Thursday, 20 December 2018

GAYA BELAJAR ANAK: MITOS ATAU FAKTA?

Sejauh ini, khususnya dalam ranah psikologi gaya belajar memang masih banyak diperdebatkan terkait pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Apakah benar kita memiliki gaya belajar tertentu? Atau apakah gaya belajar memang mempermudah anak dalam belajar dan berpengaruh terhadap pembelajaran yang bermakna? Benarkah anak yang sudah terarahkan gaya belajarnya cenderung kemampuan prestasinya lebih baik dibandingkan anak yang sama sekali belajar tanpa terpaku pada gaya belajar tertentu? Apakah anak yang cenderung memiliki gaya belajar auditory nantinya tetap tidak mau mencoba belajar dengan menggunakan gaya belajar lain? Dan lain sebagainya.

Yuk mari mulai kita pelajari satu persatu.
Merujuk pada buku Quantum Learning, dalam gaya belajar ada dua kategori utama bagaimana kita belajar yaitu:
1. Cara menyerap informasi ( modalitas )
2. Cara mengatur dan mengolah informasi ( dominasi otak)

Maka gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, kemudian mengatur serta mengolah informasi. Jadi jika kita mengenali gaya belajar sendiri, maka kita dapat membantu diri sendiri dan anak kita untuk belajar lebih cepat dan mudah.

Nah, sekarang kita cari tahu yuk bagaimana proses mental kita bekerja dalam mengolah informasi?

Berdasarkan teori pengolahan informasi tentang modal memori dua-penyimpanan (Atkinson & Shiffrin) mengemukakan bahwa informasi bermula ketika sebuah input stimulus (ex: visual, auditori) mengenai satu atau lebih bagian panca indera (bisa penglihatan, pendengaran, peraba) yang disebut dengan register sensorik. Nah, register sensorik yang kena tadi kemudian disimpan dalam bentuk rekaman indrawi. Dari rekaman itulah terjadi proses pengenalan pola atau dikenal dengan persepsi. Kemudian persepsi diolah dalam working memory kemudian integrasikan ke dalam prior knowledge.

https://www.researchgate.net/figure/The-offered-MemoryX-architecture-consisting-of-a-working-memory-and-a-long-term-memory_fig3_269111443

Tapi kenyataanya, ketika kita belajar tentunya informasi yang diperoleh cenderung lebih kompleks, lalu gimana jika semua informasi tersebut dapat kita serap secara keseluruhan dengan mudah? 

Ada beberapa alternatif-alternatif dari dua model penyimpanan salah satunya adalah level aktivasi. Dalam model ini mengatakan bahwa kita bukan memiliki struktur memori yang terpisah, tetapi satu memori dengan kondisi aktivasi yang berbeda. Meskipun kondisi aktivasinya berbeda, namun dalam proses bagaimana seseorang itu mengolah informasi tetaplah register sensorik ketika menangkap input stimulus bekerja bersama-sama bukan dominan pada register tertentu (Schunk, 2012).

Nah, setelah kita tahu bagaimana proses mental kita mengolah informasi, mari kita kembali ke pertanyaan selanjutnya jadi apakah benar Gaya belajar itu Ada Dan mempermudahkan anak dalam belajar?


Penelitian mengenai gaya belajar telah dilakukan para ilmuwan selama bertahun-tahun. Selama lebih dari 50 tahun, teori mengenai gaya belajar ditemukan mengenai bagaimana masing-masing orang belajar dengan cara yang mereka sukai. Banyak sumber yang menemukan akan pentingnya mengamati gaya belajar anak dalam proses belajar belajar dan upaya dalam mendesain kurikulum. Ribuan sekolah di seluruh dunia sudah banyak menerapkan gaya belajar untuk menilai cara belajar yang anak sukai untuk menentukan metode mengajar yang tepat bagi mereka. Hal ini diharapkan agar anak mudah memahami pelajaran dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik. 

Ribuan sekolah di seluruh dunia sudah banyak menerapkan gaya belajar untuk menilai cara belajar yang anak sukai untuk menentukan metode mengajar yang tepat bagi mereka

Penelitian yang dilakukan Coffield et al pada tahun 2004, dimana peneliti menyajikan lebih dari 70 instrumen untuk membuktikan adanya gaya belajar, dan hasillnya menunjukan bahwa tidak ditemukan bukti kuat untuk mendukung keberadaan gaya belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Paul Howard-Jones (2014) dengan mengambil sampel guru dari 5 negara menemukan bahwa 93% guru di Inggris menyetujui bahwa murid akan belajar dengan baik jika diajar sesuai dengan LS mereka. Namun temuan tersebut belum memperkuat seberapa efektifkah perancangan kurikulum yang didesain berdasarkan gaya belajar anak untuk hasil belajar yang lebih baik.

Permasalahanya adalah bukan pada apakah gaya belajar itu ada melainkan apakah belajar sesuai dengan gaya yang lebih disukai bisa membuat perbedaan. Beberapa ulasan hasil studi yang dipublikasikan pada tahun 2008 (Pashler, et al), menyimpulkan bahwa masih sedikit penelitian-penelitian gaya belajar yang didesain dengan studi komparatif untuk mengetahui perbedaan anak yang belajar dengan LS dan yang tidak. 
     
Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi di Universitas California, San Diego dalam jurnal Psychological Science in the Public Interest menemukan bahwa orang lebih menyukai untuk mempresentasikan informasi yang diperoleh dengan berbagai macam cara, dan mereka menemukan bahwa tidak terbukti bahwa mencocokan model presentasi ke gaya belajar yang disukai dapat berpengaruh terhadap prestasi dan performasi mereka dalam belajar.

Penelitian menemukan bahwa tidak terbukti bahwa mencocokan model presentasi ke gaya belajar yang disukai dapat berpengaruh terhadap prestasi dan performasi mereka dalam belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Newton dan Miah (2017) yang mensurvey 114 akademisi di sekolah Inggris menemukan bahwa persepsi guru tentang perlunya gaya belajar siswa sebesar 58% namun cenderung lebih rendah dari pada penelitian serupa sebelumnya dan penelitian dalam beberapa tahun terakhir. Responden yang menggunakan Gaya Belajar (33%) jauh lebih rendah daripada mereka yang mengaku percaya pada mereka menggunakan. Namun, 32% responden menyatakan bahwa mereka akan terus menggunakan gaya belajar pilihan mereka meskipun kurangnya bukti dasar untuk mendukung efektfitas gata belajar itu sendiri.

Bahkan belakangan ini, para pakar psikologi lain kembali meninjau tentang gagasan mengenai gaya belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan membandingkan kelompok dengan pilihan gaya belajar dan kelompok yang tidak diarahkan gaya belajarnya. Hasilnya kembali tidak terbukti eksistensi mengenai gaya belajar berpengaruh terhadap meaningful learing dan hasil belajar. Dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa akan menjadi susah apabila belajar dengan gaya tertentu saja, contohnya mempelajari geografi dan seni tanpa presentasi visual meskipun gaya belajarnya cenderung ke auditori. 


Terus gimana, apakah betul anak memiliki gaya belajar tertentu? Perlu gak kita mengamati dan menentukan gaya belajar anak?

Hammond (2016) mengulas hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2015. Suatu studi yang menarik di mana anak-anak diberi kesempatan untuk belajar di luar ruangan dimana semua gerak aktivitas anak dipantau melalui alat pelacak GPS. Gaya belajar masing-masing anak dinilai mulai dari awal dan banyak anak yang proses belajarnya sesuai dengan gaya tertentu. Murid dengan gaya belajar kinestetik yang paling banyak bergerak selama di luar ruangan, murid visual mengambil banyak foto, dan murid auditori lebih banyak berbicara selama diskusi. Hal ini membuktikan bahwa belajar dengan gaya belajar yang disukai setidaknya memberikan implikasi bagaimana cara kita bertindak di dunia nyata meski tidak diketahui apakah dengan menentukan gaya belajar tersebut dapat mengubah hasil belajar yang mereka harapkan. 

Dalam proses pengolahan informasi juga dijelaskan bahwa saat belajar indra dan kinerja saraf dalam otak kita tidak bekerja sendiri. Saat kita mendengarkan sesuatu dengan fokus, proses visual kita tidak berhenti sampai disitu.Bahkan membaca merupakan tindakan yang lebih dari sekedar proses visual. Berbagai bagian di otak dikerahkan saat berimajinasi dan merefleksikannya pada pengalaman-pengalaman kita sendiri. 

membaca merupakan tindakan yang lebih dari sekedar proses visual. Berbagai bagian di otak dikerahkan saat berimajinasi dan merefleksikannya pada pengalaman-pengalaman kita sendiri.

Selain itu, mengajar siswa dengan gaya belajar tertentu secara tidak langsung dapat menahan perkembangan kreativitas siswa dalam proses belajar. Bahkan saat kita dewasa kita perlu belajar dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Lebih dikhawatirkan lagi, menggolongkan gaya belajar siswa dapat memunculkan stereotip pada diri mereka sendiri. Murid yang merasa bahwa gaya belajar auditori dan visualnya rendah justru menganggap membaca buku dan mendengarkan penjelasan orang lain tidak berguna baginya dan cenderung ia hindari. Ada juga contohnya seorang murid yang sulit belajar dengan membaca karena pilihannya pada gaya belajar kinestetik, kesulitan mereka mungkin akan dimaklumi oleh guru bukannya ditelaah dan ditindaklanjuti.

Jadi kesimpulanya, kita boleh mengamati gaya belajar anak dan memberikan mereka fasilitas sesuai kebutuhan gaya belajar yang ia sukai. Namun, jika anak tiba-tiba merasa nyaman dan beralih ke gaya belajar lain, ada baiknya kita memaklumi karena bisa jadi anak belajar mengembangkan kemampuan kreativitasnya. Tidak disarankan jika gaya belajar yang ditentukan memunculkan stereortip dalam diri anak. Anak cenderung tidak berusaha membaca karena merasa ia lebih mampu belajar dengan gaya kinestetik. Lalu kita tidak mendorong mereka untuk melakukan inisiatif dalam belajar sehingga anak akan cenderung stagnan dan tidak melakukan improvisasi dalam belajar. 




Lalu apa yang dirasakan saat mengamati gaya belajar anak pada tugas level 4 ini?

Games Level 4 mengenai gaya belajar ini merupakan games yang sejatinya paling menantang bagi saya. Bukan hanya dalam segi pelaksanaan saja, melainkan juga dalam segi kajian teoritik. Bahkan dengan adanya tugas bunda sayang ini, saya lebih banyak belajar untuk mendalami materi LS (learning style). Tugas bunsay mendorong saya untuk banyak berdiskusi dengan teman, kembali membaca buku dan jurnal, serta memotivasi saya untuk terus mengupgrade ilmu meskipun saat ini saya sudah lulus secara akademik dan menjadi ibu rumah tangga.Thanks a lot :)
 
Yang saya rasakan adalah kepuasan. Saya mengamati bahwa archy belajar dengan berbagai macam gaya dalam aktivitas tertentu. Ia menjadi auditori karena sering sekali belajar sambil mendengarkan saya menyanyi karena sejak dari kandungan saya selalu mengajaknya belajar sambil bernyanyi. Ia menjadi cenderung kinsetetik ketika ia perlu mempraktekan yang sekiranya memang dibutuhkan praktek saat mempelajarinya seperti merasakan bagaimana proses gravitasi maka ia menjatuhkan diri ke benaman guling dan bantal, dan lain sebagainya. Terkadang iapun menjadi tipe anak visual yang cenderung lebih senang mengamati apa yang orang lain lakukan.

Kepuasan lainya juga saya rasakan ketika belajar dan memahami bahwa meskipun dalam suatu penelitian pasti ada keterbatasan dan kekuranganya, namun dunia sains tidak akan pernah terlepas dari adanya penelitian. Kita harus menghargai bahwa peneltian merupakan upaya para ilmuwan untuk membuktikan teori-teori yang sudah ada, mengingat informasi dan kemajuan teknologi semakin berkembang pesat. Begitu pula dengan perilaku manusia seperti perilaku belajar yang senantiasa dinamis sehingga diperlukan pengujian dan peninjauan ulang untuk mengevaluasi bukti yang menyebabkan kesimpulan tersebut diambil.

Referensi:

Coffield, F., Moseley, D., Hall, E., and Ecclestone, K. (2004). Learning Styles and Pedagogy in Post 16 Learning: A Systematic and Critical Review. The Learning and Skills Research Centre. Available at: http://localhost:8080/xmlui/handle/ 1/273 


Burns, Jason. (2016). Do Learning Styles Exist? https://edwp.educ.msu.edu/green-and-write/2016/do-learning-styles-exist/
Schunk, Dale. (2012). Learning Theories: An Educational Perspective. New York: Pearson Education Inc

Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., and Bjork, R. (2008). Learning styles:concepts and evidence. Psychol. Sci. Public Interest 9, 105–119.doi: 10.1111/j.1539-6053.2009.01038.x

Newton, M. & Miah, M. (2017). Evidence Based Higher Education: Is the Learning Styles "Myth" Important?. Frontier Psychology: volume 8, article 444. 

Hammond, Claudia. (2016). Do We Have a Preffered Style of Learning?. http://www.bbc.com/future/story/20161010-do-we-have-a-preferred-style-of-learning



Thursday, 6 December 2018

SEHAT DAN BAHAGIA MENJADI STAY AT HOME MOM

Dulu aku tuh suka panas kupingnya kalau ada ibu rumah tangga ngeluh ini dan itu. Terlebih kalo udah nyinyirin ibu-ibu berkarir yang gak bisa full membersamai anak lah, ini lah itu lah. Yaudah lah, jalanin aja sih toh semua punya bertanggung jawab masing-masing atas keputusan pilihanya. Toh kan enak yang jadi IRT masih bisa leyeh-leyeh. Anak tidur bisa ikutan tidur. Nonton telenovela sepuasnya sambil ngemil keripik dan kipas-kipas santai. Terus kenapa sih harus pake mengeluh segala, kenapa sih kudu nyinyir orang lain segala. Itu pas aku belum ngerasain jadi stay at home mom jadi bisa semudah itu bibir gue nyinyirin balik para SAHM. Dan...ketika sekarang aku berada di posisi mereka...benar-benar gak kerja di ranah publik sama sekali...apa yang terjadi? Huaaaa...rasanya pengen nyakar-nyakar tembok sambil gelesotan di lantai. Ya Rabbi...kayak gini ya rasanya. Pantes aja kadang para IRT itu mengeluh tak berdaya. Pantes aja mereka sekuat tenaga butuh pengakuan kalo meski gak bekerja mereka gak kalah sama yang kerja di luar sana. Nah dulu gampang banget ya mak bibirmu berkata apa, sekarang kamu nyari alasan dengan alibi PANTESAN halah..basi mak. Pencitraan koe (nuding idung pesek) hiks hiks.

Aku jadi ngerti deh kenapa menjadi SAHM itu rentan terhadap tekanan fisik maupun psikis. Gak semudah yang dibayangin cuy. Apalagi yang segala sesuatunya dikerjain sendiri tanpa ada asisten rumah tangga. Dulu pas masih punya Archy, kerjaan rumah udah dikerjain sama ART. Masih bisa ngajar juga meski cuman jadi Dosen LB yang kerjanya cuman ngajar gak pakai ngantor. Masih bisa nongki-nongki cantik juga sama temen karena semua urusan rumah beres. Cucian beres, setrikaan beres, semua beres. Paling tinggal masak sambil nyiapin bekal makan siang suami. BERES DEH..sambil kibas-kibas tangan. 

Eh baru tau ternyata ceritaku tadi bukan TAMAT tapi BERSAMBUNG. Baru waktu melahirkan Aisyah (anak kedua), ART tiba-tiba mendadak resign. Kelewatan banget nih ART, keluar disaat waktu yang gak tepat. Disaat riweh-riwehnya ngurusin new born baby. Belum lagi Archy lagi proses toilet training ngompol sana-sini. Ditambah pula dia lagi cemburu-cemburunya punya adek. Nangis sampe tantrum. Cucian menggunung, piring kotor berserakan, setrikaan udah kayak sayuran urap tinggal dicocol sambel sama krupuk. TIDAAAAAAKKKKKKKK...kamera mana kamera. Tolong di zoom muka saya yang merana ini. Sungguh menyedihkan sungguh..kalo seandainya anak-anak itu gak hobi niruin kelakuan ortunya, INGIN RASANYA AKU MENGUMPAT. Kalo dulu meski jadi SAHM tapi masih keluar ngajar sehari dua hari, itu berasa jadi ME TIME lah dari kepenatan urusan rumah tangga. Tapi setelah melahirkan anak kedua, aku putuskan buat cuti total karena anak masih bayi-bayi gak ada yang ngurusin. Entah sampai kapan. Berarti sekarang totally being SAHM. TOTALLY gaesss...TOTALLY. 

Mak,bun, mi...dari kepenatan mengurus rumah tangga itulah kita gak cuman merasakan kelelahan fisik, tapi juga kelehahan psikis. Setelah mulai bisa beradaptasi melakukan pekerjaan rumah tanpa ART, tiba-tiba aku mulai ngerasain rasa jenuh, bosan, tak berguna, ah entahlah. Perasaan mulai campur aduk sana sini. Ngelirik tetangga lagi siap-siap berangkat kerja, dan aku masih dasteran. Bau gumoh bayi campur bau telor gosong. Jilbab bergok dipakainya gak simeteris sama wajah karena suka ditarik-tarik sama anak. Mata cekung, tangan kasar. Pas tangan dicium, alhamdulillah masih wangi sabun cuci. BERSYUKUR

Tiba-tiba jadi kepikiran, kayaknya ada yang salah deh dari semua ini. Kayaknya aku yang salah tafsir menjalani kehidupan sebagai SAHM. Belum lagi, aku kok jadi gampang sakit-sakitan semenjak jadi SAHM. Ya migrain lah, magh kambuh, eh giliran diajakin suami jalan kok sembuh (alibi). Kalo caraku kayak gini, aku bakal menurunkan kualitas diri dan makin mencoreng stigma tentang SAHM. Dan yang terpenting adalah jadi SAHM harus ekstra sehat jasmani dan rohani. Karena kalo kita sakit, lumpuh sudah segala urusan rumah tangga. Akhirnya aku mulai evaluasi diri dan melakukan berbagai macam hal buat mantain my mental and physical health as a stay at home mother. Alhamdulillah sekarang udah semakin sehat dan bahagia lagi..yeaaaayyyy.

Dari pengalamanku menjadi SAHM dan upayaku untuk menjadi SAHM yang sehat dan produktif, aku ingin share beberapa tips menjadi SAHM yang sehat dan bahagia:

THINK and DO Positive Things
Salah satu upaya do positive thing: sharing parenting 

Menurutku, think negative itu adalah akar dari segala macam penyakit. Mulai dari penyakit fisik sampai penyakit hati. Jadi gimana caranya sebisa mungkin hidup kita itu dipenuhi oleh pikiran-pikiran positif. Kalo ngelamun pun ngelamunlah yang positif, jangan yang negatif. Entar ngeres pikiranya wkakaka. Apa aja sih yang bisa emak-emak lakukan buat THINK POSITVE?
Bersyukur. Bersyukur itu ternyata bisa mengalirkan energi yang membuat kita menjadi positif dalam segala hal. Dengan bersyukur kita jadi tahu bahwa Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita sehingga kita gak sempat lagi buat mengeluh bahkan berpikiran buruk. Kita bisa membuat jurnal syukur sebelum tidur tentang apa saja kejadian yang patut kita syukuri setiap hari. Misal bersyukur anak kita sehat, kita sehat. Dari pada kita tulis “hari ini rumah berantakan, anak rewel, cucian belum kering malah hujan” mending ganti dengan menulis “rumah berantakan, tapi alhamdulillah dengan itu anak jadi eksploratif, daya imajinasinya berkembang. Cucian belum kering, tapi alhamdulillah masih ada air buat nyuci”. 

Terus untuk DO POSITIVE THING yang bikin SAHM makin bangga dengan segala aktivitasnya apa aja donk?
Apa saja yang dilakukan dengan senang hati dan bermanfaat, syukur-syukur bisa menghasilkan uang. Misal nyobain menu masakan baru, berkebun, dekorasi rumah, apa aja lah yang bisa menginspirasi. Apalagi yang kita lakukan sejalan sama hobi kita. Misal suka nulis, terus bikin blog. Ikutan lomba blog. Eh dapet duit. Atau suka baking. Rajin nyobain resep baking. Share di sosmed, terima order. Dapet duit juga. Yang terpenting kita gak lalai sama tugas utama kita untuk mendampingi tumbuh kembang anak. Dan yang terpenting semua dilakukan dengan senang hati bukan karena keterpaksaan ya mom. Kalo bingung mau ngelakuin apa aja bisa loh tiap hari buat rencana kegiatan yang pengen kamu lakuin. Misal hari ini kamu mau belajar bikin nugget, selasa kamu pengen buat komposter sama anak, dan lain sebagainya.

JANGAN TERPAKU PADA TARGET URUSAN RUMAH
Rumah lagi rapi karena mood lg baik

Harapan Kita sih rumah bisa selalu kinclong setiap hari. Mulai dari urusan dapur, setrika, ngepel, nyapu, semua beres res res. Eh pas udah pasang target tiba-tiba anak rewel. Terus ditinggal dikit si mbak gangguin adek sampe nangis sesenggukan. Giliran udah anteng si dedek bayi minta nenen. Begitu seterusnya kayak urusan rumah tangganya viki prasetio. GAK KELAR-KELAR. Terus kita gemes keipikiran harusnya udah beres ini itu tapi badan udah capek mata sudah terkantuk-kantuk. Yaudah sih ngapain juga harus seNGOYO itu. Di kelas institut ibu profesional, kita selalu diajarkan untuk selalu menjaga kewarasan terutama bagi yang masih memiliki anak bayi macam saya. Turunkanlah standar dan berdamailah dengan diri untuk masalah urusan rumah tangga. Kalo gak sempet setrika baju anak, yaudah dilipet langsung aja abis dijemur kan bisa. Kalo gak sempet masak yaudah sesekali beli makan ya gapapa. Kalo gak sempet ngepel yaudah yang penting udah disapu. Gitu loh santai aja mak gaess, kita ini bukan mesin. Kita ini pentolanya negara jadi otak sama raga kudu sehat jangan terlalu diforsir. Apalagi yang gak punya ART macam saya. Bikin daily planning ya gapapa, cuman gak usah ditarget kudu dikerjain semuanya ya. Please love ur self ya mak, kamu begitu berharga bagi anak-anakmu dibandingkan terlalu lelah mengurusi urusan yang bisa dikerjakan di lain waktu.

MENJALIN PERGAULAN POSITIF


Ini kayaknya catetan penting buat SAHM. Terlebih yang punya tetangga yang hobi nyinyirin orang lain. Please jangan sampai kita masuk ke momzone mereka. Ada banyak cara buat kita bergaul sama tetangga. Misal kasih makanan berlebih, ngobrol sekedarnya, ikutan arisan, tanpa perlu nimbrung mereka ngomongin si A dan si B. Ini kayaknya udah jadi nasehat turun temurun dari orang tuaku soalnya heehe. La kalo semua tetangga kayak gitu gimana donk? Ya cari tetangga yang kurang lebih sepersepsi sama kita dalam hal mendidik anak misalnya. Atau yang punya hobi serupa dengan kita jadi bisa sharing satu sama lain. Asalkan dengan catatan bisa saling sharing hal-hal yang bermanfaat. 

Kalau susah dan gak ada sama sekali, ya ikutan komunitas. Kan banyak komunitas yang mewadahi para SAHM macam saya. Misalnya ikutan komunitas playdate buat ngisi kegiatan anak kita, komunitas Ibu profesional untuk belajar mendidik anak secara praktis, komunitas baking bagi yang suka masak, komunitas berkebun, komunitas home decor, dan lain sebagainya. Semua komunitas itu kan terjalin karena adanya kesamaan persepsi dalam suatu hal. Jadi selain menambah link pertemanan, pun kita juga mendapatkan hal baru dari sharing dan kegiatan yang dilakukan bersama. Tapi juga pintar milih-milih komunitas yang mana sesuai dengan kepribadian kamu. Contohnya dulu aku pernah tergabung dalam komunitas cewek-cewek sosialita. Banyak kegiatan yang kita lakukan bareng-bareng, tapi ternyata kompetisi dalam gaya hidup antar sesama anggota sangatlah tinggi. Misal pada pamer tas branded ini itu, sementara kita gak biasa dengan life style macam itu yang semuanya dipatok dengan ukuran brand. Yaudah cari komunitas lain aja, sebelum kita terjebak untuk memaksakan diri seperti mereka lalu ujung-ujungnya kita malah menghabmbur-hamburkan uang suami untuk hal yang bermanfaat.Intinya pegang aja pepatah ini” kalau kita bergaul sama penjual minyak wangi, amaka kita ikutan bau wangi. Tapi kalo kita bergaul dengan seorang pandai besi, maka kita kurang lebih sama dengan si tukang pandai besi itu”

MAKAN SEHAT DAN OLAHRAGA TERATUR

SAHM juga perlu olahraga paling tidak 5 sampai 10 menit. Lah kalo ngepel kan juga olahraga. Iya tapi ngepelmu dengan posisi membungkuk itu namanya bukan olahraga. Olahraga itu kan menggerakan anggota badan dengan cara yang baik dan benar, dan tentunya efeknya badan kita semakin sehat dan bugar. Kita juga bisa loh olahraga bareng anak bayi. Misal yoga bareng anak, sit up sambil anak mainan diatas kita, dan itu rasanya lebih fun dibandingin olahraga sendirian. Makan sehat juga perlu buat menjaga stamina tubuh SAHM. Bangun tidur jangan lupa minum yang hangat, kalo mau lebih sehat minum air perasan jeruk nipis dan madu bagus untuk stamina kita. Sayur dan buah juga penting, dan juga minum air mineral 8 gelas per hari okay

PEBANYAK BERDOA DAN MENINGKATKAN SPIRITUALITAS

Ini nah yang terpenting dari segala yang terpenting. Self healing terbaik itu yang mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi kalo lama-lama nifas sampe 60 hari, rasanya kok pengen banget cepet-cepet curhat dalam sujud-MU. Karena Allah jugalah yang mengatur semua kehidupan dan takdir kita. Mungkin saat ini aku disuruh cuti biar bisa banyak waktu membersamai anak-anak. Mungkin juga Allah bakal tetep meridhoi cita-citaku sebagai dosen kelak kalau anak-anak udah agak gedean dikit. Segala upaya atas kemungkinan itu aku jadikan mindset supaya lebih lapang dada menjadi seorang SAHM. So dont worry be happy. Allah knows waht is the best for you and when its best for you to have it.

Nah, semoga dari semua tips itu kita bisa jadi SAHM yang produktif dan sehat baik secara jasmani dan rohani. Please maintain ur health because you are precious and you are not allowed to be hurt mom💕

Tuesday, 27 November 2018

BARANG YANG SELALU ADA DI TAS PARA EMAK

Source: Pinterest
Semenjak jadi full time house wife alias banyakan kerja di rumah, aku sampe gak tau biasa bawa apa di tas hahaaa. Dulu waktu kuliah kerja sih yang jelas botol minum selalu ada. Kalo sekarang sih masih juga. Apalagi kalo bawa anak-anak, barang yang wajib dibawa itu buanyaaak banget. Ya diaper lah, baju ganti, tisyu basah, minyak telon, dan banyak lagi. Makanya emang paling enak kalo kemana-mana bawa ransel sih. Tapi kita coba aja ya, barang apa aja sih yang mostly selalu ada di dalam tasku.

1. Dompet.
Gak harus yang bentuknya kayak dompet bener sih, yang penting wadah buat tempat uang dan kartu yang dibutuhkan. Malah kalo dompet beneran, suka lupa bawanya. Sampai sekarang aja masih ketinggalan di dashboar mobil belum diambil-ambil juga. Padahal isinya ada KTP dan lain sebagainya. Pemalas hahaaa. 

2. Botol minum
Ini sih wajib banget. Sejauh ini aku gak pernah kelupaan bawa botol minum. Hemat bos! dan juga zerowaste gitu. Tapi kalo pengen yang dingin-dingin seperti Thai Tea favoritnya aku sih beli juga akhirnya hahaa. 

3. Make Up
Hidup tanpa make up bagiku rasanya hambarrrrr...Emang dasarnya suka dandan jadi ya kalo kelupaan bawa paniknya lumayan. Terutama lipstik. Secara bibir aku tu warnanya gak kayak gadis-gadis korea pink merona gitu. Jadi biar gak keliatan pucet lipstik emang ngebantu banget dalam segala hal. Beli sayur deket rumah aja diusahai pakai lipstik. Tapi lipstiku bukan yang warna menor lo yaaa..aku gak punya lipstik merah cetar seumur hidup. Aku punyanya lipstik warna nude yang sepadan sama kulit aku.

4. Handphone
Ah ini mah hampir  siapapun gak bakalan pernah dengan sengaja meninggalkan handphone saat berpergian. Kecuali kalo emang dia lagi self-healing menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia maya, hohoho. Sekarang mau pesen transportasi kita perlu handphone. Ketemuan sama temen perlu handphone. Nyari lokasi juga perlu handphone. Tapi pastikan dulu handphonya punya kuota internet ya hahaaa. Heran juga orang jaman dulu gak bawa handphone keluar rumah juga biasa aja. Ketemuan sama orang diluar gak perlu kontak pake handphone juga bisa. Rasanya manusia udah semakin abnormal ya. Ketinggalan handphone aja bagaikan kehilangan separuh jiwa. Uwouwoooo

5. Tisyu/sapu tangan
Karena sekarang mengupayakan minim sampah, jadi kadang-kadang tisyunya diganti pakai sapu tangan. Tapi itulah kadang-kadang masih sering lupa haha...Aku emang tipikal mudah berkeringat. Apalagi di bagian muka. Jadi kadang suka gatel atau risih kalo sudah keringetan. Biar makeupnya gak kehapus pas ngelap wajah, sapu tanganya cuman aku cocolin gitu kayak nyocol sambel hehehee

Nah, jadi kurang lebih ada 5 barang itu yang sering ada di tasku. Itu kalo gak bawa bayi lo ya. Kalo bawa bayi insyaallah bawaanya lengkap dan jarang kelupaan. Oiya, karena sekarang juga sedang belajar zerowaste lifestyle, aku juga sering bawa reusable bag supaya kalo mau jajan atau belanja gak usah minta kantong plastik. Alhamdulillah udah lumayan konsisten selama 4 bulan ini. Harapan aku selanjutnya kalo udah beli sedotan stainless insyaallah bakal jadi barang wajib di tas juga sama wadah makan. Jaga-jaga kalo laper kepengen jajan hehehee
#bpn30daychallenge
#bloggerperempuan

Monday, 26 November 2018

5 FAKTA TENTANG SAYA (SETELAH MENJADI IBU)


Ada beberapa fakta yang banyak orang tidak tahu semenjak saya menjadi seorang ibu. Ya kan ya kan? Kalau ada orang yang sudah lama mengenal saya, pasti udah tahu kalo Aya itu orangnya konyol, aneh, suka ngelucu, suka ngelanggar aturan sekolah, jadi modal madul alias model fashion dadakan, terus apalagi ya...masih banyak lagi deh. Terus kira-kira setelah jadi ibu masih gak ya?? yuk diintip satu-satu 5 fakta tentang saya semenjak jadi Ibu

1.     1.   Stay Konyol di Depan Anak
Kalau orang baru kenal saya, pasti dia bilang saya orangnya kalem, bijak, adem, anteng, dan sejenisnya. Terus kalau orang lama kenal saya terus lama gak ketemu, liat saya cuman di dunia maya, mungkin dipikirnya “wih osoy udah dewasa ya sekarang gak kayak di pondok dulu..ghorib dan konyol hahaha”. Nah sebenarnya masih gak sih? jawabanya....MASIHHH hahaha, cuman mulai sedikit berkurang di depan khalayak umum. Paling-paling konyolnya depan anak suami.
Saya yang pernah menyandang predikat queen drama ini pun juga masih suka ngedrama sama anak suami. Masih suka lebay. Ditinggal Archy ke tempat neneknya, nangis lebay. Ngesot-ngesot, sampai Archy nge cup cup saya “Iya mama sayang cup cup ya..” kata archy sambil ngelus-ngelus kepala. Padahal gue cuman acting aja kaleee hahaha..Atau suka joged-joged dan nyanyi gak jelas sama anak, serta kekonyolan lainya yang masih bertahan.

2.     2.   Masih jadi Anak Ibu
Meski jadi ibu, ya saya masih jadi anak ibu lah hahaa. Maksudnya saya masih suka nangis gara-gara kangen sama ibu, curhat lama-lama sama ibu, bahkan kadang kangen pengen bobok dikelonin sama ibu. Apalagi kalau ibu ditelpon eh seringnya pas lagi ada acara organisasi, atau lagi renang, lagi jalan-jalan sama cucu yang di rumah, aghhhhhhhhhhhhhhh envy total. Buk muleeeeeh...sebel deh renang gak ajak-ajak. Secara di jawa mah mau kemana-mana deket, wisata banyak, murah meriah lagi. Kalo di Palembang ya, ujung-ujungnya ke mall. Males kan ya hahahaa...disyukuri. Bersyukur banget doonkk :D

3.     3.   Suka ngebolang bertiga sama bayi-bayi
Karena pada dasarnya saya itu bukan tipe anak rumahan. Terus sekarang jadi ibu rumah tangga karena cuti lama dulu buat ngajar. Kadang bosen di rumah. Liat Archy di rumah aja juga kepikiran, ni anak bosen gak sih. Kayaknya bosen deh. Halah padahal emaknya lah yang bosenan wkawkwkwk..makanya sejak Aisyah belum lahir, kadang saya sama Archy cuman jalan-jalan berdua pas papanya lagi di kantor. Entah cuman ke indomaret, playdate sama temen, beli sayur, jalan-jalan sore, ya pokoknya keluar gitu. Sekarang pas Aisyah dah lahir, belum dibolehin keluar bertiga ke tempat publik. Tapi kalo ke rumah temen boleh hehe. Jadi kadang kalo dah bosen ijin ke temen buat maen k rumahnya. Temen ampe heran, ni emak anak masih bayi 2 bulan super bener diajak kemana-mana. Hahaha bawaan dari orok kali ya, pas aisyah di perut udah sering bolak balik jawa palembang, ke bali, lombok, sumbawa, ya...pantes kan dia enjoy aja gak rewel aku ajakin maen hehehe.

4.       4. Suka nampung air AC dan air ujan buat nyuci baju
Buahahaaa...kata temen kalo di luar tampang seger, kayak gak ada beban di rumah. Padahal di rumah saya air Pam ngalirnya seminggu sekali ebuseettt daaah..makanya rajin bener memanfaatkan air AC sama air ujan. Tenang gak usah miris, kami punya penampungan gede kok. 3000 liter boookk...tapi buat jaga-jaga apa salahnya kan ya nampung air AC dan hujan. Alhamdulillah muka tetep cling...(ketutup dempul sama gincu wkwkwk)

5.     5.   Gak Bisa Diem
Ah ini mah udah pada tau kalik hehehee. Ya intinya sekarang tambah gak bisa diem. Cuti ngajar, cari kerjaan lain buat ngisi waktu luang. Eh waktu luang? ngurus 2 bayi tanpa ART cucian cumpuk setrika kayak gunung, belum nyiapin bekel suami kok masih punya waktu luang. Masih..ME TIME gueeee...stress lama-lama kalo cuman mikir masalah cucian setrikaan yang udah disuntik KB tetep aja beranak pinak. Hahaaa..jadi makanya sekarang lebih rajin ngeblog, atau kumpul-kumpul lah. Biasa dari oroknya emang udah jadi bayi sosialita. Makanya pas udah jadi ibu-ibu tetep aja sosialita maju terus
Begitulah 5 fakta tentang saya setelah jadi ibu. Ada yang kaget? atau biasa aja? Ya sudah..yang penting abis nulis rasanya plong...Maklum me time me time hahaa..okey bayik udah nangis..babayyyyy



 #bpn30daychallenge
#bloggerperempuan
#blogger
#bloggingchallenge

MEDIA SOSIAL DAN EMAK-EMAK MILENIAL


Bagi saya, media sosial bagaikan mata pisau. Jika dimanfaatkan dengan baik maka dapat membantu kebutuhan kita, namun jika disalahgunakan akan berbahaya dan dampaknya tidak main-main. Sebagai seorang emak-emak melenial, fakta menunjukan bahwa mayoritas ibu muda selalu mengandalkan internet dalam berbagai hal. Misal cari tahu penyebab anak sakit, mencari referensi MPASI, sampai beli diaper semua dapat dilakukan melalui internet. Namun bagi para ibu-ibu yang memanfaatkanya untuk mencari suatu informasi, hati-hati dengan bahaya tsunami informasi.

Sekarang ini banyak para ibu muda yang menjelma menjadi selebgram karena beberapa hal. Ada yang karena anaknya menggemaskan, pintar, atau informasi yang ia bagikan di sosial media membantu para ibu-ibu untuk mendapatkan hal yang sedang ia butuhkan informasinya. Namun tidak semua informasi yang di share oleh si ibu selebgram itu harus selalu kita percayai seratus persesn loh. Kenapa? karena belum tentu ia menyampaikan hal sesuai dengan fakta yang ada atau hasil penelitian terkini. Apalagi jika hanya dimanfaatkan oleh produk tertentu sebagai endorsment. Misalnya si ibu selebgram itu mereview salah satu produk minyak ikan yang harganya super mehong. Dia bilang minyak ikan itu sangat penting buat kecerdasan anak, bahakn sebisa mungkin kita bisa mengupayakan buat ngasih minyak ikan ke si anak. Apakah memang betul begitu? Apa betul jika anak yang tidak minum minyak ikan kecerdasanya akan kalah jauh dengan si anak yang diberi minyak ikan? Thats why kita perlu kroscek terlebih dahulu sebelum mengamini segala bentuk informasi yang kita dapat. Belum lagi ketika seorang artis beken memviralkan metode MPASI kekinian dimana anak sejak usia 6 bulan sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuapin orang lain (spoon feeding). Ternyata eh ternyata sekarang metode tersebut tidak direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) loh, karena rentan terhadap stunting dan anak usia  6 bulan belum siap kemampuan oromotorik untuk bisa makan sendiri.

Then, sebagai seorang ibu kita harus cerdas memanfaatkan sosial media ya mak. Harus banyak-banyak belajar dan memilah-milah mana informasi yang kebenaranya dapat dipertanggung jawabkan. Seperti apa sih informasi yang bisa dipertanggung jawabkan? Salah satunya informasi yang berasal dari jurnal ber –EBM. Kenapa harus jurnal? Karena informasi dalam jurnal dibuktikan dengan bukti-bukti ilmiah dengan metode ilmiah dan tentunya tidak subjektif. Kalo si emak selebgram itu bilang menurut pengalaman si ini, si itu. Itu tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena bisa jadi hanya spekulasi, sedangkan dalam penelitian itu ada pengukuran, alat penelitian, subjek penelitian yang baru setelah itu hasilnya ditarik menjadi suatu kesimpulan. Prosesnya tersusun secara sistematis, bukan ditarik dari kata si ini dan si itu.

Jika satu persatu para emak-emak sudah bisa bijak memanfaatkan media sosial, maka satu persatupun mereka menyelamatkan generasi bangsa. La kok bisa? Ya bisa. Ibu kan tiang negara. Ibu yang membangun peradaban karena dari tangan merekalah lahir generasi bangsa yang handal dan hebat. Jadi merekapun bisa membangun budaya yang baik dalam keluarganya mengenai cara bijak bermedia sosial. Nah kalo emaknya sukanya ngegalau di sosmed, lah anaknya juga suka ikutan curhat galau gak jelas di sosmed. Tapi kalo emaknya bisa memanfaatkan sosmed sebagai ladang dakwah, bisnis, dan kegiatan bermanfaat lain maka anaknya pun tidak jauh-jauh dari emaknya. Nah seperti itulah gambaran saya mengenai sosial media untuk para ibu milenial masa kini.
#BPN30DAYCHALLENGE2018
#BLOGGERPEREMPUAN
#bpnnetwork
#bloggingchallenge

Sunday, 25 November 2018

BERGABUNG DI BLOGGER PEREMPUAN NETWORK: BPN 30 DAY CHALLENGE

source:pinterest

Sesungguhnya saya baru tergabung dalam network blogger perempuan seminggu yang lalu. Saya dapatkan informasi blogger perempuan dari teman yang pernah mengutarakan keinginanya untuk serius menjadi seorang blogger.

Menjadi seorang blogger adalah keinginan saya sejak dulu yang begitu sulitnya untuk saya realisasikan. Kenapa? Entah..saya malas mencari tahu dan bingung harus memulai dari mana. Mungkin juga karena saya belum berfokus untuk menjadikan blogger sebagai profesi dan memprioritaskan dosen sebagai profesi yang saya cita-citakan selama ini. Namun, karena saat ini saya masih mengurus anak-anak di rumah sehingga membuat saya belum bisa bekerja di ranah publik. Dari situlah saya mulai berfikir untuk menjadi seorang blogger.

Ibu saya sering mengatakan pada saya, walau bagaimanapun istri itu harus mandiri secara finansial. Meskipun yang diperoleh tidak seberapa tapi kita harus tetap mandiri. Dari situ saya mulai berfikir untuk memulai bisnis. Tapi saya bukan tipikal orang yang gampang ikut-ikutan jual ini itu dengan mudahnya. Saya pengenya menjual barang yang sesuai dengan minat saya. Saya coba cari kira-kira apa bisnis yang cocok buat saya. Eh la kok pasti kembalinya ke menulis bukan bisnis. Kira-kira bisa nggak ya mengais rejeki lewat menulis? Ternyata bisa.

Saya punya tante yang sudah beberapa tahun resign dari tempat kerjanya. Awalnya saya tidak tahu mengapa, padahal anak-anaknya sudah pada remaja. Terus kenapa ya beliau memutuskan untuk resign. Ternyata saya baru tahu kalau tante saya itu seorang blogger. Dia mereview berbagai referensi hotel, kuliner, objek wisata, dan lain sebagainya. Dari review di blog beliau itulah beliau bisa mendapatkan penghasilan yang lebih dari pekerjaanya dulu. Dari situ saya mulai terinspirasi untuk menjadi seorang blogger.

Semakin lama menulis di blog, saya masih belum menemukan bagaimana caranya supaya blog saya bisa memberikan penghasilan. Lama kelamaan saya baru sadar ternyata bukan blog-nya lah yang memberikan penghasilan, tapi tulisan kita di blog itu yang membantu kita untuk menghasilkan sesuatu. Dari situ saya berfikir untuk memperluas link saya bersama komunitas blogger supaya saya dapat banyak ilmu bagaimana mengelola blog dan tulisan saya dapat dibaca oleh ribuan pembaca.

Salah satu upaya untuk membangun link itulah saya mulai dengan mengikuti blogger perempuan network. Tergabung dalam blogger perempuan saya semakin memahami bahwa perempuan itu sejatinya memiliki power dan potensi luar biasa yang dimiliki. Apabila potensi itu dapat dikelola dengan baik, maka akan menghasilkan perempuan-perempuan hebat yang mampu membangun bangsa. Sayapun ingin tergabung seperti mereka agar lebih kokoh dalam menggapai cita-cita bersama. Melejitkan potensi yang dimiliki bersama blogger perempuan lain yang menginspirasi. Blogger perempuan menjadi inspirasi dan harapan bagi ribuan wanita di Indonesia dan saya berharap menjadi bagian dari bogger perempuan yang menginspirasi dan berkarya untuk negeri.  

#bpn30daychallenge2018 #bloggeperempuan #bpnnetwork #blogger #bloggingchallenge #blogging

Saturday, 24 November 2018

KENAPA MENULIS BLOG : BPN 30 DAY BLOG CHALLENGE

Menulis merupakan aktivitas yang paling sering saya lakukan sejak SD. Saya sudah menulis puluhan diary sejak kelas 5 SD hingga kuliah. Semua isinya tentang kegalauan hidup, percintaan yang tak pasti, drama persahabatan, dan hanya satu tulisan saja yang memuat tentang pengalaman saya saat mudik ke Sumbawa, NTB. Setdah…begitu merananya kehidupan saya disaat remaja. Ya, memang kenyataanya dengan menulislah saya dapat melampiaskan segala ungkapan isi hati saya tanpa ada yang bisa mengkritisi.

Seiring berkembangnya kemajuan teknologi internet, saya mulai mencoba untuk menuangkan tulisan saya ke dalam blog. Lalu, apakah tulisan-tulisan yang akan saya tulis kembali seputar tentang kegalauan hidup? Ternyata tidak. Saat itu saya mulai menulis di blog sebagai wujud aktualisasi diri saya menjadi seorang remaja yang memiliki banyak potensi (ceile….).

Semakin bertambahnya usia, saya semakin menyadari bahwa menulis bukan hanya sekedar wujud dari aktualisasi diri saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Hal itu saya sadari ketika saya menuliskan tentang pengalaman hidup saya, dan bagaimana cara saya memotivasi diri dari keterpurukan. Rupanya tulisan-tulisan itu direspon baik oleh banyak orang. Tidak sedikit yang me-reshare. Owh jadi selain menulis merupakan passion saya, tapi saya juga memiliki potensi untuk memberikan pengaruh positif bagi orang lain.

Terlebih saat menjadi ibu. Banyak hal dan pengalaman yang ingin saya tuliskan di blog. Pengalaman menjadi seorang ibu, mendidik anak, mengelola rumah tangga mulai dari aspek finansial, organizing, zerowaste living, semua pengalaman tersebut diperoleh saat saya berperan menjadi seorang ibu. Lalu mengapa dengan sejumlah pengalaman yang bermanfaat itu tidak saya tulis saja di blog?

Mungkin di benak orang lain, ada yang menganggap bahwa tulisan saya cuman ingin dianggap keren, pamer, merasa menguasai ilmu di bidangnya, merasa sok bermanfaat. Bagi saya menulis bukan semata untuk mendapatkan pujian. Sayapun tidak menjadikan “tulisan saya dibilang inspiratif” sebagai goal saya dalam menulis. Namun, menulis di blog merupakan wadah saya untuk menuangkan hal-hal yang dapat menghasilkan energy-energi positif dalam diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, menulis hal-hal positif di blog itu memancarkan kebahagiaan dibandingkan menulis hal-hal negatif yang akan dibaca banyak orang kemudian menghasilkan aura negatif dalam diri. Jadi, sudah tau kanapa alasan saya menulis di blog?

All good writing is swimming under water and holding hour breath ( F.Scott Fitzgerald)
#bpn30daychallenge2018 #bloggeperempuan 
#bpnnetwork 
#blogger 
#bloggingchallenge 
#blogging

Friday, 14 September 2018

DOA IBU


Masih ingatkah saat semalam Archy merengek minta nenen Dan aku menolaknya, keesokan paginya ia benar-benar tidak terbangun semalaman Dan tidur dengan nyenyak. Namun lagi-lagi aku sendirilah yang sering mengalami kegalauan. Aku takut seolah ia marah Dan Tak mau tidur lagi dipelukanku.

Sesaat sebelum aku bangun untuk melaksanakan salat subuh, ia terbangun sebentar membuka matanya lalu melihatku kemudian tertidur kembali. Pikirku Archy akan mendekatiku tidur di lengan tanganku seperti setiap malam ia lakukan saat terbangun. Ah, kenapa semudah ini hati ibu merasa tersakiti.Hanya karena melihat anaknya sudah mulai belajar mandiri untuk tidak Selalu tidur dipelukanya lagi.

Usai melaksanakan salat subuh, aku segera melaksanakan rutinitas pagi yaitu mencuci pakaian Dan memasak. Kebetulan Hari ini adalah jadwalku mengajar. Jadi semua harus beres lebih awal. Ditemani oleh suami tercinta kami bertugas menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal supaya kami tidak terlambat berangkat pagi.

Saat aku menggoreng ikan, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan Archy ke dapur. Ia bangun sambil tersenyum. Biasanya kalau dia rewel semalam, pasti keesokan paginya dia terbangun menangis. Namun ini tidak. Kusambutnya dengan pelukan hangat sambil menciumnya berulang Kali.

"Masyaallah anak mama udah bangun sendiri ya...kebangun ya sayang. Mama lagi masak nih..masak ikan kesukaan archy.." ujarku begitu riang. Ia tersenyum sambil bergelayut manja di pelukanku.

"Hari ini mama ke Kam...pus. Papa ke kan...too. Archy ntar ngaji sama nenek ya" lanjutku diikuti oleh anggukan kepalanya.
Setelah selesai, kamipun bersiap pergi. Archy sudah pergi dulu diantar papanya ke rumah nenek. Setelah pulang mengajar, kujemputnya di rumah nenek. Ia datang melihatku dengan riang. "Mamaaaaa..Archy dah mam..blabalabla" lanjutnya bercerita meski setengah lancar dengan campuran babling anak kecil.

Alhamdulillah, dugaanku Archy akan rewel seharian karena ia merengek tidak diberikan nenen rupanya salah. Padahal aku Tak banyak menjelaskan seperti biasanya kenapa ia Tak banyak nenen. Aku hanya banyak-banyak memeluknya saat ia bersikeras agar permintaanya dipenuhi. Dan aku tetap memeluknya Dan berkata lirih,

"Maaf ya sayang..nenen mama udah mulai sering sakit..maaf nak" 
Lalu kemudian kelanjutkan dengan untaian doa hingga aku turut terlelap.

Rupanya komunikasi non verbalpun mampu merepresentasikan komunikasi produktif dengan anak. Ketulusan Dan rasa cinta yang Tak terbendung melalui kekuatan doa mampu menyampaikan pesan pesan yang ingin Kita sampaikan ke anak. Begitu bersyukurnya aku atas nikmat Allah yang begitu besar ini. Sungguh kekuasaan Allah tidak akan pernah tertandingi. Doa-doa malam yang Kita tiupkan Dari ubun-ubun hingga ujung kaki saat anak tertidur, rupanya lebih mampu menyampaikan hal-hal yang selama ini belum dimaklumi oleh si anak. Doa doa itupun yang menjadikan penguat ikatan cinta ibu Dan sang buah hati. Begitu besarnya kekuasaan mu ya Rabb



#harikedelapan13sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Thursday, 13 September 2018

Bersahabat dengan Sabar


Rasanya kepalaku seperti menguap, dadaku menyesak, Gigi gerahamku bergemuruh ketika merasakan suasana hati yang Tak pasti. Perasaan yang diliputi oleh ketidak stabilan emosi. Entah mengapa terkadang aku Tak bisa menahan diri untuk meluapkan emosi. Akupun Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang aku mampu bersabar ketika menghadapi kerewelan Archy, terkadang juga aku merasa Tak kuasa menahan kemarahan yang terkendali.

Archy anaku yang begitu pintar itu meraung raung minta nenen. Kondisiku yang semakin sering merasakan kontraksi palsu terpaksa harus memintanya untuk berhenti nenen. Sejujurnya aku diliputi perasaan bersalah. Mengapa aku memutuskan tt dahulu baru menyapihnya. Padahal sebentar lagi ia punya adik. Dan ia harus segera lepas Dari nenen. Tapi ini hasil keputusanku, hasil pertimbanganku setelah berdiskusi dengan suami untuk menyelesaikan tt terlebih dahulu baru menyapihnya. Sungguh rasanya campur aduk.

Sejujurnya aku sudah mulai mensounding Archy untuk berhenti nenen sejak usia 1 setengah tahun. Setiap malam Kita bacakan buku tentang naura si anak yang berani tidur sendiri Dan tidak nenen lagi. Namun sounding stop nenen Kita berhentikan terlebih dahulu karena Kita ingin menyelesaikan proses TT Archy. Mungkin rasanya ia memberontak karena belum siap akan keduanya. Ah apalah aku ini, faham teori tapi praktiknya susah untuk menjalani. Dan kini Allah menguji atas tanggung jawabku mendidik Archy. Ya rabb..maafkan hamba yang jauh Dari kata sempurna ini.

Malam ini aku Tak banyak bercerita dengan Archy. Kini ia sudah terlelap tidur setelah kurang lebih 10 menit meraung raung minta nenen namun tidak aku berikan.

"Sabar ya nak..nenen mama sakit..maafin mama ya sayang.." ucapku sambil menelan ludah karena begitu pahit melihatnya menangis tersedu.

Kulantunkan doa di ubun ubun kepalanya bacaan alfatihah, Annas, Al ikhlas, Dan Al falaq. Serta lantunan doa solawat sebagai penenang jiwanya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai saat mulai tertidur pulas. Kuucapkan lantunan istighfar dengan lirih menyesali kesalahan-kesalahanku selama ini. 

Nak, begitu bersyukurnya mama atas karunia Allah menghadirkanmu di kehidupan mama. Allah berikan banyak hikmah kehidupan melalui kehadiranmu selama ini. Kau ajarkan mama bersahabat dengan sabar lalu merangkulnya supaya amarahku terkendali. Kau ajarkan keikhlasan untuk selalu bermuhasabah diri. Maafkan mama yang masih jauh Dari kata sempurna ini. Semoga kelak mama mampu membesarkanmu menjadi anak solehah yang bermanfaat bagi seluruh umat. Ya rabb, ijinkan hamba untuk Selalu hadir dalam kehidupanya hingga ia beranjak dewasa. Berikan kami kesempatan untuk Selalu memperbaiki diri menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Solehahkan kami..istiqomahkan kami untuk senantiasa belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Amiin..


#hariketujuh12sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tuesday, 11 September 2018

Mengajarkan Sense of Belonging pada Anak


Sore ini aku mengajak Archy berkeliling komplek. Usia kehamilanku yang mendekati Hari prediksi lahir membuatku lebih rajin betolahraga, terutama berjalan kaki keliling komplek. Saat berkeliling, Archy bertemu dengan teman seusianya sedang bermain tembak-tembakan. Kemudian Archy ingin sekali ikut bergabung dengan sekumpulan anak-anak yang semuanya adalah laki-laki. 

Kemudian pada blok selanjutnya, Archy bertemu anak-anak yang sedang bermain sepeda. Salah satunya adalah teman Archy saat ikut nenek mengaji di TPA. Didekatinya oleh Archy lalu Archy memainkan bell yang ada di sepeda tersebut. Kebetulan ibu si anak yang juga ada disana menawarkan untuk sepeda anaknya dipinjamkan Archy. Awalnya saya menolak karena Archy hanya tertarik dengan bellnya saja. Namun lama kelamaan Archy jg ingin naek sepedanya.

"Archy ini punya kak akhtar nak..Archy kan punya sepeda sendiri di rumah"
"Udah biar gak papa tante, nanti nangis kalo dilarang" ujar ibu akhtar senantiasa menawarkan.
"Yasudah bentar saja ya Archy..soalnya ini sepedanya kak akhtar ya.."
"Iya ma.."

Namun lama kelamaan Archy tidak mau turun Dari sepeda tersebut sementara Akhtar sudah ingin memainkanya lagi. 
Saya bujuk Archy supaya lekas turun namun ia bersikeras tidak mau.

"Archy turun nak itu kak akhtar mau pake sepedanya.."
"Ndak mau..." Teriak Archy lantang.

Berhubung waktu juga semakin sore Dan mendekati maghrib, bujukan saya tetap saja tidak mempan, akhirnya saya memutuskan untuk menggendong Archy turun Dari sepeda.

"Archy, ini sepeda punya kak Akhtar mau diambil. Archy pulang dlu ya bentar lagi maghrib.."

Bismillahirrahmanirrahin kuangkatnya Dari sepeda Dan dia reflek menjerit minta turun. Sampai rumah ia tetap menangis minta kembali ke tempat bermain tadi.

Saya coba mengalihkan perhatianya dengan mengajak Archy bermain ke rumah nenek. Kebetulan om Archy sudah pulang Dari kampus sehingga Archy langsung tenang karena bermain dengan om raihan.
Usai salat maghrib, akhirnya saya ajak Archy pulang k rumah Dan kebetulan papa Archy baru saja pulang Dari kantor. Saya ceritakan kejadian tadi sore pada suami. 

"Pa, tadi Archy gak mau pulang karena masih mau pinjem sepedanya kakak akhtar. Padahal kakak akhtar mau ambil sepedanya..itu gimana pa? "
"Itu berarti Archy harus kasih sepedanya. Kan bukan punya Archy, sepeda Archy Mana? " Tanya papa ke Archy
" Itu peda.." kata Archy sambil menunjuk sepedanya di belakang
" Nah itu pinter...Archy kan punya sepeda sendiri, jadi kasian kalo masih pinjem ke kak akhtar, kan kak akhtar pengen maen juga..besok Archy bawa sepedanya sendiri ya nak..jangan pake punya kak Akhtar lagi'
Ujarku sambil menatap matanya
"Iya..." Ujarnya lirih

Anak usia 2 tahun memang masih memiliki ego yang tinggi dalam Hal kepemilikan. Jadi memang wajar jika superego nya belum banyak untuk bisa dikendalikan. Mengajarkan sense of belonging pada anak mengenai kepemilikan memang perlu, Dan komunikasi produktif lah yang mampu menyampaikan nya Dan perlahan lahan dapat diterima oleh anak.

Jika anak tidak ingin mainanya dipinjam, maka sebaiknya ia tidak menunjukan mainanya ke temanya. Dan ia belajar memutuskan Mana saja mainan yang bisa dipinjamkan Dan Mana yang tidak. Saat anak memainkan mainan orang lain, Kita perlu tegas jika itu adalah bukan barang miliknya Dan harus dikembalikan. Anak perlu Tau Mana yang menjadi miliknya Dan Mana yang tidak. Memang tidak mudah namun jika berupaya mengkomunikasikan dengan anak, saya yakin suatu saat nanti ia mulai membiasakan diri untuk tidak merebut mainan orang lain Dan dia belajar merawat Dan menjaga apa yang dia miliki.


#harikeenam11sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Monday, 10 September 2018

KHILAF

Saat adzan subuh berkumandang, saya  terbangun dan ingin segera bangkit dari kasur. Namun mata yang masih terasa berat rupanya memaksaku untuk tetap terlelap. Kupandangi Archy yang tidur disampingku agar mataku tetap terjaga. Rupanya dia ikut terbangun dan mau minta nenen. Ya, Archy saat ini sudah berusia 2 tahun lebih 1 bulan. Namun aku belum menyapihnya. Pertimbanganku yang ingin menyelesaikan proses toilet trainingnya, membuatku memutuskan untuk menunda terlebih dahulu proses menyapih sampai ia lulus TT terlebih dahulu. Dan pertimbangan saya, saya tidak mungkin men sounding Archy untuk melepaskan dua hal sekaligus. Itu akan membuatnya merasa terbebani secara psikis. Jadi saya setelah usia TT, saya harus menikmati proses menyapih  dibandingkan terfokus pada hasil yang meyebabkan saya menjadi terpaku pada waktu sehingga mengabaikan proses yang ada.




Ketika saya meneneni Archy pagi itu, saya tiba-tiba merasa kesakitan karena ia menggigit PD saya cukup keras. Disisi lain, usia kehamilan saya yang sudah sampai pada minggu ke 38, membuat saya merasa kontraksi ketika Archy minta nenen dengan saya.

“Archy, sakit nak! Nenen mama sakit!” ujar saya reflek dengan nada suara meninggi. Kemudian saya tutup dan tidak memberikan kepadanya lagi. Ia kemudian menangis histeris dan masih ingin meminta nenen dengan saya. Saya yang masih merasa kesakitan tetap enggan untuk memberikanya lagi. Seketika ia langsung menjauhi saya dan bersandar pada tangan papanya yang tidur disebelah Archy. 

“Nah, gitu donk. Archy kalo bobok minta dikelonin papa. Masak dikelonin mama terus..”ujar papa senang. Archy memang selama ini lebih sering tidur sambil memeluk saya hingga terkadang saya tidak kebagian tempat tidur lagi hehe..
Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali mendekati saya lagi.

“Loh, kok balik lagi…sini papa kelonin aja..”
“Ndak mau…”

Kata archy sambil memeluk saya erat. Saya kemudian tersenyum memandangnya.

“Nah, papa kan yang tiap malem bikinin Archy susu nak…kan bisa bobok sama papa..”
“Iya masak papa cuman jadi pelarian..hahaha” ujar papa diikuti oleh gelak tawa dari kami.

Tapi saya cukup lega karena saat saya mengungkapkan perasaan saya dan menolak permintaan Archy, ia berusaha untuk tidak memintanya lagi. Dan terkadang dia memahami, “nenen mama sakit..”,

“Iya sakit..Archy juga harus belajar gak nenen lagi ya nak..kan bentar lagi punya adek..jadi belajar berbagi sama adek..kan archy udah 2 tahun nenen, jadi nanti gentian nenenya buat adek ya nak. Biar adek cepet besar, kan Archy sayang sama adek..”ujar saya menjelaskan.

Alhamdulillah, tantangan 10 hari berkomunikasi produktif ini, secara tidak langsung selalu menegur saya untuk selalu mengevaluasi perbuatan saya yang salah dalam berkomunikasi dengan anak. Contohnya seperti kejadian diatas, saya masih suka reflek memakai nada tinggi, tidak mampu mengontrol emosi saat berbicara dengan anak, bahkan terkadang saya membentaknya jika saya merasa kesal. Kemudian saya mulai tersadar bahwa perbuatan tersebut salah. Lalu saya kembali mengulang perkataan dengan nada lembut dan penuh cinta.

Menjadi orang tua merupakan tantangan terbesar untuk konsisten dalam berperilaku dan berkata dengan baik karena anak adalah peniru ulung yang begitu cepat megimitasi apa yang kita lakukan. Saya sering merasa sedih jika saya sudah terlanjur marah dengan Archy. Namun apa gunanya jika terus berlarut dalam kesedihan. Yang terpenting adalah kita harus selalu sadar akan kesalahan yang diperbuat dan berupaya untuk mengintropeksi kesalahan kita.

Terimakasih nak, sudah menjadi ladang ibadah bagi kami dan tempat belajar yang banyak memberikan hikmah kepada kami. Kami belajar untuk menjadi teladan yang baik, berupaya meredam perilaku negative yang kadang muncul dari inner child kita. Semoga Allah senantiasa memberikanmu kesehatan, umur panjang, keselamatan, agar kami dapat terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan senantiasa menjagamu sebagai amanah yang Allah titipkan kepada kami amiiinn….
#harikelima10sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



Sunday, 9 September 2018

KATA "JANGAN" DALAM BERKOMUNIKASI PRODUKTIF DENGAN ANAK

Agenda kami hari minggu ini adalah kondangan ke pernikahan teman. Setelah selesai membersihkan rumah, saya segera membungkus bingkisan untuk dibawa sebagai kado pernikahan nanti. Saya siapkan isolasi, gunting, dan kertas kado di depan TV. Kemudian saya mengambil bingkisan yang akan dijadikan kado di lemari. Sesaat saya kembali, rupanya Archy sudah memainkan gunting saya. Meski reflek, saya berupaya menenangkan diri supaya Archy tidak kaget ketika saya tegur.

“Archy, kasih guntingnya ke mama nak. Mama mau bungkus kado buat tante ning…”
“Siapa cy? Tante…?”
“Ning…”
“Iya pinter….jangan mainan gunting ya nak. Gunting itu berbaha..yaaa. Nah itu pinter, archy tau kalo gunting bisa berbahaya ya….”

Saat Archy memegang barang berbahaya, atau melakukan tindakan berbahaya, seperti memasukan sesuatu ke dalam mulut, sejujurnya rasa reflek untuk melarang itu pasti ada. Kata dosen saya dulu, dalam bagian otak terdapat system saraf yang dinamakan prefrontal korteks (PFC). PFC berfungsi sebagai executive function yaitu seperti memberi keputusan. Keputusan tersebut bisa saja terjadi secara reflek ketika kita merasa dalam kondisi terancam. Maka tidak dipungkiri jika saya masih sering melontarkan kata jangan terutama pada situasi yang membahayakan bagi anak.





Bagi saya, kata jangan masih bisa ditolerir untuk dijadikan sebagai komunikasi produktif pada anak. Asalkan kita mampu menyampaikan pesan alasan kita melarang pada suatu hal, dan tentunya dengan intonasi suara rendah dan emosi yang tidak meluap-luap. Misal ketika Archy mendekat ke saya dan sangat dekat dengan api kompor saat saya memasak. Saya reflek mengatakan “Archy jangan dekat-dekat nak..api berbahaya”. Kemudian saat menjauhkan dari Archy saya menatap matanya dan mengatakan lagi, “Nak, kenapa Archy gak boleh deket-deket api? Karena api itu berbaha…yaaa” ujar saya menasehati.

Pernah saat seminar psikologi Islam di kampus saya dulu, saya menanyakan suatu pertanyaan yang saat itu membuat saya begitu penasaran. Kebetulan pembicara seminar saat itu adalah para dosen dari IIUM Malaysia, sebuah kampus di Malaysia yang pertama kali mendirikan dan mengikprahkan jurusan psikologi Islam. Saya tanyakan pada mereka, seringkali dalam ilmu parenting orang tua hendaklah menghindari kata jangan saat melarang anak. Sebisa mungkin kita ganti dengan kalimat yang lain. Namun, kita amati banyak dalil-dalil dalam Al-Qur`an yang menggunakan kata jangan atau Laa untuk memberikan peringkatan pada hambanya. Seperti contohnya la tqrabuz zina, la tamsyi fil ardhi marahan, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Jawabanya dari salah satu pembicara tersebut adalah  pada dasarnya manusia memiliki karakter individu yang berbeda-beda, atau bisa dikatakan setiap anak itu unik (individual differences). Ada anak yang memiliki karakter yang justru meluapkan amarah jika kita larang dengan mengatakan jangan, namun adapula anak yang memiliki karakter lebih termotivasi untuk berubah lebih baik jika kita larang dengan mengatakan jangan. Oleh sebab itu yang terpenting adalah menyampaikan pesan moral mengenai alasan mengapa kita melarang hal tersebut kepada si anak. 

Meskipun begitu, saya yang saat ini masih termasuk ibu muda semestinya tetap terus mengupgrade diri seperti banyak mempelajari ilmu-ilmu parenting supaya kita terjebak pada pembenaran dalam versi kita sendiri. Berwawasan luas dan mampu memfilter informasi yang valid merupakan kunci utama bagi seorang ibu terutama seperti era modern saat ini dimana tsunami informasi sangatlah rentan terjadi pada siapapun. Terutama bagi para ibu muda seperti saya. Sebagai seorang muslim, maka hendaklah kita menjadikan Al-Quran sebagai pedoman kita dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Begitu istimewanya Allah karuniakan anak kepada kita, selain ia menjadikan kita sebagai tempat belajar, namun juga menjadikan kita banyak bermuhasabah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
#harikeempat9sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional