Friday, 17 May 2019

Serunya Traveling Bareng Bayi

Sejak Archy dalam kandungan, saya sudah berangan-angan bisa melampiaskan hobi saya berkelana dengan didampingi oleh keluarga kecil saya. Saya ingin mengunjungi saudara, teman baik di penjuru nusantara maupun dunia dengan disaksikan oleh anak saya.



Dengan cara tersebutlah saya dapat menanamkan value yang secara nyata dapat dirasakanya di setiap menjelajahi belahan bumi ini. Seperti memahami keberagaman budaya, agama, adat istiadat, mengamati infrastruktur di berbagai daerah, memahami kondisi alam yang beranekaragam, dan lain sebagainya.

Saya rasa jalan-jalan itu akan menjadi milestone di setiap fase pertumbuhan anak. Contohnya;
Saat melewati fase sensorimotor, kita bisa ajak anak berjalan-jalan ke pantai sambil merasakan sentuhan pasir, berjalan-jalan di taman kota sambil mengenalkan sentuhan rerumputan, atau berjalan-jalan di taman air sambil merasakan gemercik air sungai yang jernih.

Ketika anak pada fase praoperasional, kita ajak anak berjalan-jalan di kawasan bandara. Mengajak anak untuk mengamati bagaimana pesawat lepas landas merupakan pelajaran berharga bagi anak. Anak tampak melihat pesawat terlihat kecil di udara, namun ketika pesawat mendarat pesawat nampak besar dan mungkin lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Memasuki fase operasional konkrit, anak sudah mulai banyak berpikir logis dan sistematis terhadap hal-hal yang mereka amati. Kita bisa mengajak anak berjalan-jalan ke pasar, kita ajak mereka bagaimana mengoperasikan timbangan, mengenal satuan berat, macam-macam sayur, buah, ikan, dan menjelaskan manfaatnya woww menyenangkan bukan?

Jadi, amat sangat disayangkan jika kita mengajak anak-anak keluar tanpa menanamkan pengalaman dan pelajaran kehidupan di dalamnya. Traveling cuman sekedar eksis foto-foto doank? Wah jangan salah, saya juga paling demen sama yang namanya narsis di depan kamera, hehee. Gak masalah mengekspresikan diri, namun sebagai ibu yang cerdas kita jangan sampai lupa untuk menanamkan pesan bermakna yang mereka dapatkan selama perjalanan.

Okay, saya ingin sedikit cerita pengalaman saya pertama kali membawa Archy traveling dan tips traveling yang perlu dipersiapkan saat membawa bayi saat perjalanan darat, laut, maupun udara.

Perjalanan Darat

Pertama kali saya mengajak Archy keluar kota adalah ketika dia menginjak usia 1 bulan. Yah, paling deket rumah sini lah. Tepatnya kita ajak Archy ke Tawangmangu, Karanganyar. Tawangmangu merupakan daerah dataran tinggi di Solo yang mempunyai berbagai macam destinasi wisata alam. Karena saat itu dadakan, saya memilih untuk Jawadwipa Resort dengan pertimbangan lokasi terdekat dan cuaca saat itu sedang hujan. 

So far, Archy tidak rewel dan baik-baik saja selama perjalanan. Namun permasalahanya adalah sepulang dari sana Archy langsung kena batuk pilek. Mungkin karena udara di twangmangu yang dingin dan saya hanya memakaikan selimut yang tidak begitu tebal untuk Archy. Ini jadi pelajaran bagi saya untuk bisa lebih well prepare lagi kalo mau bawa bayi jalan-jalan. Apalagi saat itu saya belum ada stroller dan saya belum lihai menggunakan gendongan.

So, dengan mengambil pelajaran dari pengalaman saya tadi, beberapa tips saat membawa bayi 0-6 bulan ke daerah dengan cuaca dingin seperti pegunungan adalah:

1. Siapkan tempat tidur yang aman dan nyaman untuk bayi. Kita bisa mempersiapkan stroller yang nyaman, baju hangat agar bayi tidak terganggu jam tidurnya. Mau bagaimanapun, ketika kita mengajak bayi keluar, kita tetap tidak boleh menyita waktu tidurnya karena kualitas tidur bayi itu sangat menentukan kenyamanan dan kesehatan bayi.

2. Selalu siap kotak P3K seperti minyak telon, essensial oil, obat-obatan yang membantu mama untuk melakukan pertolongan pertama pada bayi.

3. Siapkan cemilan sehat dan air putih yang banyak selama perjalanan. Kualitas ASI ibu harus tetap diperhatikan mengingat asupan utama bayi 0-6 bulan adalah ASI. Jadi jangan sampai ibu kelaparan dan kehausan karena kerepotan mengurus bayi ya moms.

4. Membawa perlengkapan bayi seperti baju ganti, diapers, tisyu, dll. Kenapa point ini saya jadikan point keempat? Karena asumsi saya semua ibu tahu ini adalah kewajiban penting yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap mengajak bayi keluar, pasti setiap ibu selalu didampingi oleh tas yang berisikan perlengakapan bayi. betul kan? J

Perjalanan Udara

Baik, kita lanjutkan ke pengalaman traveling Archy berikutnya. Menginjak 4 bulan, Archy saya ajak ke kota dimana kami sebenarnya tinggal. Kota dimana rumah kami berada, keluarga papa Archy berasal dan papa Archy bekerja. Palembang, Sumatera Selatan. Horeeee, it will be Archy first flight experience.

Pada saat itu, papa Archy menjemput kami ke Boyolali supaya bisa menemani kami selama perjalanan ke Palembang. Awalnya saya menolak dijemput suami karena saya percaya jika dalam perjalanan nanti saya bisa handle sendiri tanpa bantuan siapapun. Eh, pada kenyataanya super ribet dari yang saya bayangkan. Saya tidak habis pikir bagaimana jika nanti saya pergi sendiri dengan Archy tanpa didampingi suami. Sebetulnya keribetan itu muncul karena beberapa hal:

Pertama. Saya memilih pesawat dari Bandara Solo dimana setiap maskapai yang terbang dari Solo ke Palembang harus transit terlebih dahulu di Jakarta. Sudah kebayang kan bagaimana membosankanya jika transit di Jakarta? Alhasil selama transit Archy rewel tidak bisa tidur meskipun setelah itu dia tidur juga karena kecapean.

Kedua. Ini pengalaman pertama saya punya anak. Saya biasa didampingi ibu selama merawat Archy. Jadi meskipun saya mencoba memindset diri untuk tidak panik dalam segala macam situasi, eh kok tetap ajak sugestinya ilang. Tetap saya jadi mamak yang super duper panik. Sebenarnya kalo kita hadapi dengan super duper santai otomatis kita tidak akan merasa segala hal yang terjadi pada bayi itu sebagai hal yang perlu kita masalahkan. Enjoy saya intinya hehee...saat itu saya masih belum enjoy. Maafkan mama ya nak :D

Jadi mengambil dari kejadian yang saya alami, beberapa tips traveling by plane with infant 0-6 bulan adalah;

1. Usahakan cari pesawat yang direct flight, ya kalo ada yang direct kenapa harus pilih yang transit gitu. Kalopun memang adanya yang transit, sebagai ibu kita harus lebih well prepared. Demi apa? demi menjaga mood anak dan kualitas tidur anak. 

Lagi-lagi kualitas tidur ya. Ya memang. Durasi tidur bayi kurang lebih 16-20 jam setiap harinya dan ini sangat baik untuk perkembangan otak anak. Jika bayi memiliki waktu tidur yang sangat sedikit, hal ini dapat berdampak pada rendahnya kemampuan kognitif, memungkinkan munculnya hyperactivity-impulsivity (ADHD), dan kerusakan perkembangan neurologi pada otak (dilansir dari www.littlebeetkids.com).

2. Selama penerbangan, siapkan ear muff atau penutup telinga (bisa dengan kapas) supaya bayi tidak mengalami gangguan pada telinga selama penerbangan. Gangguan telinga pada bayi akan menyebabkan bayi menjadi rewel dan susah tidur.

3. Seringlah menyusui selama penerbangan. Hal tersebut menjadi hal yang efektif untuk menghindari munculnya gangguan telinga pada bayi.

Perjalanan Laut

Kami sekeluarga merasakan perjalanan laut tepatnya saat mudik pertama kali ke Sumbawa, NTB tahun 2018 silam. Waktu itu usia Archy 1 tahun 10 bulan, dan Aisyah masih di perut mama dengan usia 5-6 bulan. Kami bawa kendaraan pribadi dari Solo bareng-bareng sama keluarga besar. Jadi selama perjalanan kami menyeberangi 3 laut yaitu laut Bali, Lombok, dan Sumbawa.

Dulu waktu saya masih kecil, kapal-kapal belum menyediakan ruang bermain buat anak-anak. Mungkin sampai tahun 2011 lebaran terahir masih belum ada fasilitas bermain anak. Tapi kalo sekarang, waaw jangan tanya fasilitasnya lengkap banget! Mulai dari wahana jungkat jungkit, mandi bola, dll. Anak-anak happy donk ya gak kerasa kalau perjalanannya lama. Apalagi kalo nyeberang Bali-Lombok lumayan menghabiskan waktu 3 jam normalnya (tapi seringnya ngaret bisa sampe 5 jam).

Btw, kalau mau nyeberang umum, kita gak bisa nentuin kapal mana yang bakal kita pilih. Otomatis nyari yang udah ready berangkat. Nah, kadang untung-untungan juga dapet kapal yang bagus atau enggak. Kalau perjalananya cuman bentaran sih kayak Jawa-Bali gak usah nyari tempat duduk aja gak masalah. Tapi kalo perjalanan Bali-Lombok, kalian harus berdoa supaya dapet kapal yang bagus hahaa.

Waktu itu perjalanan Bali-Lombok kami dapat kapal yang kurang memuaskan ditambah cuaca yang buruk di malam hari. Kenetulan juga penumpangnya membludak karena musim lebaran. Akhirnya kita sewa kamar crew kapal yang letaknya di dasar kapal. Fasilitasnya ada alat pendingin, kamar mandi yang luas, dan kamar berukuran 2 x 3 meter. Di kamar terdapat dipan tingkat 2 buah dan meja.

Nah, berhubung cuacanya lagi buruk, mau tidur aja rasanya mau muntah. Kerasa banget berada di lantai paling dasar kita yang paling ngerasain kapal terombang-ambing. Jadi mending kalau yang mabukan mending ke atas aja karena menghirup udara laut bisa mengurangi rasa mual kamu selama di kapal.

Terus anak-anak gimana nih kalau posisi lagi di perjalanan laut?

1. Kalau cucacanya baik, ajak anak-anak bermain di wahana bermain yang disediakan oleh kapal. Tapi kalau gak ada atau cuacanya lagi buruk, segera turun dari mobil kamu kalau sudah berada di kapal. Kemudian cari tempat tidur yang disedikan kapal. Cepet-cepetan sih biasanya. Makanya harus ekstra jeli lihat tempat yang kosong ya :)

2. Bawa cemilan dan minuman serta perlengkapan bayi di satu tas ransel khusus buat yang udah mulai MPASI. Btw kadang balada anak kalau lama di jalan dia gak mau makan apapun terutama nasi. Jadi jangan dipaksain kalo dia gak mau makan nasi. Yang penting ada makanan dan minuman yang masuk biar anak gak dehidrasi dan sakit ya.

3. Untuk berpergian di waktu yang bertepatan dengan liburan, cepat-cepatlah cari tempat yang nyaman untuk bayi. Kadang meski kita mau pay untuk ruang VIP, tetap aja gak kebagian karena banyaknya penumpang.

Baik perjalanan darat maupun laut yang membutuhkan waktu yang lama, sebaiknya kamu harus mempersiapakan tempat supaya baby bisa tidur dalam keadaan terlentang, bukan dalam keadaan digendong. Kalau kebanyakan digendong atau dipangku selama di kendaraan, otomatis badan baby bakal lebih mudah lelah dari biasanya. Itu nasehat abahku yang punya pengalaman bepuluh-puluh tahun traveling kemana-mana.

Gimana, udah gak panik lagi kan kalau kepikiran mau ngajak si baby traveling berhari-hari? Btw waktu mudik ke sumbawa kemarin kita menghabiskan waktu 4 hari buat sampe ke Sumbawa. Woww..lama bener. Iya karena kita transit tiap pulau sekalian mengunjungi wisata yang ada disana. So far Archy happy dan Aisyah yang masih dalam perut gak bermasalah alhamdulillah.

Yuk moms segera agendakan melancong bareng anak-anak!


Monday, 6 May 2019

Skuter Metic Pilihan Para Umek Palembang, Honda Scoopy atau Yamaha Fino?



Setelah menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, saya harus meluangkan waktu ke pasar paling tidak seminggu sekali untuk belanja kebutuhan pangan. Kebetulan rumah kami membutuhkan waktu 10 menit untuk menuju ke pasar. Otomatis, saya perlu kendaraan pribadi untuk menghemat biaya dan efisiensi waktu. 

Sebagai keluarga yang masih merajut perekonomian selama 4 tahun, kami baru memiliki 1 motor untuk berpergian. Kebetulan motor ini milik suami sejak kuliah dulu. Motor besar ala anak mahasiswa yang punya suara knalpot berisik dan tempat duduk yang sempit dan tinggi bagi penumpang.

Alangkah riwehnya kalau mau ke pasar. Sudah berulang kali saya minta suami untuk ganti dengan motor baru yang bisa saya pakai juga. Hingga suatu hari suami minta saya cari-cari info tentang motor yang saya sukai. Horeee.....!!

Kebetulan saya suka motor jenis skuter karena jok depan yang luas sehingga saya bisa nyaman bawa barang belanjaan atau saat anak duduk di depan. Tentunya motor seperti ini selalu menjadi dambaan para emak-emak seantero Palembang donk ya.

Tapi setelah menelusuri satu persatu, saya bingung memilih antara Honda atau Yamaha. Sementara keduanya punya produk motor skuter yang sama-sama ciamik, yaitu Scoopy dari Honda dan Fino dari Yamaha. Supaya gak bingung lagi, yuk kita coba bandingin tipe keduanya apa saja keunggulan dari masing-masing motor yang saya incar. 

Spesifikasi Mesin

Untuk Honda Scoopy, motor ini memiliki kapasitas sebesar 108,2 cc dengan tenaga maksimal 8,98 bhp. Sementara Yamaha Fino memiliki kapasitas 125 cc dengan tenaga maksimal sebesar 9,38 bhp. Bisa dibayangkan si Fino ini tenaganya kuat dan gesit sehingga sangat cocok digunakan di jalanan Palembang.

Tapi bukannya semakin tinggi kapasitas mesin akan semakin boros dalam penggunaan BBM ya? Jangan khawatir mak. Yamaha Fino memiliki fitur teknologi BlueCore dan Start Stop System (SSS) sehingga dijamin irit BBM dan memberikan performa mesin secara powerful. Fitur SSS ini membuat konsusmsi BBM semakin irit karena membuat mesin mati saat berhenti lebih dari 5 menit dan menyala lagi saat tuas gas diputar.

            
Honda Scoppy memiliki kapasitas tangki bahan bakar sebesar 4 liter. Sementara  Yamaha Fino memiliki kapasitas tangki BBM sebesar 4,2 liter. Meski hanya berbeda sedikit, namun Yamaha Fino lebih diuntungkan karena mampu menampung BBM lebih banyak dan sangat cocok dipakai untuk bermanuver di  jalanan Palembang yang terkadang titik kemacetannya sukar untuk diprediksi.

Harga

Honda Scoopy all new varian umumnya dibanderol dengan harga kisaran 18,52 juta. Sementara Yamaha Fino dipasarkan dengan harga kisaran 18,06 juta. Dengan spesifikasi mesin dan teknologi canggih yang sama-sama disajikan oleh kedua motor ini, tentu Yamaha Fino bakal jadi incaran para ibu-ibu dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan Honda Scoopy.

Fitur dan Teknologi

Untuk sistem keselamatan, Honda Scoopy dilengkapi dengan Answer Back System (ABS). Memiliki dimmer switch, alarm, engine check warning,  dan fitur keselamatan yaitu Combi Brake System (CBS). 
              
CBS merupakan sistem pengereman yang menggabungkan antara rem depan dan rem belakang sehingga penumpang bisa melakukan pengereman dengan jarak yang lebih pendek atau dalam situasi mendadak.

Sementara itu, Yamaha Fino juga memiliki advance key system yaitu fitur canggih dengan fungsi ganda untuk menemukan lokasi dan membuka penutup kunci. Sistem ini juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan ABS yang dimiliki oleh Honda Scoopy.  

Pun juga fino memiliki sistem keamanan yaitu Smart Stand Side Switch untuk menghidari lupa menaikan standard samping. Selain itu, Yamaha Fino juga memiliki Smart Lock System (SLS). Sistem ini berfungsi untuk menahan motor yang berhenti pada jalan menanjak sehingga pengendara tidak perlu memencet rem secara terus-menerus. 

Smart Lock System pada Yamaha Fino

Tampilan

Desain motor Honda Scoopy pada dasarnya mengusung konsep desain bergaya retro modern. Penyematan velg baru 12 inch dengan ban lebih lebar dan lampu LED projector yang terintegrasi dengan desain oval bikin motor ini lekat dengan karakter fashionable dan stylish. Honda Scoppy memiliki 8 varian baru bertemakan sporty, stylish, dan playful yaitu playful white blue, cream, dan white green; sporty white, red, dan black, dan stylish matte brown dan black.

Sementara Yamaha Fino memiliki desain bodi motor yang retro elegan sehingga tampak begitu stylish dan klasik  yang cocok digunakan oleh para wanita yang identik dengan hal elegan. Lekukan bodi motor yang membentuk S-Shape dan tema Headlamp dengan desain Diamond Cut Lens bikin motor ini semakin cantik, mewah, dan memberikan kesan percaya diri bagi para penggunanya. Untuk pilihan warna, yamaha fino mengusung tipe premium, sporty, dan grande dengan varian warna caramel brown, black espresso untuk premiun, white latte, retro greenclassic blue, dan vintage red untuk sporty, dan luxury red dan blue matte untuk tipe grande. 

            

Tampilan Yamaha Fino dan Honda Scoopy memang tampak serupa namun tak sama. Semua bisa dikembalikan pada pilihan pembeli yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing.

Kesimpulan

Dengan melihat keunggulan antara Yamaha Fino dan Honda Scoopy yang sudah dilampirkan, gak ada salahnya kalian memilih Yamaha Fino dengan kualitas yang premium, fitur-fitur yang unggul. Saya pribadi akan memilih Yamaha Fino karena harganya yang lebih melegakan dibandingkan Honda Scoopy namun kualitasnya tetap unggul dan juara

Saturday, 20 April 2019

Dibalik Nama Domain, Eksistensi, dan Popularitas

Welcome, April! Menurut kalian apa yang paling memorable dengan bulan ini? April Mop? Kartinian nyari costum sana-sini? Atau General Electiom yang jatuh pada tanggal 17 April 2019? Ya, kayaknya April punya banyak unforgetable memories ya bagi sebagian orang.

Kalau saya, bulan ini adalah bulan yang bertepatan dengan wisuda Magister saya, 1 tahun yang lalu. 19 April 2019. Gak kebayang kan begitu happy-nya ketika memakai toga dan menyandang gelar baru yang dinantikan selama 1 tahun 11 bulan.


For me, kuliah magister kali ini adalah kuliah yang paling menguras tenaga. Merelakan untuk berangkat dari Boyolali ke Jogja setiap kuliah dengan transportasi umum. Ya pernah mengalami kecelakaan bus lah, kehabisan tiket kereta, pulang jam 11 malam hujan-hujanan kedinginan di jalan, dan masih banyak lagi.

Semua dilakukan demi anak pertama saya, Archy. Waktu itu kan saya masuk kuliah dalam keadaan hamil muda. Memasuki semester kedua saya melahirkan. Tidak ada pilihan lain selain harus rela pulang pergi dari rumah ke kampus meski jaraknya jauh, dan tidak memungkinkan untuk ngekos.

Saya tidak mau cuti karena status saya saat itu Long Distance Marriage alias LDM. Biasanya yang pergi merantau itu suaminya, lah ini istrinya. Mana lagi hamil pula. Udah gitu ini hamil anak pertama yang nungguinya juga cukup lama. Ya sudah, kita buat kesepakatan bersama supaya saya bisa lulus S2 tepat waktu!

Alhamudillah, dengan penuh tekad yang kuat akhirnya saya bisa lulus tepat waktu. Ditambah lagi dengan kabar gembira yang gak disangka-sangka. Saya hamil anak kedua! Masuk kuliah hamil, keluar juga dalam keadaan bunting! Ahahhaaa..Happy? Happy lah, wanita mana sih yang gak suka dikaruniai buah hati literally.

Masuk kuliah bunting, keluar pun juga bunting wkwkw


Then, waktu wisuda kemarin kehamilan saya memasuki usia 4 bulan. Saya juga bersyukur setelah balik ke Palembang, saya ditawari mengajar di salah satu universitas disana. Tapi bukan di fakultas Psikologi. Ya gapapa lah ya, apalagi mata kuliahnya tentang Penulisan Karya Ilmiah. Masih bisa dijangkau dengan kajian ilmu dari jurusan manapun.

Bangga? Jelas bangga. Ini memang cita-cita yang sebenarnya. Saya memutuskan resign dari guru karena saya ingin jadi dosen. Kenapa capek ya jadi guru? Gak juga. Saya super happy jadi guru. Tapi dosen adalah cita-cita yang terukir manis di diary usangku sejak kecil dulu. Sepak terjang saya selama kuliah juga sambil mengajar sebagai asisten dosen. Lengkap sudah untuk menggapai sebuah impian yang menggebu.

Harapan saya untuk semester selanjutnya saya bisa mengajar di Fakultas Psikologi agar sesuai dengan jurusan akademik yang saya tempuh. Saya sama temen masukin lamaran sana-sini ke semua kampus yang ada Fakultas Psikologi. Hasilnya? Nihil! Gak ada yang dipanggil sama sekali.

Saya coba meminta kakak saya untuk dikenalkan dengan Kaprodi Psikologi di kampus dia bekerja. Jawabannya, masih belum bisa memasukan dosen sekalipun itu dosen LB karena sudah penuh dengan tenaga pendidik.

Baiklah, saya bersabar untuk menunggu sambil berikhtiar agar bisa mengajar di jurusan pendidikan yang sama tempuh. 1 tahun berlalu dan memang belum rejekinya bisa mengajar di Psikologi. Sedih? agak dikit wkwkwk.
Mahasiswa pertama saat mengajar di salah satu kampus di Palembang


Hikmah menjadi perantau itu ternyata gini ya. Kalau di kampus saya dulu, saya malah ditawari untuk bisa jadi dosen disana, kalau disini saya ngelamar sampe terlunta-lunta gak ada satu pun yang menerima. Eh dipanggil pun juga enggak.

“Sabar, kali belum rejekinya. Barangkali keterima waktu anak-anakmu udah mulai sekolah dulu” Nasehat ibu gitu. Eh iya juga ya, honestly tiap ikutan tes kerja hati kecil saya selalu kepikiran anak-anak. Ya gimana enggak, Archy masih 2 setengah tahun dan Aisyah masih 6 bulan. Nyari asisten rumah tangga aja susahnya minta ampun. Masukin ke daycare, ah...yang worthed di kota ini rasanya cuman satu. Dan itu SPP-nya mungkin lebih dari gaji saya kalo jadi dosen. Ewww...

Yaudah sih, jadi ibu rumah tangga. Ngurus anak, suami, masak, nyapu, ngepel, setrika. Udah kale...apalagi gak punya pembantu, yang ngerjain mau siapa? Tapi emang dasarnya gak bisa diem, pengenya produktif dan berkarya, mau gimana donk?

Alhamdulillah, bersyukurnya saat ikut suami ke Palembang saya coba membangun link melalui komunitas-komunitas yang saya ikuti. Dari satu komunitas, dapet temen. Terus temen ngajak komunitas ini, begitu terus sampai beranak pinak.

Salah satunya saya diajakin temen gabung ke komunitas Blogger Palembang Kumpul. Saya cerita kalau saya suka nulis. Barusan ganti domain jadi www.bundaproduktif.com biar lebih yahud. Eh tapi kok gitu-gitu saja rasanya. Blog saya hambar banget gak ada lika-likunya.
Mba lya, orang yang berjasa ngajakin aku gabung di komunitas blogger Palembang

Semenjak gabung, saya kenal banyak bloggger di kota ini. Dari yang pemula kayak saya sampai yang senior. Ada yang bilang ke saya, emang masih jaman ya ngeblog? Sekarang kan jamannya vlog, bukan blog.

Alamak, gak juga ternyata. Banyak banget oppportunity setelah gabung di komunitas blogger. Dan ini jadi job yang menjanjikan buat para emak-emak macam saya yang kehabisan gaya gak bisa jauh-jauh dari rumah dan anak.

Setelah itu profesi saya mulai beralih dari Stay at Home Mom menjadi Remote Worker. Saya dapat tawaran nulis jadi content writer, dari media opini sampai website internasyenel. Dibayar? Iya lah. Tau sendiri saya mata duitan wkwkw.

Saya emang selalu bercita-cita biar bisa mandiri secara finansial dalam kondisi apapun dan yang sesuai dengan passion saya. Bisa-bisa aja sih jualan online dari rumah, banyak yang lebih menguntungkan. Tapi kalau kita bekerja ala om Steve Jobs “ Do what you love and love what you do” rasanya bekerja bakal makin semangat dan bikin happy terus sampai senyum-senyum sendiri. Eh beneran lo!

Akhirnya, saya memutuskan untuk lebih serius jadi blogger. Saya belajar otodidak nanya sana-sini gimana caranya biar blog lebih hidup dan domain authoritynya (DA) lebih dikenal sama mesin google, dan lain sebagainya. Hingga pada suatu titik, saya memutuskan untuk mengganti nama domain. Dari yang awalnya www.bundaproduktif.com menjadi www.tsurayyasyarif.com. Lah gak nyesel? udah setahun lo, ntar ngulang lagi buat naikin DA.



Yah, itu konsekuensi. Tapi tekad udah bulat. Udah istikharah juga sama minta restu suami. Alasanya? Mungkin karena ingin membangun brand dengan nama saya sendiri. Udah gitu aja sih hehee..Tetap visi misinya sama, menjadi bunda yang produktif disayang anak dan suamik biar makin ciamik. Asiaapp...

That why, akhir-akhir ini saya kembali eksis di media sosial. Tujuannya untuk menarik perhatian supaya orang sudi untuk mampir ke blog saya. Ya..namanya juga strategi marketing. Makanya ya plis yang nge-judge pakai sindirian “cie obsesi bener jadi selebgram..cie yang eksis di sosmed kayak kurang kerjaan aja” Tarik napas panjang...

Jawab aja gini ya, Haters don't really hate you. They hate themselves because you are a reflection of what they wish to be. I just wanna pursue my dreams in my limit conditions n some people don't know about this.

Dengan menulis-lah ilmu psikologi yang saya punya berharap gak sia-sia. Ya itu salah satu wadahnya adalah blog. Dari situ orang baca tulisan saya, saya diminta jadi pembicara, dan akhirnya mengantarkan saya tetap bisa menjadi “dosen psikologi” dengan cara yang berbeda. Jadi cita-cita jadi dosen tidak jadi pupus berkat menulis. Ya semua karena keseriusan saya menulis.

Berkat menulis saya jadi pemateri di satu acara Jasa Raharja

So, maafkanlah kalau ada yang merasa terganggu dengan postingan saya di sosial media. Silahkan di unfollow atau di unmute saja. Saya gak semata cuman mau cari popularitas, saya cuman ingin mewujudkan harapan abah ibu buat khairunnas anfauhum linnas. Saya cuman gak mau kalah produktif sama ibu saya yang udah tua tapi tetap aktif kontribusi ke masyarakat. Kalau sekarang saya baru mampu kontribusi ke masyarakat lewat tulisan.

Saya ingin menjadi figur ibu yang mandiri, cerdas, dan produktif di mata anak-anak saya, seperti halnya figure yang dibangun oleh ibu saya ke saya pribadi. Tanpa kata-kata tapi dengan aksi nyata. Saya ingin jadi figure utama anak-anak saya, bukan orang lain. Saya mendidik mereka di rumah, tapi saya juga harus bisa menginspirasi mereka dari rumah.

Ibuku pendidik, penulis, blogger, dosen, juru masak, tukang urut, ahli kesehatanku, guru waste managementku, semua ada dalam ibuku. Aku bangga sama ibu. Ibu tetap menjadi pendidik utamaku tapi ibu juga tetap menginspirasiku
-Archy &Aisyah-



Sunday, 14 April 2019

#MoneySmartMenginspirasi: Tips Menghemat Uang dengan Gaya Hidup Minim Sampah


Menjadi ibu rumah tangga memang membutuhkan skill yang baik dalam mengatur keuangan. Mulai dari cerdas dalam mengatur pengeluaran, investasi, hingga upaya-upaya kecil untuk menghemat uang.

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita siasati supaya bisa menekan besaran angka pengeluaran bulanan lebih dari biasanya. Contohnya kalian  bisa lakukan tips menghemat ala emak-emak yang saya baca di salah satu artikel MoneySmart Indonesia tentang tips menghemat uang ala emak-emak

Nah, salah satu tips menghemat uang ala emak-emak dalam artikel tersebut adalah “Bikin sampah menjadi barang berdaya guna”  Wow, kok bisa sih? Bisa donk!
Salah satu tips menghemat uang ala emak-emak yang dikutip dari artikel www.moneysmart.id

Sampah selama ini selalu dianggap nirguna oleh banyak orang. Akhirnya orang pada merelakan benda-benda yang dianggap sampah itu untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Padahal sampah semakin menggunung di TPA karena gak terurai dengan cepat. Akibatnya sampah-sampah ini mengeluarkan gas metan yang bikin bumi makin panas, bencana longsor, sampai banjir yang terjadi akibat penumpukan sampah. Ngeri kan!

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengubah gaya hidup minim sampah di rumah. Gaya hidup minim sampah atau zero waste lifestyle adalah gaya hidup positif yang bertujuan untuk menekan besarnya pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sejauh ini, sampah rumah tangga adalah kontributor terbesar penyumbang sampah ke TPA di seluruh dunia.  Bayangkan aja, setiap harinya selalu ada sampah yang dibuang dari aktivitas rumah tangga seperti memasak, makan, mencuci, membeli barang atau makanan di luar, penggunaan popok, sampai sampah dari  penggunaan plastik dan kertas sekali pakai.

Pantas saja ya, setiap rumah pasti bakal menghasilkan sampah setiap harinya untuk dibuang ke TPA. Terus apa donk hubungannya dengan menghemat pengeluaran rumah tangga?

Sst...sini aku bisikin. Ternyata kalau kita bisa cermat memanfaatkan sisa-sisa sampah rumah tangga, kita juga bisa menghemat pengeluaran bulanan seperti pengeluaran grocery, beli sayur-sayuran, dan pengeluaran yang lainnya loh.
  
Nah, sudah mulai penasaran kan gimana caranya. Yuk mari kita intip beberapa tips menghemat uang yang bisa kalian lakukan dengan gaya hidup minim sampah:

1. Memanfaatkan sisa buah untuk cairan pembersih.
     
   


    Kita tahu donk makan itu adalah kebutuhan primer bagi setiap manusia. Akan selalu ada sisa sayur, buah, maupun makanan hewani setiap kali kita memasak. Nah, dengan visi misi mengupayakan minim sampah, sisa-sisa tersebut bisa kita sulap menjadi hal yang bermanfaat.

Contohnya adalah membuat cairan mencuci piring dengan sisa buah. Cairan ini sering dikenal dengan cairan eco enzyme.

Untuk eco enzyme, kita bisa kumpulkan sisa kulit buah seperti kulit jeruk, mangga, atau kulit buah yang beraroma segar. Kemudian campurkan dengan air dan gula, taruh ke dalam wadah elastis. Diamkan selama kurang lebih 3 bulan. Setelah itu cairan buahnya bisa kita gunakan untuk mencuci piring, mengepel, sampai membersihkan perabotan.

Atau ada cara lain untuk memanfaatkan sisa kulit jeruk. Caranya tinggal rebus kulit jeruk hingga lunak, lalu pisahkan dari airnya. Kemudian blender sampai halus. Nah jadi deh, pasta kulit jeruk bisa digunakan untuk mencuci piring. Simpel kan?

Buah jeruk yang direbus memiliki berbagai macam manfaat antara lain bisa untuk mencuci piring sampai membersihkan peralatan rumah tangga.. Wah, berarti kita bisa hemat loh gak perlu belanja bulanan sabun cuci lagi. Artinya, kita bisa menyisihkan sebagian dari pengeluaran grocery setiap bulannya kan?

2. Regrow bumbu dapur
https://www.icreativeideas.com/13-vegetables-that-you-can-regrow-again-and-again/

Sayur-sayuran yang masih memiliki akar ternyata bisa kita tanam kembali loh. Misalnya aja daun bawang. Selama ini sering kita pakai sebagai sajian tambahan dalam masakan.

Nah, sisakan 5 cm akar daun bawang lalu beri air. Esoknya kamu bakal bahagia lihat daun bawangmu tumbuh kembali. Daun kemangi, dan beberapa daun lain juga bisa kita regrow di pekarangan rumah kita. Lumayan kan kita masih bisa menyisihkan seribu dua ribu uang makan mingguan kita.

3. Bikin komposter di rumah untuk menanam bumbu dapur
komposter untuk sisa sayur dan buah

Banyak para emak-emak  yang ngerasa ribet ngurusin tanaman. Harus beli cairan anti hama lah, pupuk lah, dan lain sebagainya. Eits, jangan khawatir. Moms bisa manfaatkan sisa makanan yang ada di dapur untuk menutrisi tanaman nih.

Contohnya cangkang telur yang dihaluskan untuk menutrisi tanah agar tanaman subur, membuat eco enzyme untuk mengusir hama, dan juga membuat kompos dari sisa-sisa sayuran.

Nah, kalau gini bikin semangat berkebun di rumah lagi deh. Sekalian juga tuh sambil menanam berbagai macam bumbu dapur. Jadi gak perlu beli bumbu dapur lagi, makin menghemat uang kan...

4. Meminimalisir aktivitas yang berdampak pada emisi gas rumah kaca.

                    

Bagi pelaku zero waste, kita juga harus berpegang teguh dalam upaya menyelamatkan bumi. salah satunya melakukan aktivitas yang minim gas rumah kaca.

Emisi gas itu yang bikin bumi kita semakin panas dan membuat perubahan iklim semakin gak stabil. Kalau sudah gak stabil, berbagai macam kerugian akan dialami oleh manusia. Diantaranya adalah, petani jadi gagal panen sehingga harga bahan makanan semakin tinggi, nelayan semakin kesulitan mendapatkan ikan, sampai bencana banjir, longsor, kemarau berkepanjangan akan melanda bumi ini.

Salah satu penyebabnya adalah aktivitas manusia yang berlebihan seperti pemakaian kendaraan pribadi, penggunaan listrik, air, sampai penggunaan plastik dan kertas sekali pakai.

Jadi sebisa mungkin kita menghemat listrik supaya jejak karbon kita dalam menyumbangkan emisi gas cenderung lebih rendah. Beberapa upaya yang bisa kalian lakukan adalah matikan lampu jika tidak dipakai, jemur cucian tanpa mesin pengering ketika musim panas, tampung air hujan untuk menyiram tanaman, dan seringlah berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum saat berpergian.

Saat berpergian, jangan lupa bawa botol, sedotan, tas, dan lap yang bisa digunakan kembali ya. Penggunaan botol, plastik, sampai sedotan sekali pakai akan menambah penumpukan sampah yang tidak baik bagi bumi kita.

Ribet? Awalnya sih ribet. Tapi jika sudah terbiasa, semua akan dilakukan dengan riang gembira. Gimana nggak happy? Udah hemat pengeluaran listrik dan air, ditambah bonus sehat pula karena lebih rajin berjalan kaki.

5. Ber-DIY dengan Sampah di Rumah

                      

Sekarang ini banyak sekali tutorial DIY (do it your self) untuk memanfaatkan barang yang gak kepakai di rumah. Contohnya menggunakan kembali sisa toples kecil untuk wadah bumbu, membuat prakarya dengan si kecil dari kertas bekas, sampai membuat tempat penyimpanan mainan dari kardus  yang dibungkus cantik dengan kertas atau kain sisa.

Ternyata, hal—hal kecil jika kita atur dengan baik bisa menghasilkan pundi-pundi uang ya secara tidak kita sadari. Asalkan kita bisa secara konsisten menjalankannya ya. 

Nah, buat kalian yang ingin cari informasi finansial mulai tentang tabungan, budgeting, asuransi, sampai investasi bisa kunjungi website www.moneysmart.id karena MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar di Indonesia yang dapat membantu kalian dalam mengelola keuangan. 

Semoga informasi mengenai #MoneySmartMenginspirasi tadi bisa membantu kalian tentang mengelola keuangan ya. Yuk belajar menghemat uang dengan gaya hidup minim sampah :)

Wednesday, 10 April 2019

Baby Led Weaning vs Spoon Feeding; Mana yang Paling Baik?



Beberapa tahun belakangan ini, tepatnya 2 tahun yang lalu saat Archy MPASI, para mamah-mamah muda sedang dihebohkan dengan keunikan Andien (si penyanyi kondang smart kece nan jelita) dalam mendidik anaknya, Kawa. Terutama dalam pemilihan metode MPASI.

Sejauh ini kan yang kita tahu dari ajaran nenek moyang kita secara turun-temurun, bayi itu ya makan MPASI-nya disuapin, dan juga makan makanan yang dihaluskan macam bubur. Nah, si Andien ini udah kasih anaknya dari awal MPASI makanan yang gak dihalusin dan juga tanpa disuapin sama emaknya. Istilah kecenya adalah Baby Led Weaning alias BLW.

Sebenarnya sih BLW ini sudah jadi tren di luar negeri sejak 15 tahun yang lalu. Nah berhubung si Andien ini kan public figure sekaligus influencer, otomatis emak-emak ini pada heboh tralala-trilii terutama di sosial media. Ada yang nyinyir lah, ada juga yang terinspirasi untuk menerapkan BLW ke anak mereka.

Gak taunya, 2 tahun kemudian, sepengamatan saya di dunia para netijen, dokter Meta Hanindita, seorang dokter spesialis anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik anak (panjang bener sampe mbenges). Beliau ini sangat antusias meluruskan isu-isu tentang nutrisi anak di instagram.

Ini nih Dokter Meta Hanindita yang cantik, cerdas, dan juga lucu. Panutanku deh pokoknya

Dok Met tahu bener kalau sekarang itu para emak-emak banyak berkiblat pada informasi di dunia medsos. Jadi beliau mensosialisasikan ilmunya pake gaya super kreatif dan menyenangkan bikin emak-emak betah baca di instagram story meski bahasannya itu berat.

Salah satu yang beliau bahas adalah tentang MPASI dengan BLW. Dok Met bilang BLW itu nggak direkomendasikan oleh IDAI. BLW rentan bikin anak jadi Stunting. Wow...sontak mamak-mamak netijen yang budiman pada kebakaran jenggot.

Ada yang ngerespon dengan baik banyak juga yang gak sungkan-sungkan mensyen Andien berjamaah, ngata-ngatain lah, atau sekalian mensyen temen-temenya yang juga jadi pengikutnya Andien. War biasak...singa pun kalah kali ya kalau liat emak-emak lagi pada nyinyir wkwkw.

Aku pun juga punya banyak temen yang udah nerapin BLW ke anaknya sampai gede. Jadi ngebayangin kalau aku diposisi dia atau si Andien, kemudian di salah-salahin sama ribuan emak-emak sejagat raya. Ibu siapa coba yang gak runtuh hatinya apalagi kalau udah dikait-kaitkan sama anak. Padahal juga anaknya sehat-sehat aja, malah pinter dan lebih tinggi dari anak seusianya.

So please lah mak kalau mau nyinyir sesama ibu-ibu terutama masalah anak itu mbok ya pikir-pikir dulu. Emang kita juga siap bakal dinyinyirin balik yang lebih pedas lagi? Hmm..baiklah. Terlepas dari masalah nyinyir menyinyir, mendingan kita cari tahu aja kenapa sih BLW itu gak direkomendasikan? Terus kita juga cari tahu juga bagaimana respon para praktisi BLW terkait masalah itu? Jadi adil kan, kita denger dari dua suara biar kita belajar respect each other.

Okay, aku bakal bahas BLW yang merujuk pada IGS-nya dokter Meta ya...simak baik-baik.

Gill Rapley, pendiri BLW mendefinisikan BLW sebagai metode pemberian MPASI dimana:
  •  Anak didorong untuk mengeksplore makananya dengan tangan
  • Makanan yang disajikan berupa makanan yang mudah dipegang, bukan yang dihaluskan seperti pure.
  • Anak didorong untuk makan sendiri, tidak disuapi siapapun
  • Anak tetap dapat asupan ASI kapanpun karena nanti anak sendiri yang memutuskan kapan waktunya mengurangi nenen.
  •  Anak makan bergabung dengan keluarga kapanpun dimanapun.

Terus apa coba manfaatnya BLW? Merujuk pada Rapley, dengan BLW anak makan MPASi lebih fun, natural, belajar makan dengan aman, tekstur makanan, bentuk, dan lain sebagainya. Selain itu waktu makan adalah waktu berharga bersama keluarga, bisa mengendalikan nafsu makan, mendapatkan nutrisi yang baik, dan juga baik untuk kesehatan jangka panjang.

Eh tapi sayangnya, sejuta manfaat yang dipaparkan itu masih berdasarkan opini si penulis buku alias ibuk Gill Rapley itu sendiri. Belum ada kajian ilmiah yang secara keseluruhan membuktikan semua manfaat dari BLW yang disebutkan tadi.

Beberapa peneliti akhirnya turun tangan donk ingin membuktikan seberapa terbuktikah manfaat yang diperoleh dari BLW itu. Di salah satu jurnal yang dok Met paparkan, ada jurnal yang meneliti tentang perbedaan anak BLW sama yang non BLW dilihat dari pertumbuhannya. Hasilnya adalah anak BLW secara signifikan lebih underweight daripada anak non BLW.

“Alah, buktinya anaknya si itu baik-baik saja. Anak yang pake spoon feeding juga bisa rentan underweight blablabla..”

Hmmm, aku mah biasa banget dengerin pembenaran para ibu-ibu kalau asumsinya udah mulai dikritisi. Apalagi dulu juga sering banget denger gituan dari para emak anti-vaksin. Yaudah lah ya, kita lebih percaya mana coba sama hasil penelitian yang mana ngambil samplenya gak cuman satu dua orang dibandingin sama emak-emak yang cuman ngeliat bahkan meraba-raba dari satu sisi saja?

Belum lagi prosedur penelitian itu bukan berdasarkan kata si ini dan si itu. Semua diuji secara ilmiah ya gaes. Meskipun tiap penelitian ada limitationya, tapi plis lah hargai. Yang pernah ngerasain jadi researcher pasti tau lah rasanya jungkir balik buat ngebuktiin hipotesis ilmiahnya.

Baiq...lanjut ya..udahan nge-gasnya hahaha. Nah, ini nih jawaban yang pasti ditunggu-tunggu tentang pertanyaan “Kenapa sih BLW gak direkomendasikan?”

Alasan pertama.
Dari definisi BLW tadi, kita tau kan ya kalau MPASi yang disajikan ke anak itu bukan bubur alias berupa potongan-potongan kayak finger food. Nah,  seandainya anak BLW ini dikasih potongan wortel kukus, kentang kukus, dll dalam 3 kali sehari, berapa kandungan yang diterima oleh tubuh?

Apalagi bayi kan makan potongan gituan otomatis gak kayak orang dewasa yang langsung habis gitu aja gak bersisa. Pasti akan ada yang terbuang dan hanya sebagian yang masuk ke dalam mulut. Kalau gitu apa menjamin tercukupi semua kebutuhannya seperti zat besi, protein, lemak, vitamin, dll?

Pantas aja kalau ada hasil penelitian yang menunjukan bahwa anak yang BLW aspuan zat besi. zinc, dan vitamin B12 nya tergolong lebih rendah dari anak non BLW.

Alasan kedua.
Dilihat dari tabel perkembangan bayi normal, bayi usia 4-7 tahun baru belajar memutar lidah atas dan bawah, juga masih belajar menelan makan lunak. Makanya finger food biasanya diberikan saat anak berusia 8 bulan. Karena pada usia tersebut anak udah mulai belajar menggerakan rahang dan mengunyah.

Nah, kalau kita paksain anak usia 6 bulan langsung makan finger food, kemampuan oromotoriknya belum siap. Akibatnya anak makan makanan dengan jumlah yang lebih dikit yang beresiko pada gagal tumbuh seperti stunting juga bahaya akan tersedak makanan.
Kayak gini nih sajian MPASI ala anak BLW


Makanya beliau bilang spoon feeding adalah metode MPASi yang paling aman dan sudah terbukti lebih superior secara ilmiah. Sementara metode BLW masih kontroversi dan masih terus dikaji dari sisi manfaatnya.

Nah,begitulah penjelasan Dok Met kenapa BLW BIG NO buat MPASI. Tapi meskipun begitu, aku tuh penasaran kenapa kok ada sebagian DSA malah ngerekomendasiin BLW, kayak DSAnya andien itu. Atau alasan rasional apa sih yang masih bikin para praktisi BLW tetap konsisiten ngejalanin method ini.

Akhirnya diriku mencari-cari selebgram mana yang sekiranya mampu menjawab pertanyaanku. Ceilah. Kalo Andien udah lah kayaknya baca DM ku aja gak sempet.

Dan....selebgram yang terpilih menjadi jawaban atas pertanyaanku adalah Baby.Qianna. Aku gak tau nama asli emaknya siapa. Intinya dia-lah yang paling masuk kriteria (songong luu). Eh bener loh, abis aku DM itu, langsung beliau bales dan jadiin DM ku sebagai highliht di instastory nya.Cihuy.

Ada dua poin pertanyaan yang aku kirim ke mom baby Q. Pertama, gimana menurut pandangan dia kalau BLW gak direkomendasikan BLW. Kedua, gimana pendapatnya kalau BLW itu rentan ADB (Anemia Defisiensi Besi).

1. Gimana menurut pandangan mom Baby Q kalau BLW gak direkomendasikan BLW?

Menurut mom baby Q, WHO belum ngeluarin statement resmi kalau praktek BLW itu dilarang, karena penelitian ilmiah tentang resiko dan manfaatnya BLW itu masih sedikit banget.

Nah berhubung beliau praktisi BLW yang tinggal di New Zealand, dia bilang minat ortu di NZ pada BLW tergolong tinggi. Aku lihat di jurnal juga NZ punya praktisi BLW yang besar di dunia saat ini. Tapi mekipun demikian justru di NZ termasuk paling aktif melakukan penelitian terkait BLW. Nah kan, emak-emak disana tau gitu bukannya nyinyir tapi malah belajar cari tahu sana sini loh ahaha keren ya..

Hal ini terbukti dari hasil penelitian terbaru mereka mengenai metode BLISS, yaitu metode BLW yang dimodifikasi dengan guidelines tertentu supaya pelaksanaan BLW lebih aman dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Wah...bu ibu udah ada yang tahu belum metode BLISS?

Selain itu, merujuk pada complementary feeding guideline dari WHO; WHO menyarankan agar makanan disajikan secara soft, mashed, atau dipotong kecil. Jadi sebenarnya beda di tekstur makanan aja kan ya. Yang SF makanannya dihaluskan ortunya dulu, yang BLW makananya dihaluskan dengan bantuan gusi dan enzime ludah.

Terus perihal kemampuan oromotorik? Bukanya anak 6 bulan belum bisa menghaluskan secara sempurna? Jawaban dia, beberapa penelitian menyebutkan kalau tiap anak punya kemampuan oromotorik yang berbeda-beda. Ada yang udah terbentuk baik sejak 6 bulan, ada yang belum. Katanya sih gitu, aku disuruhnya nyari sendiri jurnalnya soalnya hahaa.

2. Gimana pendapat mom baby Q kalau BLW itu rentan ADB (Anemia Defisiensi Besi)?

Jawabannya, dia awali dengan rujukan jurnal yang sama dengan Dok Met buat bahas ini. Ciee kompakaan...

Dari studi cross-sectional tentang ADB menunjukan kalau anak BLW lebih rentan kena Adb daripada anak non BLW. Dia akuin itu. Ini emang kesalahan yang paling banyak ortu lakuakan saat menerapkan BLW.
Dampak ADB itu gak main-main lo bun, be aware ya


Harusnya sejak awal BLW, ortu harus kasih makanan yang tinggi zat besi bukan cuman sayur-sayuran aja. Ortu harus kreatif mengolah daging, hati, dan makanan yang tinggi zat besi biar mudah dimakan bayi.

Artinya yang terpenting itu adalah kita harus memperhatikan kaidah-kaidah kecukupan nutrisi untuk anak. Jadi ini bukan jadi rekomendasi buat yang BLW aja, karena yang SF pun bisa jadi kena ADB juga kalau nggak memperhatikan kandungan gizinya.

SO, kalau moms udah pada tahu statemen masing-masing moms bakal milih yang mana?

Pastinya milih yang aman aja lah ya. Kalau aku pribadi, aku bakal mengamati dulu karakter anakku seperti apa. Kebetulan saat ini Aisyah usianya udah 6 bulan dan ini kali pertamanya dia makan MPASI.

Awalnya aku ikutin saran dok Met buat SF dengan menyajikan MPASI 4 bintang sejak awal. Aisyah masih belajar menelan, lidahnya muter-muter antara mau lepeh atau mau ditelan. Seminggu kemudian dia udah bisa nelan. Eh, tapi dia selalu berusaha merebut sendok dan segala sesuatunya untuk dimasukin ke mulut saat makan.

Yaudah lah, karena keinginanya ingin makan sendiri, aku siapkan dia finger food sambil aku suapin dia bubur. Hasilnya dia malah makin semangat makan. Yeayy...emang bener sih kesimpulan dari ulasan tadi, yang penting kan memperhatikan kaidah kebutuhan nutrisi, perkara metode yang mau dipakai itu keputusan ibu masing-masing.


Method is just method, do what works best for you and baby. Yang penting anak makan dengan bahagia dan menyenangkan, ortu pun senang. Sekarang mah, aku pakai metode senyamanya anak, yang penting anak enjoy selama makan tanpa paksaan apapun.

Jadi moms, pilih tim BLW apa tim SF?