Sunday, 9 September 2018

KATA "JANGAN" DALAM BERKOMUNIKASI PRODUKTIF DENGAN ANAK

Agenda kami hari minggu ini adalah kondangan ke pernikahan teman. Setelah selesai membersihkan rumah, saya segera membungkus bingkisan untuk dibawa sebagai kado pernikahan nanti. Saya siapkan isolasi, gunting, dan kertas kado di depan TV. Kemudian saya mengambil bingkisan yang akan dijadikan kado di lemari. Sesaat saya kembali, rupanya Archy sudah memainkan gunting saya. Meski reflek, saya berupaya menenangkan diri supaya Archy tidak kaget ketika saya tegur.

“Archy, kasih guntingnya ke mama nak. Mama mau bungkus kado buat tante ning…”
“Siapa cy? Tante…?”
“Ning…”
“Iya pinter….jangan mainan gunting ya nak. Gunting itu berbaha..yaaa. Nah itu pinter, archy tau kalo gunting bisa berbahaya ya….”

Saat Archy memegang barang berbahaya, atau melakukan tindakan berbahaya, seperti memasukan sesuatu ke dalam mulut, sejujurnya rasa reflek untuk melarang itu pasti ada. Kata dosen saya dulu, dalam bagian otak terdapat system saraf yang dinamakan prefrontal korteks (PFC). PFC berfungsi sebagai executive function yaitu seperti memberi keputusan. Keputusan tersebut bisa saja terjadi secara reflek ketika kita merasa dalam kondisi terancam. Maka tidak dipungkiri jika saya masih sering melontarkan kata jangan terutama pada situasi yang membahayakan bagi anak.





Bagi saya, kata jangan masih bisa ditolerir untuk dijadikan sebagai komunikasi produktif pada anak. Asalkan kita mampu menyampaikan pesan alasan kita melarang pada suatu hal, dan tentunya dengan intonasi suara rendah dan emosi yang tidak meluap-luap. Misal ketika Archy mendekat ke saya dan sangat dekat dengan api kompor saat saya memasak. Saya reflek mengatakan “Archy jangan dekat-dekat nak..api berbahaya”. Kemudian saat menjauhkan dari Archy saya menatap matanya dan mengatakan lagi, “Nak, kenapa Archy gak boleh deket-deket api? Karena api itu berbaha…yaaa” ujar saya menasehati.

Pernah saat seminar psikologi Islam di kampus saya dulu, saya menanyakan suatu pertanyaan yang saat itu membuat saya begitu penasaran. Kebetulan pembicara seminar saat itu adalah para dosen dari IIUM Malaysia, sebuah kampus di Malaysia yang pertama kali mendirikan dan mengikprahkan jurusan psikologi Islam. Saya tanyakan pada mereka, seringkali dalam ilmu parenting orang tua hendaklah menghindari kata jangan saat melarang anak. Sebisa mungkin kita ganti dengan kalimat yang lain. Namun, kita amati banyak dalil-dalil dalam Al-Qur`an yang menggunakan kata jangan atau Laa untuk memberikan peringkatan pada hambanya. Seperti contohnya la tqrabuz zina, la tamsyi fil ardhi marahan, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Jawabanya dari salah satu pembicara tersebut adalah  pada dasarnya manusia memiliki karakter individu yang berbeda-beda, atau bisa dikatakan setiap anak itu unik (individual differences). Ada anak yang memiliki karakter yang justru meluapkan amarah jika kita larang dengan mengatakan jangan, namun adapula anak yang memiliki karakter lebih termotivasi untuk berubah lebih baik jika kita larang dengan mengatakan jangan. Oleh sebab itu yang terpenting adalah menyampaikan pesan moral mengenai alasan mengapa kita melarang hal tersebut kepada si anak. 

Meskipun begitu, saya yang saat ini masih termasuk ibu muda semestinya tetap terus mengupgrade diri seperti banyak mempelajari ilmu-ilmu parenting supaya kita terjebak pada pembenaran dalam versi kita sendiri. Berwawasan luas dan mampu memfilter informasi yang valid merupakan kunci utama bagi seorang ibu terutama seperti era modern saat ini dimana tsunami informasi sangatlah rentan terjadi pada siapapun. Terutama bagi para ibu muda seperti saya. Sebagai seorang muslim, maka hendaklah kita menjadikan Al-Quran sebagai pedoman kita dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Begitu istimewanya Allah karuniakan anak kepada kita, selain ia menjadikan kita sebagai tempat belajar, namun juga menjadikan kita banyak bermuhasabah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
#harikeempat9sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


5 comments:

  1. Assalamu’alaikum bunda
    Saya juga belajar ilmu psikologi.. sebenarnya tidak apa menggunakan kata jangan.. dalam bahasa arab menurut saya itu memberikan penegasan..

    Kita bisa menggunakan kata jangan, asalkan dengan nada yang baik, bukan terkesan marah, jangan lupa ditambah penjelasan. Dan harus ada konsistensi

    Semoga mba bisa menjadi ibu yang baik dan anak anaknya sholeh dan sholelah... keep productive bunda 💪💪💪

    ReplyDelete
  2. Jadi referensi sebelum menikah ni hehe

    ReplyDelete

Yakin gak mau BW? Aku suka BW balik loh