Monday, 26 November 2018

MEDIA SOSIAL DAN EMAK-EMAK MILENIAL


Bagi saya, media sosial bagaikan mata pisau. Jika dimanfaatkan dengan baik maka dapat membantu kebutuhan kita, namun jika disalahgunakan akan berbahaya dan dampaknya tidak main-main. Sebagai seorang emak-emak melenial, fakta menunjukan bahwa mayoritas ibu muda selalu mengandalkan internet dalam berbagai hal. Misal cari tahu penyebab anak sakit, mencari referensi MPASI, sampai beli diaper semua dapat dilakukan melalui internet. Namun bagi para ibu-ibu yang memanfaatkanya untuk mencari suatu informasi, hati-hati dengan bahaya tsunami informasi.

Sekarang ini banyak para ibu muda yang menjelma menjadi selebgram karena beberapa hal. Ada yang karena anaknya menggemaskan, pintar, atau informasi yang ia bagikan di sosial media membantu para ibu-ibu untuk mendapatkan hal yang sedang ia butuhkan informasinya. Namun tidak semua informasi yang di share oleh si ibu selebgram itu harus selalu kita percayai seratus persesn loh. Kenapa? karena belum tentu ia menyampaikan hal sesuai dengan fakta yang ada atau hasil penelitian terkini. Apalagi jika hanya dimanfaatkan oleh produk tertentu sebagai endorsment. Misalnya si ibu selebgram itu mereview salah satu produk minyak ikan yang harganya super mehong. Dia bilang minyak ikan itu sangat penting buat kecerdasan anak, bahakn sebisa mungkin kita bisa mengupayakan buat ngasih minyak ikan ke si anak. Apakah memang betul begitu? Apa betul jika anak yang tidak minum minyak ikan kecerdasanya akan kalah jauh dengan si anak yang diberi minyak ikan? Thats why kita perlu kroscek terlebih dahulu sebelum mengamini segala bentuk informasi yang kita dapat. Belum lagi ketika seorang artis beken memviralkan metode MPASI kekinian dimana anak sejak usia 6 bulan sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuapin orang lain (spoon feeding). Ternyata eh ternyata sekarang metode tersebut tidak direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) loh, karena rentan terhadap stunting dan anak usia  6 bulan belum siap kemampuan oromotorik untuk bisa makan sendiri.

Then, sebagai seorang ibu kita harus cerdas memanfaatkan sosial media ya mak. Harus banyak-banyak belajar dan memilah-milah mana informasi yang kebenaranya dapat dipertanggung jawabkan. Seperti apa sih informasi yang bisa dipertanggung jawabkan? Salah satunya informasi yang berasal dari jurnal ber –EBM. Kenapa harus jurnal? Karena informasi dalam jurnal dibuktikan dengan bukti-bukti ilmiah dengan metode ilmiah dan tentunya tidak subjektif. Kalo si emak selebgram itu bilang menurut pengalaman si ini, si itu. Itu tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena bisa jadi hanya spekulasi, sedangkan dalam penelitian itu ada pengukuran, alat penelitian, subjek penelitian yang baru setelah itu hasilnya ditarik menjadi suatu kesimpulan. Prosesnya tersusun secara sistematis, bukan ditarik dari kata si ini dan si itu.

Jika satu persatu para emak-emak sudah bisa bijak memanfaatkan media sosial, maka satu persatupun mereka menyelamatkan generasi bangsa. La kok bisa? Ya bisa. Ibu kan tiang negara. Ibu yang membangun peradaban karena dari tangan merekalah lahir generasi bangsa yang handal dan hebat. Jadi merekapun bisa membangun budaya yang baik dalam keluarganya mengenai cara bijak bermedia sosial. Nah kalo emaknya sukanya ngegalau di sosmed, lah anaknya juga suka ikutan curhat galau gak jelas di sosmed. Tapi kalo emaknya bisa memanfaatkan sosmed sebagai ladang dakwah, bisnis, dan kegiatan bermanfaat lain maka anaknya pun tidak jauh-jauh dari emaknya. Nah seperti itulah gambaran saya mengenai sosial media untuk para ibu milenial masa kini.
#BPN30DAYCHALLENGE2018
#BLOGGERPEREMPUAN
#bpnnetwork
#bloggingchallenge

0 comments:

Post a Comment

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh