Tuesday, 24 November 2015

PENDIDKAN AKHLAK MELALUI MANASIK HAJI



“Labaikallah humma labaik..labaikalaa syariikala kalabbaik....”
 Bacaan talbiah berkumandang khusyu` menggema di setiap sudut ruangan masjidil haram diiringi  para jemaah haji yang melantunkan untaian doa saat mengelilingi ka`bah. Suasana tersebut tak terlepas dari ritual ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahunya di tanah suci Makkah.
Pada tanggal 22 September 2015, Sekolah Islam Al-Azhar Palembang mengadakan pelatihan manasik haji mulai dari level TK hingga SMP. Hal ini bertujuan agar murid dapat mempelajari pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga akhir. Selain itu, murid dapat belajar hikmah kebersamaan, pengorbanan, dan keikhlasan dalam berbibadah.
Keagungan Allah SWT yang ditunjukan melalui ibadah haji dapat mengingatkan kita betapa banyak pesan moral yang disampaikan melalui ibadah tersebut. Pesan moral tersebut sekiranya dapat mengantarkan kita untuk memaknai arti hidup dan bagaimana bersikap yang disyariatkan Allah SWT. Oleh karena itu, betapa pentingnya pelatihan Manasik Haji untuk dapat disampaikan dan menjadi suatu kegiatan di suatu sekolah. Manasik Haji dapat dijadikan sebagai pendidikan akhlak dimana peserta didik dapat memahami esensi dari Ibadah haji bukan hanya sekedar pelaksanaanya saja. 


Haji merupakan ibadah dimana setiap muslim di seluruh belahan dunia berbondong-bondong mengunjungi kota nan suci guna menyempurnakan rukun Islam yang ke lima. Namun, lebih dari itu ibadah haji banyak memberikan pesan moral bagi seluruh umat manusia akan kekuasaan Allah yang tiada tandingnya. Ibadah haji memberikan esensi bahwa disetiap ritual dalam pelaksanaan haji Allah menunjukan kekuasaanya agar manusia dapat berfikir untuk dapat memaknai hidupnya lebih berarti.
Ibadah haji menjadi suatu kesaksian perjalanan-perjalanan Nabi untuk menyerukan ketauhidan dan keimanan Allah SWT. Jejak sejarah kehidupan Nabi Adam terekam dalam situs manasik haji. Berbicara tentang Nabi Adam tentu sulit melepaskanya dengan tanah Arafah, sebuah padang luas di mana beliau bertemu kembali dengan Hawa di sebuah gunung yang kini dinamai Gunung Cinta (Jabal Rahmah), selepas terpisah karena diusir dari Surga. Kabah merupakan catatan sejarah perjalanan Nabi-nabi yang telah lalu.
 Air zam-zam menjadi kesaksian perjuangan siti Hajar untuk bertahan hidup bersama buah hatinya Ismail. Keikhlasanya diuji sebagai seorang istri dari Nabi Ibrahim untuk dapat menerima kepergian suaminya dalam  melaksanakan perintah Allah SWT. Kisah perjuangan siti Hajar tersebut diabadikan melalui amalan ibadah haji yang dinamakan Sa`i, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah. Sebuah catatan sejarah dimana siti Hajar berjuang mencari setetes air untuk anaknya Ismail yang sedang menangis kehausan. Selain itu, air zam-zam membuat para ilmuwan terkagum-kagum akan kandungan dan manfaatnya. Air zam-zam mengandung banyak kelebihan, yaitu zat flourida yang berfungsi membunuh kuman dan membantu proses penyembuhan. Molekul airnya membentuk kristal heksagonal nan berkilau, bahkan sumurnya tidak pernah ditutupi lumut sekalipun, Masaru Emoto (peneliti molekul air).
Hakikat pengorbanan dari Ibadah Haji ditunjukan melalui kejadian penyembelihan Ismail yang memberikan sarat hikmah yang dramatis, agar setiap dari kita senantiasa meresapi makna besar di balik pengorbanan, di balik kesediaan tulus sebagai seorang hamba kepada Kekasihnya. Terlebih ketaatan Ismail sebagai seorang anak ditunjukan akan keikhlasanya menjalankan perintah sang Ayah dan bagaimana semestinya menyikapi ujian yang nyata dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Shaffat: 104-107, “Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Disisi lain, haji adalah perjalanan spiritual dan kejiwaan. Michael Wolfe, seorang muallaf yang berprofesi sebagai pengarang, penyair, dan produser asal California AS, menyebut ziarah ke Mekkah seperti pulang ke rumah, tekanan gravitasi yang tinggi sehingga menjadi imun bagi tubuh. Tempat ibadah yang memancarkan energi positif, karena setidaknya lima kali sehari menerima pancaran energi positif dari orang yang salat dan thawaf saat berdoa, kemudian di pancarkan kembali kepada kita semua (Sarhindi, 2013). Energi yang disalurkan tersebut sama halnya seperti hukum ketertarikan. Apa yang kita fokuskan akan menjadi apa yang kita tarik masuk kedalam hidup. Sama halnya ketika kita menjadi pribadi yang selalu berfikiran positif, maka pancaran energi tersebut akan kembali ke diri kita sehingga kita lebih menjadi pribadi yang bersyukur dan berserah diri.
Pelaksanaan ibadah haji menjadikan Makkah menjadi tuan rumah yang mempersatukan manusia lintas-etnis dan lintas-agama. Setiap muslim melaksanakan solat di Masjidil Haram dengan gerakan yang berbeda-beda. Ada yang melipat tanganya erat di depan dada, hanya sekedar melipat ujung tanganya saja, tangan terlipat di bawah perut, bahkan ada yang solat tanpa melipat tanganya ke depan. Namun, pernahkah kita mendengar berita tentang adanya pertikaian akibat perbedaan tersebut di Masjidil Haram? Lalu kenapa di negara kita sendiri settitik hal yang berbedapun dipermasalahkan bahkan mengarah untuk saling menghujat? Bahkan banyak yang mengatakanya sebagai suatu Bid`ah? Kita terlalu disibukan untuk mencari celah saudara kita sesama muslim dan lupa bagaimana Allah mengajarkan kita tentang cara menyeru ke saudara kita dengan cara yang baik. Masya Allah, betapa besarnya karunia Allah menunjukan kebesaranya melalui Ibadah Haji.

Monday, 24 August 2015

MENITI JEJAK SANG PENANDAI. CINTA, SASTRA, DAN KARYANYA: DARWIS TERE LIYE



Seorang lelaki berumur + 35 tahun datang memasuki panggung acara dengan penampilan celana jeans, sepatu kets, kaos berwarna biru muda, dan topi putih menutupi kepalanya. Sosok pribadi yang sederhana itu rupanya sedang dinanti-nanti oleh ratusan orang yang memenuhi auditorium Rumah sakit Mata Sumatra Selatan demi menyaksikan kedatanganya di kota Palembang ini. Ya, ini kedua kalinya saya bertemu dengan bang Darwis Tere Liye. Seorang penulis yang sudah menerbitkan lebih dari 20 hasil karyanya dan tersebar diseluruh belahan nusantara.
Bang Tere, sebagai sapaan akrabnya, memulai pembicaraan dengan sebuah cerita. Alkisah diceritakan 3 orang sahabat yang sama-sama mengambil jurusan kedokteran di universitas terkemuka di Indonesia. Mereka tinggal di kos yang sama, kelas yang sama, hingga mereka meraih gelar dokter pada waktu yang sama. Setelah 5 tahun lamanya kebersamaan yang mereka jalin, tiba saatnya mereka untuk  mengabdikan diri dan mengamalkan ilmu ke kampung halaman mereka masing-masing. Si gadis A kembali ke kampung halamanya di Sumatra, si gadis B kembali ke salah satu kota di Sulawesi, dan si gadis C yang kembali di salah satu daerah di pulau Jawa. Saat berpisah, mereka bertiga memiliki suatu janji. Kelak beberapa tahun yang akan datang, setelah masing-masing sudah menjalani bahtera rumah tangga, mereka akan bertemu kembali untuk melepas kerinduan. Mereka akan menceritakan siapakah diantara mereka yang merawat pasien paling banyak, dan itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Setelah 10 tahun lamanya akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat yang mereka janjikan. Ini adalah saatnya ketiganya menceritakan kuseksesan mereka sebagai seorang dokter. Si gadis A mulai bercerita, bahwa dengan pemahaman ilmunya yang sangat baik, ia dapat mendirikan klinik pribadi di kotanya. Kliniknya tidak pernah sepi dari pasien. Semua warga berbondong-bondong untuk berobat kepadanya, bahkan ia memberikan pengobatan gratis bagi warga yang kurang mampu. Selama kurang lebih 10 tahun ini, hampir 1.500 pasien yang sudah ditanganinya. Jumlah yang tentunya membanggakan baginya. Lalu si gadis B menceritakan pengalaman pribadinya. Berbekal pengalaman organisasi yang ia geluti selama di bangku kuliah, hatinya tergerak untuk menjadi sukarelawan bencana alam yang terjadi pada beberapa tempat di Indonesia. Setiap tahunya, ia disibukan dengan membantu para korban bencana alam di seluruh belahan nusantara. Hingga total pasien yang ia tangani sudah melebihi 1.600 pasien. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya. Kedua sahabatnya berdecak kagum atas prestasi yang ia raih. Kemudian si gadis C mulai menceritakan pengalamanya selama 10 tahun ini. Awalnya ia merasa malu karena prestasi yang ia raih tidak sehebat dari kedua sahabatnya. 
Disaat kedua sahabatnya memiliki kesempatan besar untuk mengamalkan ilmunya pada masyarakat, justru diawal kariernya Allah memberikanya berbagai macam ujian. Ibunya sakit keras dan perlu perawatan intens. Lantaran si gadis C merupakan anak satu-satunya yang berkarier di bidang kedokteran, ibunya hanya ingin dirawat oleh anaknya sendiri. Akhirnya ia tidak memiliki kesempatan untuk membuka praktek seperti layaknya dokter yang lain. Ketika si ibu pulih, Allah memberikan ujian dengan penyakit suaminya yang tak kunjung sembuh. Ia harus merawat suaminya seperti ia dulu merawat ibunya. Hingga akhirnya waktunya banyak ia habiskan hanya  untuk merawat ibu dan suaminya hingga beberapa tahun lamanya. Ada rasa kesal dan kecewa kenapa semua ini terjadi pada dirinya. Kedua sahabatnyapun amat sangat menyayangkanya. Namun, rupanya ia belum selesai bercerita. Selama si gadis C menghabiskan waktu untuk merawat ibu dan suaminya, ternyata ia tidak pernah luput untuk menulis hasil pengalaman medisnya yang ia tuangkan kedalam blog. Ia menulis berbagai macam tips dan resep untuk mengobati segala macam penyakit dan bagaimana merawat anak. Ia tak berhenti berkarya dengan segala kondisi keterbatasan yang ia alami saat ini. Ia tulis semua hasil pengalamanya ketika merawat ibu dan suaminya, bahkan pengalaman-pengalamanya selama ia mengasuh anak. Hingga pada akhirnya seorang blog walker meliriknya dan meminta si C untuk membuat buku. Selang beberapa bulan, diterbitkanlah buku si C tersebut dan rupanya bukunya menjadi buku terlaris hingga tercetak lebih dari beberapa ribu eksempelar. Seketika kedua sahabatnya terkejut dan tidak menyangka sebelumnya. Ternyata dialah yang menulis beberapa buku yang sering mereka jadikan referensi selama berkarier. Tidak dipungkiri lagi, justru si C lah yang paling banyak mengobati pasien melalui buku-buku yang ia tulis. Allah maha adil bukan?
Sebenarnya, hakikat dari menulis adalah segala sesuatu yang kita alami maupun kita miliki dituangkan pada sebuah tulisan yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang. Itulah mengapa setiap cerita memberikan nuansa yang berbeda-beda, karena setiap orang memiliki persepsi masing-masing dan pengalaman yang tidak serupa. Inspirasi menulispun bisa muncul dari mana saja. Bahkan hal yang selama ini banyak terabaikan orangpun, bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Prinsipnya hanya satu, lakukanlah yang terbaik, maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya.
Menulis bukan semata berorientasi pada tulisan yang dipublikasikan lalu menjadi buku. Atau menulis hanya sekedar untuk menjadi terkenal. Menulis merupakan proses dimana si penulis memiliki beribu-ribu motivasi terbaik. Maka apabila salah satunya tumbang, ia masih memiliki motivasi yang lain untuk terus menulis. Kenapa harus seperti itu? Karena tidak pernah lahir seorang penulis dalam satu malam, diperlukan proses untuk selalu konsisten dan seberapa produktifkah kita dalam menulis. Tidak masalah nantinya akan menjadi pajangan semata, atau Tuhan berkehendak lain untuk membuat tulisanmu menjadi sebuah buku. Walaupun sejatinya banyak orang yang ingin tulisanya bisa dibaca oleh semua orang. Oleh karena itu, ada beberapa tips untuk penulis awal yang bercita-cita untuk membuat buku, namun masih bingung ingin menulis apa,:
Pertama, belajar untuk konsisten menulis. Berjanjilah untuk menulis 1000 kata perhari secara terus menerus hingga hari ke 180.
Kedua, pilah-pilih hasil tulisanmu yang berjumlah 180 itu dengan mengolompokanya berdasarkan tema yang sama.
Ketiga, tema yang sekiranya paling banyak kita tulis itulah yang nantinya kita olah untuk diajukan pada penerbit.
Keempat, nikmati saja prosesnya. Penulis setenar Tere Liye saja memiliki beribu tulisan yang tidak ia terbitkan, dan akhirnya hanya sekedar menjadi pajangan di laptopnya. Tidak ada kata menyangkan, karena esensi menulis terdapat pada prosesnya, bukan hasilnya.
Apabila pepatah cina mengatakan, waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik kedua adalah hari ini. Tidak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menulis. Kita memilih untuk terlambat atau tidak sama sekali? Ballighu anni walau aayah. Sampaikan padaku walau seayat. Tulislah segala sesuatu bermanfaat walaupun satu ayat/ kalimat. Sekian :)

Sunday, 12 July 2015

EVALUASI KINERJA ISTRI SELAMA 1 SEMESTER PERIODE SEUMUR HIDUP

          Menyendiri merupakan cara yang paling tepat untuk bermuhasabah diri, merenungi perjalanan hidup yang sangat perlu diperbaiki dengan tujuan intropeksi diri. Saat yang seperti ini rupanya moment yang sangat tepat untuk mengevaluasi kinerjaku sebagai seorang istri selama kurang lebih 10 bulan ini. Saat dimana kita berjauhan dengan suami untuk sementara waktu menjadikanku mencoba untuk men flash back perjalanan bahtera rumah tangga kami. Ah, belajar teori rupanya jauh lebih mudah dari pada belajar mengaplikasikanya. Seperti yang saya lakukan selama ini, terdengar begitu wah namun belum sepenuhnya bisa dibilang sempurna untuk kalangan manusia biasa. Saya mencoba menulis segala sesuatunya untuk dapat dibenahi, agar nantinya dapat dijadikan sebagai alarm pengingat  suatu saat nanti.

          Saya akan memulainya dengan sebuah cerita nyata yang akan saya samarkan data empiriknya. Sebut saja seorang pejabat kaya yang kenal dekat dengan keluarga kami  mengalami berbagai  ujian yang beruntun. Ketika si pejabat meninggal, kedua anaknya mengalami berbagai masalah yang pelik. Anak pertama terlilit banyak hutang, anak kedua hamil di luar nikah sebelum selesai sekolah. Setelah beberapa tahun, kondisi semakin membaik dengan bantuan warisan dari sang ayah. Namun setelah itu cobaan kembali datang dari menantu dan cucunya. Si cucu mengalami tindakan asusila dan si menantu terlibat kasus yang serupa. Begitu seterusnya hingga anak cucu si pejabat ini mengalami berbagai musibah yang tak kunjung reda. Usut diusut semua berawal dari pencarian rizki yang tidak bersih. Kami berharap semoga hasil dari ujian hidup ini Allah akan memberikan kehidupan yang lebih baik sampai akhir hayat.

         Dari kisah tersebut itulah mengapa ibu-ibu kami selalu menasehati, janganlah menuntut berbagai macam materi yang tidak dimiliki suami. Terutama tuntutan sekunder, hanya semata untuk gaya hidup yang jatuhnya hanya untuk ajang pamer. Melainkan tuntunlah suamimu untuk mengais rizki yang halal dan bermanfaat untuk masa depan. Awal pernikahan kami, saya memang tidak menuntut macam-macam kepada suami saya. Hanya saja suka sekali menuntut untuk jalan-jalan (ya sama aja sih hehe). Lantaran kota yang kami tempati ini sangat minim dengan wisata alam. Hiburan satu-satunya adalah jalan-jalan dan nonton di Mall yang cenderung menghabiskan biaya yang mahal. Hal inilah yang pertama kali membuat saya mengalami culture shock. Saya yang cenderung lebih menyukai wisata alam yang cenderung murah meriah, kini harus dihadapkan dengan realita “Hidup di kota Metropolitan”.  Namun sebenarnya itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Permasalahanya hanya ada dimana kita lebih memilih bersyukur atau tidak. Saya banyak belajar dari ibu mertua saya yang sama-sama merantau mengikuti suami. Buktinya Alhamdulillah ayem tentrem sampai sekarang. Itulah mengapa mengelola mindset jauh lebih sulit dari pada mengelola planning. Untuk jadi bahagia cikal bakalnya cuman satu, yaitu akal fikiran. Lulusan psikologi seperti saya saja juga perlu waktu untuk menguasainya, perlu proses untuk memaknai hidup secara mendalam agar bahagia ini dapat diciptakan.

          Jika mindset sudah dikelola dengan baik, jangan lupa mengelola kesehatan jasmani rohani. Saya semakin sadar bahwa sehat itu mahal setelah pertama kalinya saya dirawat di rumah sakit.  Untuk itu kita perlu investasi sebanyak-banyaknya demi kesehatan. Perlu banyak belajar bagi saya untuk menyediakan pola makan yang sehat setiap hari. Sebenarnya menu makan yang sehat itu tidak perlu yang mahal. Cukup menyediakan buah dan sayur setiap hari sebagai investasi masa depan. Rasanya masih saja tergiur dengan junk food dengan nominal harga yang lebih mahal dibandingkan dengan papaya yang harganya tak seberapa, tidak akan menguras gaji selama sebulan. Meluangkan waku 10 menit saja untuk berolah ragapun rasanya masih tidak mampu. Paling tidak setelah bangun tidur kita beryoga sambil berdzikir untuk mengurangi tingkat tekanan stress sebelum beraktivitas. Hal sekecil ini kok masih sulit sekali untuk diterapkan ya, ckckck. Kembali ke akar permasalahanya adalah mindset. Begitu cerdiknya media menstimulus persepsi kita agar suatu hal yang tidak baik menjadi sesuatu yang menarik. Membangun konsistensipun memerlukan pengaturan pola pikir. Begitu luar biasanya Tuhan menciptakan organ tubuh yang bernama otak untuk mengendalikan hidup kita. Masya Allah…

           Belum lagi nanti ketika Allah menghendaki kita untuk LDM (Long Distance Married)  sementara waktu demi tercapainya cita-cita dan harapan bersama. Akan ada lagi berbagai macam proses yang harus dilewati. Yang paling utama adalah membangun kepercayaan, dilanjutkan dengan skill berkomunikasi dengan baik. Jika biasanya segala masalah kita dapat selesaikan dengan cara pillow talk sebelum tidur, mungkin nantinya akan terjalin aktivitas phone talk sebelum tidur. Kami berdua selalu saling mengingatkan bahwa, menjadi pasangan suami istri itu layaknya memiliki sebuah pakaian. Ketika pakaian ini sobek, kita tidak perlu membeli pakaian yang baru melainkan kita harus menjahitnya untuk dikenakan kembali. Ketika pasangan kita memiliki kekurangan, kita tentunya tidak mencari yang lain melainkan kita perbaiki bersama-sama demi tercapainya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Ditambah lagi kehidupan modern yang semakin pelik, penuh dengan problematika sebagai indikasi  akhir zaman. Hanya keimananlah yang mampu menyelamatkan. Dimana kita harus selalu senantiasa sadar, bahwa setitik nilapun akan kembali kepada sang pencipta. Kita harus semakin tersadarkan bahwa hidup itu untuk apa dan akan dibawa kemana. Tujuan mulia kita untuk menuntut ilmu dan mengais rizki itu nantinya akan dibawa kemana. Tentunya berbekal prinsip Khairunnas Anfauhum Linnas.


            Semoga Allah selalu meridhoi langkah mulia kami. Tidak mudah untuk mencapai predikat sebagai istri solehah. Jika ada yang mendoakan, aminkanlah sepenuh hati. Tidak ada perguruan tinggi yang menyediakan jurusan pendidikan istri solehah, karena pendidikan ini luar biasa tidak bisa dibayar dengan harta apapun. Semoga kita sebagai kaum hawa kelak akan mencapai tingkatan sebagai istri solehah. Amiinnn Ya rabbal alamin

Thursday, 11 June 2015

TEKNIK LUAR BIASA MENDIDIK ANAK UNTUK INDONESIA HEBAT


TEKNIK LUAR BIASA DAN ANDA HARUS MENCOBA!

     Semalam saya baru saja dibuat haru oleh anak-anak komplek dimana saya tinggal. Ceritanya begini, setiap  Senin-Jumat saya dan suami selalu berangkat kerja dari jam 6 pagi sampai jam 6 petang kami baru tiba di rumah. Padatnya waktu di luar rumah membuat kami hanya sempat membersihkan pekarangan rumah setiap Sabtu/Minggu. Tapi, karena rumah kami belum berpagar akhirnya anak-anak seringkali bermain di pekarangan dan SELALU saja meninggalkan SAMPAH.
 Saya pernah menegur pada beberapa anak yang kebetulan sering belajar di rumah saya,

 “Nak kalo maen di halaman kami jangan buang sampah sembarangan ya, kasih tau sama teman-teman yang lain”ujarku sambil tersenyum mengingatkan.

“Iya us, nanti saya sampaikan ke teman-teman, tapi biasanya yang sering mengotori itu si ini si itu us..” dan kesimpulanya adalah tidak ada anak yang berani mengakui perbuatanya.

       Saya mengiyakan saja, dan berharap besok sudah tidak ada lagi sampah yang bertebaran di sekitar halaman rumah kami. Keesokanya saya cek lagi halaman rumah, masih TETAP dengan sampah-sampah mentereng asik di pekarangan rumah. Saya mulai naik pitam
Usai Shalat Maghrib, saya menyiapkan kertas, spidol warna-warni, kotak susu bekas, dan kertas kado untuk merencanakan aksi terbaru saya agar mereka jera. Saya buat tulisan besar-besar yang bertuliskan “DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!!!” dengan tanda seru tak terhingga sebagai ancaman terakhir bagi mereka. Namun, saya mulai berfikir hal itu justru membuat anak-anak tidak akan pernah singgah di halaman kami lagi. Bukankah saya hanya ingin mengajarkan mereka akan kesadaran diri dan tanggung jawab?
       
        Lalu akhirnya tulisan tersebut saya ganti dengan tulisan,
 “SELAMAT BERMAIN ANAK-ANAK. JAGA KEBERSIHAN TEMPAT KALIAN BERMAIN YA..BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA. KALAU TEMPAT BERMAIN KALIAN KOTOR, MAKA RUMPUT-RUMPUT AKAN MENANGIS ”.

    Saya bagi tulisan tersebut dalam 4 potongan kertas besar. Setelah itu saya buat kado dari kotak susu bekas yang saya isi dengan beberapa permen saya yang saya belih di warung sebelah. Kado tersebut saya tuliskan,
 “AMBIL HADIAH DI DALAM KOTAK JIKA KALIAN MENJAGA KEBERSIHAN”. 

     Keesokan harinya saya letakan kertas dan kado tersebut di sudut halaman rumah. Suami saya hanya cengar-cengir melihat tingkah konyol saya dan menduga pasti tidak ada perubahan apa-apa dari masalah ini.
       
        Ketika pulang sore hari, saya dibuat tercengang dengan keadaan rumah yang sangat berbeda dari sebelumnya. Saya melihat halaman rumah benar-benar bersih, bahkan rumput-rumput liar disekitarnya sudah ada yang membersihkan! Tentunya sudah tidak ada lagi satupun sampah yang mejeng disana. Saya menduga pasti ini perbuatan anak-anak. dan ternyata benar. Di depan rumah saya sudah terpampang kertas yang bertuliskan,
“USTADZAH KAMI SUDAH MEMBERSIHKAN TEMPAT USTADZAH. KAMI MENYAPU TERAS DAN MEMBERSIHKAN RUMPUT. DARI SISKA, SELA, WAWA, AIRA, DLL”

         Seketika saya speechless karena merasa terharu dengan perubahan baik dari anak-anak tersebut. Saya buka kotak kado yang saya isikan permen tadi, ternyata sisanya tinggal 5 biji. ALHAMDULILLAH. Dari kejauhan mereka melihat kami dari kejauhan. Saya panggil mereka dan saya peluk mereka satu persatu.

         Pesan Moral:
Merubah perilaku anak sama halnya dengan menemukan mutiara di dalam karang. Mereka memerlukan respon positif dari seorang pendidik, bagi pendidik di lingkungan terkecilnya (keluarga) maupun lingkungan yang lebih besar seperti sekolah dll. Mengarahkan mereka tidak perlu dengan meluapkan emosi negatif dan terus-menerus menyeru dengan perkataan “JANGAN” tanpa adanya pemahaman mendalam mengapa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Anak tak lain berbeda dengan manusia pada umumnya yang memiliki HATI untuk menelaah keinginan kita. Sampaikan dengan kalimat positif dan reinforcement yang menyenangkan seperti memberi reward kepada mereka. Saya rasa anak-anak Indonesia akan berkembang lebih baik jika kita mendidik mereka dengan kasih sayang. Semoga bermanfaat J

Tuesday, 6 January 2015

ITULAH MENGAPA IA TAMPAK BEGITU ISTIMEWA

Tuhan, saat ini aku hanya ingin bersyiar melalui renunganku. Namun jika aku tampak takabur dihadapanmu, maka luruskanlah niatku.

Rasanya waktu itu begitu cepat berjalan. Tak terasa usia pernikahanku sudah menginjak 4 bulan. Wow, sepertinya aku baru saja mencium semerbak aroma wangi melati di kamar pengantinku dulu. Namun kenyataanya kamar pengantinku sekarang hanyalah beraroma pewangi ruangan yang sesekali bercampur dengan aroma bumbu dapur,  penuh dengan tumpukan buku dan kertas, cemilan untuk teman lembur , meja komputer serta TV dan almari yang membuat ruangan kamar kami semakin sempit. Namun rumah mungil ini tidak pernah lepas dari suara canda dan tawa, meski setiap tamu yang datang kerumah akan disajikan dengan pemandangan dapur secara langsung yang tak bersekat, lantaran ruang utama kami yang serba multi fungsi.  
Rumah yang kami tempati memang saat ini belum finishing, sehingga ruang utama tanpa sekat itu memliki fungsi sebagai  ruang tamu, ruang belajar, ruang makan, dan ruang dapur sekaligus. Klien suamiku sering penasaran dengan rumah yang kami tempati, “Wah, pasti rumah bapak  bagus ya, orang ngerancang ruang rumah kita aja bagus, apalagi rumah sendiri”. Iya memang unik untuk saat ini. Terkesan praktis untuk menjangkau minuman dari dapur, atau belajar sambil makan di ruang belajar :D. Terkadang aku suka iseng pasang foto dapur dan ruang makan di Display Picture BBM. Orang-orang seketika mengomentari, “wah, itu rumahmu ya? unik ya? Cakepp..pantes suaminya arsitek yee…”hahahhaaa. Memang benar itu rumah tsurayya. Aku tidak bohong, tapi lebih tepatnya rumah ghaida tsurayya. Aku sering kepo di instagram ghaida dan berharap aku dan suami akan mendesain rumah vintage seperti rumah ghaida. 
Walaupun dengan segala keterbatasanya, rumah mungil ini justru selalu memberikan kesejahteraan bagi kami. Sebelum kami berdua bekerja, anak-anak selalu berdatangan setiap sore  untuk belajar ngaji dan bahasa Inggris disini. Rumah terasa lebih tentram dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Namun semenjak aku mulai bekerja, terkadang tenagaku sudah tak mampu lagi untuk mengajar mereka.
Di sekolah tempatku  bekerja menuntut tenaga kerjanya untuk hadir sebelum pukul 06.30 pagi. Sementara jarak rumah kami dengan sekolah membutuhkan waktu setengah jam untuk datang tepat waktu. Mau tak mau, suami yang awalnya masuk kantor pukul 08.30 harus berangkat bersamaku pukul 06.00 agar bisa sekalian mengantarkanku ke sekolah. Sementara aku yang sudah bisa pulang pukul 15.00 dengan senang hati harus pulang pukul 17.00 mengikuti jadwal suami. Bisa dibilang total waktu kerja kita yang awalnya hanya 8 jam bertambah menjadi 12 jam karena adanya toleransi satu sama lain. Semenjak keguguran 2 bulan yang lalu, suami masih belum memperbolehkan untuk pergi dengan kendaraan sendiri. Kendaraan umum di kota ini juga masih sedikit yang mulai beroperasi pagi-pagi, sehingga mau tak mau aku masih harus diantar suami kemanapun aku pergi. Belum lagi aku harus terbangun dini hari mempersiapakan makan untuk sarapan dan makan siang. Aku selalu teringat nasehat ibu, “walaupun setelah menikah kamu akan berkarir, seorang istri harus tetap memasak sendiri untuk suami. Biasakan pola hidup sehat, karena sesederhana masakanmu, suamimu pasti akan tetap menyukainya”. Betul kata ibu, walaupun awalnya aku tidak begitu mahir memasak, karena kebiasaan aku semakin lihai meracik bumbu dan membuat suamiku semakin jatuh hati (walaupun sering masakanya keasinan wkwkwk). Pada dasarnya memasak itu naluri setiap wanita, jika  mau melakukanya maka lama-lama kita akan terbiasa.
Suatu hari suamiku mengadu, ia mulai rindu dengan kehadiran anak-anak di rumah kami. Setidaknya rumah ini terasa damai dengan kegaduhan mereka yang membuat ramai. Akupun begitu, namun  aku tak kuasa  bila harus mengajar seorang diri. Kami tinggal di perumahan ini bisa dibilang sangat beruntung. Awalnya aku hanya berniat untuk mengajari anak tanteku mengaji, rupanya tante menawarkan kepada anak tetangga lain untuk bisa bergabung  bersama kami.  Padahal aku baru  1 minggu tinggal disini, sudah ada 20 anak yang bersedia kudidik untuk belajar mengaji dan bahasa asing di rumah ini. Luar biasa semangatnya anak-anak itu menuntut ilmu. Tidak ada satu anakpun yang tidak datang tepat waktu. Tapi apa daya, aku akan kehabisan tenaga dan waktu untuk melayani suami makan dan waktu bercengkrama akan banyak tersita. Bukankah itu kewajiban utamaku sebagai seorang istri? Namun tiada kusangka suamiku menawarkan diri untuk bersedia membantuku mengajar. Aku bersedia membantumu asalkan anak-anak tetap mengaji disini. Subhanallah, bergetar keras hati ini…
Diawal kami membuka TPA, anak-anak sering mempertanyakan, berapa besar uang yang kita keluarkan untuk  belajar mengaji disini. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Perumahan tempat aku tinggal merupakan Perumahan Rumah Sederhana dimana mayoritas perekonomian masyarakat disini merupakan kalangan menengah kebawah. Tidak semua anak-anak disini hidup dari kalangan orang-orang yang mampu. Tiba-tiba aku teringat dengan pondok Gontor yang telah mendidiku selama 7 tahun lamanya. Disana aku dididik oleh tenaga pendidik yang ikhlas tanpa pamrih  mengajar kami. Sementara aku yang hanya satu hari satu jam mengajarkan mereka ilmu agama, aku meminta balasan harta dari mereka? sudahlah nak, belajarlah yang sungguh-sungguh, biarkan kami mengajar seperti guru Gontor mendidik kami yang diupah dengan pahala kebahagiaan dunia akhirat amiin.
Kini rumah kami kembali dipenuhi dengan keceriaan anak-anak. Sesekali mereka datang kesini untuk sekedar bermain-main. Jika acara besar Islam tiba, anak-anak berlatih di pekarangan rumah ini untuk persiapan pentas. Tidak hanya anak-anak TPA, suamiku juga mengajar mahasiswa yang ingin mempelajari 3D dan sketchup di rumah ini. Sesekali aku juga bereksperimen dengan anak-anak membuat handmade dan makeup hijab tutorial disini. Itulah mengapa rumah kami begitu istimewa. Sekarang sudah tidak penasaran lagi kan, rumah kami memang dirancang oleh seorang arsitek handal dengan segala keindahan dan kemewahanya. Kemewahanya dirancang dari sini, dari hati.