dengan bahagia dan menyenangkan, ortu pun senang. Sekarang mah, aku pakai metode senyamanya anak, yang penting anak enjoy selama makan tanpa paksaan apapun.

Jadi moms, pilih tim BLW apa tim SF?

0 comments:

Post a Comment

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh