Friday, 12 June 2020

PROFESIMU APA?



Menjadi dosen adalah cita-citaku sejak kecil karena adanya figure yang kuat dari sosok abah. Tak ayal jika kakakku saat ini berprofesi sebagai seorang dosen, namun belum untuk aku. Semenjak menikah aku merantau di tanah kelahiran suami di Palembang.

Ada harapan dari abah jika aku bisa menjadi tenaga pendidik di perguran tinggi tempat abah mengajar. Ya, karena abah melihat prestasiku di dua jurusan aku tempuh memperoleh predikat cumlaude. Pun sepak terjang pengalamanku mengikuti student summit, international conference, Liasion Officer, asisten praktikum, dan pengalaman lainnya yang meyakinkan jika aku pun bisa menjadi dosen di kampus itu.

Rupanya benar, abah menyampaikan padaku saat usai ambil S2 dulu, salah satu pejabat di kampus memintaku untuk memasukan lamaran menjadi tenaga dosen. Namun abah tidak seambisius itu: “kalau kamu mengajar disini pastinya kamu jauh sama suami. Ikutlah dan temani suamimu dalam kondisi apapun”. Disitu aku begitu terenyuh dan memutuskan untuk tetap memprioritas keluarga dalam situasi apapun.

Hidup di perantauan sama halnya kita meninggalkan zona nyaman, artinya kita harus mengulang dari awal kehidupan dengan lingkungan baru dan orang-orang baru. Namun tidak patah semangatku untuk bisa memanfaatkan ilmu yang sudah aku peroleh selama ini. Muncullah inisiatif untuk membangun biro bersama salah satu teman yang berprofesi sebagai psikolog. Namun aku minta untuk menambah satu personel lagi agar tim menjadi semakin solid. Bertambahlah menjadi 3 anggota tim. 1 orang psikolog dan 2 ilmuwan psikologi.

Kita bertiga orang perantauan. Meski dua dari kami orang Sumatara asli, namun menghabiskan seluruh hidupnya di tanah perantauan. Maka tak mudah membangun usaha yang mana kita tidak memliki jejaring sosial sama sekali. Munculah inisiatif untuk merambah dari komunitas ke komunitas untuk memperkanalkan biro kami agar biro kami semakin dikenal banyak orang di kota ini.

Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan ini bukan bisnis saja. Ini adalah panggilan kemanusiaan yang sangat membutuhkan tenaga profesionalitas untuk mengubah mindset tentang orang-orang yang mengalami gangguan mental. Akhirnya aku pun semakin rajin menjadi sukarelawan untuk terjun ke lapangan mendengarkan aspirasi masyarakat dari berbagai macam lapisan. Guru, orang tua, anak-anak, mereka bahagia merasa didengarkan.

Meski terkadang mereka tidak memastikan siapakah kita. Psikolog kah, dokter kah, atau hanya sekedar ilmuwan psikologi saja? Mereka tak curiga. Mereka senang diperhatikan, didengarkan yang mungkin sebagian orang nampak abai, acuh, bahkan GENGSI jika hanya sebatas menangani orang-orang marjinal yang mungkin hanya diupah dengan peluh keringat bercucuran.

Panggilan “membantu” ini lah yang memuat jiwa dan ragaku mengalir di biro ini. Terlebih saat rekan kami yang psikolog sedang banyak jam menangani klien, kami membantu hal yang lain agar bisa meringankan beban pekerjaanya. Kami ikut ke rehabilitasi narkoba, kegiatan pemberdayaan perempuan. Bercengkerama dengan orang-orang di rehabilitasi yang kadang membuat kita tertawa, senang, bahkan sampai meneteskan air mata. Mereka juga senang bercengkrama dengan kami. Tanpa perlu tau sebenarnya siapa kami. Psikolog kah, ilmuwan psikologi kah, dokter kah. Mereka senang, mereka diperhatikan.

Namun terkadang tidak selamanya yang kita lihat baik dianggap orang lain juga baik. Persaingan akan selalu ada dalam setiap perjalanan membangun segala hal. Saat kita dengan tulus membantu orang, pasti akan ada orang lain juga  menawarkan kebaikannya kepada kami. Yang bisa saja kebaikan itu membuat kita menjadi dikenal dan dibutuhkan oleh banyak orang.

Terkadang kita tidak pernah ada tekad untuk menawarkan diri, namun orang yang nyaman dengan kita lah yang memilih kita, menawarkankan segala pekerjaan dengan kita. Jika jika hal yang ditawarkan tersebut tidak sesuai dengan bidangku, apa lantas aku harus menerima tawaran itu? Itu sama saja seperti masuk kedalam kandang singa. Jika bukan bidang kita, untuk apa kita terima? Akan lebih baiknya kita tawarkan kepada rekan yang lain yang lebih mampu.

Lalu jika suatu ketika orang menganggapku NAMPAK lebih dikenal, dan bahkan menganggap jika aku MENGAKU-NGAKU menjadi profesi tertentu…rasanya hati ini bagai tertusuk sembilu. Sepertinya sejak awal aku tidak pernah merencanakan itu. Apa yang kulakukan mengalir seiring apa yang aku alami saat itu. Aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai macam kalangan tanpa adanya rasa pencitraan. Semua mengalir tanpa direncanakan.

Entah kalimat apa yang pantas untuk mengungkap rasa ini. Jujur aku menulis sambil menangis. Sembari mengingat kembali saat bercengkerama dengan anak-anak dan para orang tua di “sekolah kecil yang tak layak”hidup di tengah kemewahan hiruk pikuk kota. Mengingat kembali tetesan air mata seorang mantan pengguna narkoba yang begitu rindu dengan anaknya. Lantas saat dianggap itu sebagai hal yang dimanfaatkan…

HATIKU HANCUR

Terlebih banyak hal yang selalu mengingatkan jika keluarga adalah yang akan selalu menjadi nomer satu. Untuk apa banyak membantu orang namun keluarga hancur berantakan. Jika itu terjadi, rasanya semua akan sia-sia.

Aku begitu bersyukur selalu diingatkan begitu berharganya tim yang selama ini jatuh bangun berjuang di biro ini, meski terkadang orang di luar sanalah yang memberikan ketidak kenyamanan dalam bertugas. Yang membuatku untuk memutuskan untuk bekerja secara internal saja.

Semenjak mencuat kasus DS, pasti semua magister sains pernah merasakan hal yang sama. Namun tidak semua ilmuwan psikologi disamakan dengan DS. Kami masih banyak yang waras. Yang berjuang untuk tidak memanfatkan titel lain untuk meraup keuntungan. Dan selama ini belum ada senyata ini mampu bersuara.

Tidak benar jika pekerjaan kemanusiaan masih harus dikotak-kotakan ranah siapa dan siapa. Semua punya tugas mulia menolong yang membutuhkan. Namun jika merasa ilmuwan psikologi tidak boleh andil menjadi praktisi, silahkan saja keteteran mengurus seorang diri dengan kesibukan mengurus klien tiada henti.

Harusnya semua saling bersinergi satu sama lain. Ilmuwan bisa bantu terjun ke lapangan. Psikologpun juga.  Tentunya kami tidak sampai lancang melakukan hal diluar batas kami sebagai ilmuwan. Intervensi di tangan psikolog. Tapi tugas mensosialisasikan mental health adalah tugas bagi semua tenaga profesional yg bergerak di bidang mental. Note it. Tidak ada unsur menyaingi bahkan mengaku-ngaku



Terimakasih pelajaran berharga saat ini. Aku merasa semakin tangguh.



Saturday, 9 May 2020

MENU BUKA PUASA PRAKTIS DAN DISUKAI ANAK: PUDING ROTI KEJU PILIHANNYA


Hai parents, gak terasa sudah hari ke 15 kita menjalankan ibadah puasa ya. Artinya sudah setengah perjalanan Ramadhan yang kita lalui. Semoga semua dilancarkan selama beribadah di bulan yang suci ini dan Allah melimpahkan segala Rahmat dan kasih sayangnya kepada kita semua. 

Btw, selama 2 minggu ini menu berbuka apa saja yang jadi andalan keluarga? Kolak pisang masih jadi primadona gak ya? atau sudah pada bosen? 

Di keluarga kami, kami memilih berbuka puasa dengan minuman yang minim gula. Jadi paling sering ya bikin teh hangat selebihnya paling sering minum air putih biasa. Untuk makanannya. pempek is a must karena suami asli Palembang jadi memang harus stock setiap saat. Tapi lama-lama bosen juga ya anak-anak. Pengen cemilan baru untuk sekalian berbuka dan disukai anak-anak.

Sebenarnya anak-anak sih doyannya yang asin-asin. Berhubung di rumah ada stock roti dan keju, jadilah saya bikin puding roti keju yang praktis dan gak ribet cara masaknya. Awalnya dapat resep ini dari Resep Bebelac karena dari resep Bebelac saya banyak dapetin inspirasi bikin cemilan yang praktis dan tentunya bergizi bagi anak-anak. 

Ternyata cuman butuh 15 menit proses pembuatannya langsung jadi deh. Jadi menanti bedug Maghrib bisa banyak dilakukan untuk ibadah lain dan berkumpul bersama keluarga kan :)

Nah langsung aja biar gak lama-lama penasaran cara bikinnya, saya tulis resep dan cara bikinnya di bawa ini ya:


Bahan:
  • 2 butir telur ayam
  • 75 gram susu Bebelac yang dicampur dengan 300 ml air hangat
  • 1/4 sdt garam
  • 3 lembar roti tawar
  • 75 gram Keju parut 
  • Potongan kurma secukupnya
Cara membuat:
  • Potong roti tawar kotak-kotak kecil lalu susun di dasar loyang
  • Masukan telur ayam, susu dengan air hangat, garam, yang sudah dicampur dalam satu wadah, lalu tuang diatas susunan roti
  • taburkan keju tabur secara merata
  • Susun kurma diatas taburan keju sesuai selera
  • Kukus selama + 15 menit
Jadi deh. Gampang kan cara membuatnya? Silahkan dicoba bersama anak-anak di rumah ya parent. Dijamin aktivitas bermain di rumah jadi lebih seru. Jangan risau jika anak menumpahkan sesuatu atau membuat dapur jadi berantakan. Ingat, momen itu adalah proses dimana anak belajar ketrampilan memasak yang melibatkan aktivitas motorik, regulasi diri, yang menunjang tumbuh kembang anak agar bisa teroptimalisasi dengan baik.

Selamat bereksplorasi bersama sang buah hati, parents :)


#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge

#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY16

Thursday, 7 May 2020

MEMBATALKAN PUASA DALAM KONDISI ZONA MERAH COVID 19, BOLEHKAH?


Marhaban ya Ramadhan. Tidak terasa sudah 12 hari kita menjalankan puasa di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah dan ampunan ini. Meskipun Ramadhan tahun ini berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena adanya kebijakan physical distancing akibat penyebaran COVID 19, setiap warga dianjurkan untuk berkumpul untuk sementara waktu. Belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah. 

Sebagai umat Muslim tentunya menikmati puasa tanpa adanya salat Tarawih berjamaah di masjid sangat menyedihkan bagi kami. Kami rindu masjid, pun rindu berbuka puasa bersama. Ada rasa yang begitu bergejolak saat azan subuh berkumandang tiada terdengar hentakan kaki untuk bergegas menuju ke masjid. 

Terlepas dari kesedihan itu sebagai umat Muslim kita perlu tahu hal apa saja yang membedakan pelaksanaan puasa dalam situasi pandemi dan pelaksanaan puasa pada kondisi normal seperti sebelumnya. Tentunya kita tidak boleh gegabah mencari tahu dari informasi yang tidak jelas sumbernya. 

Beruntungnya saya memiliki teman pondok yang rajin berbagi ilmu di WA grup alumni angkatan kami. Ustdzah Sheila Ardiana, Lc adalah rekan saya lulusan dari Al Azhar Cairo University, Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir. Saat ini beliau juga sedang melanjutkan S2 di kampus yang sama saat menempuh S1. 

Saya tanya adakah perbedaan berpuasa dalam situasi pandemi dan tidak? Kurang lebih penjelasan beliau akan saya jelaskan dengan tambahan referensi di bawah ini:

"Secara Garis besar pelaksanaan puasa secara rukun, niat , maupun syarat wajibnya sama saja. Yang berbeda ada pada pasien positive Corona dan dokter yang menangani"
Merujuk ke Darul Ifta Al-Missriyyah, seorang yang dinyatakan positif Corona, boleh tidaknya berpuasa tergantung saran dari dokter, karena dokter yang lebih mengetahui kondisi pasien kondisinya sedang, parah, atau sampai komplikasi. Dasar Ushul Fiqhnya adalah Al-Amru Ila Attiba`. Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu perbuatan. Artinya dokter lebih mengetahui tindakan medis yang tepat bagi pasiennya, sehingga diperlukan rujukan dokter dalam hal ini. 

Lalu, perlukah kita berpuasa jika kondisi kita berada di zona merah dimana resiko terpapar virus cenderung lebih tinggi?

Usth Sheila kembali menjelaskan bahwa tidak diperbolehkan seseorang dengan sengaja membatalkan puasanya karena alasan tersebut karena belum tentu juga seseorang itu bakal terpapar virus. Justru berdasarkan darul Ifta` pada saat membahas hal ini pada para tenaga medis, berpuasa diduga mampu menambah imunitas tubuh seseorang sehingga jika imun baik maka resiko terkena virus jauh lebih sulit dibandingkan dengan yang memiliki imun tubuh yang buruk.

Sementara bagi dokter yang menangani pasien, apabila dokter dan pasien ikut terpapar, dan kondisi medis mengatakan untuk tidak diperbolehkan terlebih dulu, maka diperbolehkan membatalkan puasa. Kembali lagi merujuk ke dasar ushul fiqhnya tadi: Al-Amru Ila Attiba`

FYI, bagi yang belum tau Darul Ifta Al-Missriyyah itu apa. Jadi merujuk pada Wikipedia, Darul Ifta Al-Missriyyah adalah lembaga  fatwa Mesir yang mana sebagai institusi keagamaan yang mewakili Islam dan pusat penelitian hukum Islam yang unggul di tingkat Internasional. 

Bagi umat Muslim yang ingin mempelajari hukum Islam, kajian-kajian, fatwa, sampai penelitian mengenai kajian keIslaman, kalian bisa kunjungi website dibawah ini:


Insyallah sumbernya lebih terpercaya dibandingkan mencari informasi yang belum tentu jelas dan benar penjelasannya meskipun website tersebut identik dengan nama-nama Islam. 

Semoga kita tetap bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di bulan Ramadhan yang suci ini meskipun dalam situasi pandemi. Semoga doa kita bersama agar pandemi ini segera berakhir segera diijabah oleh Allah. Amiin ya rabbal alamin.

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY15

Wednesday, 6 May 2020

IKUTI CARA MUDIK PALING ASIK SAAT COVID TIDAK LAGI MENGUSIK


Terlepas dari kontroversi bedanya mudik dan pulang kampung, tetap keduanya adalah moment yang paling sangat kurindukan sebagai seorang perantau. Apalagi saat mudik lebaran, perjalanan panjang transit dari satu pulau ke pulau bersama keluarga adalah moment yang begitu esensial. 

Maka gak heran sejak kecil dulu abah lebih suka mengajak anak-anak untuk mudik darat dibandingkan mudik udara. Pernah sekali kami mencoba mudik udara dengan menggunakan pesawat dari Surabaya ke Lombok. Kakak saya mengeluh ternyata rasanya tidak seseru perjalanan darat. Saat perjalanan darat kita akan mengunjungi satu tempat ke tempat yang lain. Kita bertemu dengan orang yang berbeda, budaya yang berbeda, maupun bahasa yang berbeda. Apalagi kita senang sekali bertemu orang baru saat di kapal atau di tempat yang baru kita kunjungi. Ada petualangan yang menyenangkan dibandingkan menikmati perjalanan dengan pesawat meski ditempuh dengan kurun waktu yang singkat.

Dua tahun lalu, ini pengalaman pertama bagiku mudik dari pulau Sumatera ke pulau Sumbawa dengan perjalanan darat. Sebelum menikah dan pindah ke Palembang, perjalanan mudik ke Sumbawa start pointnya adalah rumah kami di Boyolali. Tapi memulai start point dari Palembang membuat waktu yang dihabiskan akan lebih panjang dari biasanya. Apalagi saat itu aku sedang mengandung anak kedua dan anak pertamaku berusia 1,6 tahun. 

Simpang Lima, Boyolali

Perjalanan dari Palembang ke Boyolali awalnya kita tempuh dengan pesawat terbang. Sehari setelah itu kami bersama-sama dari Boyolali ke Sumbawa melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Mobil APV kesayangan abah menjadi mobil pilihan kami untuk mudik. Dalam satu mobil terdiri dari sopir, abah dan ibu, kakak sekeluarga, dan keluarga kecilku, Jadi total ada 7 orang dewasa dan 3 anak-anak. 

Saat itu tol dari Boyolali ke Kertosono sudah baru saja dibuka. Jadi kami mencoba menikmati rute lewat tol baru dan mencoba transit di rest area yang saat itu masih ada yang dalam proses pembangunan. Memilih rute perjalanan dengan tol memang lebih efisien secara waktu dan tenaga. Bagiku yang saat itu sedang hamil 4 bulan, memilih rute tol adalah pilihan terbaik agar kami bisa segera sampai tujuan lebih cepat.

Kami berangkat dari Boyolali bada Subuh dan samapi Banyuwangi pukul 8 malam. Kami segera mencari penginapan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Paginya kami langsung melanjutkan penyebrangan ke Gilimanuk. Lanjut dari Gilimanuk menyeberang ke Ai Loang menuju ke pulau Lombok. Kami sampai di Lombok pukul 12 malam karena kapal transit di dermaga begitu lama. 

Sesampainya di Lombok kami menginap di rumah tante seperti biasa kami lakukan saat mudik. Kami biasa mengunjungi wisata di Lombok dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau Sumbawa. Kami mengunjungi pantai, wisata kampung, wisata oleh-oleh, dan lain sebagainya. Baru 2 hari setelah itu kami lanjut perjalanan ke Sumbawa.

mengunjungi pantai tanjung Aan, Lombok


Biasanya sampai Sumbawa kami bersilaturahmi dulu dengan kerabat keluarga. Setelah usai, kami pamit pulang dan melanjutkan perjalanan pulang ke Lombok. Selama perjalanan pulang pergi, hampir semua pulau kita singgahi untuk bermalam disana. Saat berangkat kami tidak sempat berkunjung ke Bali, namun saat perjalanan pulang kami memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan di Negare, Bali. 

saat singgah untuk makan di Negare, Bali


Perjalanan darat ke pulau -pulau kecil di NTB memang lebih menyenangkan dibandingkkan perjalanan darat menuju ke pulau Sumatera yang tepatnya di Palembang. Di sepanjang perjalanan ke SUmbawa kita bisa melihat panorama yang sangat indah, namun perjalanan ke Palembang kita lebih banyak melihat hutan dan gedung-gedung saat melintasi Jakarta. 

panorama keindahan laut menuju pulau Sumbawa

Setelah pandemi berakhir, buat kalian yang ingin segera mudik, perjalanan darat adalah cara menarik dan asyik untuk menikmati suasana kota dan perkampungan yang kita lewati. Mungkin ada suasana yang berbeda sebelum Corona datang dan setelah pandemi ini usai. Kita harus merasakannya perubahan ini melalui perjalanan mudik darat yang penuh dengan sensasi. 

Pertanyaanya, kapan pandemi ini berakhir ya? Semoga gak lama-lama ya. Kita doakan bersama-sama agar bumi kita bisa pulih sehat kembali dan manusia di dalamnya juga kembali pulih beraktivitas seperti biasanya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY14

REKOMENDASI CHANNEL YOUTUBE INI BIKIN AKTIVITAS MEMBERSIHKAN RUMAH JADI LEBIH SERU

Sudah dua bulan di rumah, kira-kira aktivitass beres-beres masih tetap semangat gak nih? Mungkin pandemi ini memberikan kesempatan bagi para moms untuk membersihkan sudut-sudut rumah yang dulunya terlupakan karena banyaknya aktvitas yang padat. Namun ada juga para moms yang memang terbiasa dengan kegiatan bersih-bersih, dan bahkan menjadikannya sebagai hobi yang menyenangkan.

Saya pribadi yang masih punya dua anak batita, aktivitas berbenah cenderung pasang surut. Kalau anak-anak lagi senang-senangnya main messy play, ya sudah deh terpaksa harus mengikuti alur yang mereka sukai. Tapi terkadang saya butuh imunisi penyemangat biar aktivitas beres-beres saya semakin asyik dan menyenangkan. Jadilah saya suka cari inspirasi berbenah di channel youtube.

Awalnya memang gak sengaja channel ini keluar di beranda youtube saya. Saya iseng nonton satu sesi, ternyata keren banget. Suka lihat mamah-mamah korea mempersiapkan makanan keluarga, berberes rumah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Semua serba tersusun rapi dan eye cacthing.

Saya baru tahu kalau mesin cuci harus rutin dibersihkan sedetail itu. Perasaan seumur hidup belum pernah lihat ibu saya, atau siapapun yang lagi bersihin mesin cuci sampai ke lubang-lubang kecil yang ada di setiap sudut mesin cuci. Belum lagi natural cleaner yang mereka pakai untuk bersih-bersih lebih sering menggunakan baking soda dan extra kulit lemon. Hasilnya tampak terlihat bersih gak kalah sama cleaner yang dijual di pasaran. 

Okay sini kubisikin satu-satu ya channel youtube siapa aja yang bikin moms makin jatuh cinta sama aktvitas beberes rumah:

1. Haegreendal


Youtuber moms asal Korea ini emang paling sering saya tonton videonya. Channel dengan 1,7 juta suscribers ini emang selalu menginspirasi dan bikin gak bosen untuk ditonton berulang kali. Biasanya sambil cuci piring atau aktivitas di dapur, saya suka menyempatkan untuk menonton channel haegreendal mulai dari kegiatan beres-beres rumah, mempersiapkan makanan keluarga, sampai aktivitas bersama anak lelakinya yang lucunya minta ampun. Gemes pisan euy.


2. Hommy Mommy

Channel ini adalah channel yang pertama kali saya tonton karena ketidak sengajaan nongol di beranda Youtube. Sebagai seorang minimalist, hami mommy ini selalu menampilkan cara berbenah yang simpel dan ramah lingkungan. Yang selama ini saya ikuti setelah nonton videonya hami mami ini adalah saya selalu stock baking soda yang saya gunakan buat bersih-bersih dapur sampai cuci pakaian. Ternyata emang bagus banget buat pakaian yang kena kotoran membandel. Nyuci pakai baking soda selain ramah lingkungan juga bikin pakaian tampak lebih bersih dan terang dibandingkan sabun cuci pasaran.


3. Fany Sebayang

Fany adalah youtuber asal Indonesia yang selama ini paling aku suka tonton videonya. Awalnya saya tertarik sama video fany karena saat itu lagi cari tahu tentang minimalism. Keluarlah nama fany di urutan pertama dalam pencarian Youtube. Jadilah aku mulai suka simak tips bagaimana menerapkan minimalis dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu desain rumah fany ala Japanesse Minimalis bikin saya jadi jatuh hati karena terkesan simpel, rapi, dan gak ribet. Mungkin kalau ada keinginan rehab rumah, kayaknya rumah Fanny cocok banget dijadikan referensi. 




Nah, itu dia 3 rekomendasi channel Youtube yang bikin kalian jadi betah berlama-lama beresin rumah dan melakukan segala aktivitas di rumah jadi lebih menyenangkan. Mungkin ada banyak Youtuber lain yang punya tema yang sama dengan mereka seperti Liaon Salim, Rhea Y, dan lain sebagainya. Tapi yang menurutku paling relate sama aktivitasku dan paling kusuka ya tiga itu tadi. Nonton diulang-ulang pun masih gak pernah bosen sampai sekarang. Nyuci jad semangat, beres-beres rumah jadi semangat. Semangat beberes rumah semuanya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY13

Tuesday, 5 May 2020

JANGAN TERGODA SAMA MAINAN EDUKASI MAHAL, MAINAN DARI BARANG BEKAS JUSTRU LEBIH MENGEDUKASI ANAK



Dulu, bisa dibilang aku sama kakakku jarang banget dibelikan mainan. Tetangga pada punya PS, kita gak ada. Tetangga hampir semua punya sepeda, kita gak punya. Tapi alhamdulillah bisa naek sepeda semua, the power of minjem😝. Uang saku sekolah pada 500an, kita mah 100an. Meski kenyataanya perekonomian keluarga cenderung cukup, abah bekerja sebagai dosen dan ibu PNS. Gak serta merta menjadikan kami dipenuhi dengan apa yang kami punya.

Kadang pernah envy juga, kenapa kok kita gak pernah dibelikan kayak temen yang lain. Sampai suatu saat aku berpikir tentang memori masa kecil apa aja yang paling melekat di fikiranku sampai saat ini. Bukan memori tentang mainan berharga, bukan tentang pemberian barang yang mewah dari abah ibu. Tapi memori tentang kebersamaan.


Inget banget jaman dulu sering banget tiap weekend kita keluar mancing di pemancingan Janti. Pemancingan legendaris yang udah hampir 30 tahun masih jadi langganan keluarga kami meski tak banyak pengunjung datang. Inget waktu mudik dari Lombok ke Sumbawa kita naik bus reyot bareng orang bawa ayam dan kotorannya semerbak bau kemana2. Inget waktu di Bali godain kakak batal puasa sampai kena marah abah. Inget main hujan-hujanan depan rumah sambil bayangin gubug2 cantik berderet di sepanjang jalan. Indah..sekali.

Momen berharga itu yang bikin aku memutuskan untuk gak sering-sering beli permainan, sekalipun itu yang permainan edukatif. The world provides everything what we want to learn. Meski kenyataanya jadi ortu jaman now itu gampang banget tergoda sama onglen shop😝. Kayak kmren kekeuh gak beli tenda ujung2nya kebeli jg 🤭.



Kenyataanya barang bekas yang disulap jadi bahan belajar anak justru lebih esensial dibandingkan permainan edukasi sekalipun itu aparatus Montessori yang harganya lumayan mahal. Aparatus yang dibeli sama orang tua yang bisa saja gak ngerti cara mainnya. Ataupun kalau gak ada aparatus, benarkah anak-anak tidak mampu memahami konsep ukuran, angka, tahap dari sensori ke konkrit seperti halnya yang diunggul-unggulkan dari aparatus itu sendiri?

Memanfaatkan barang bekas adalah bahan utama dalam metode pengajaran loose part play. Loose part play adalah jenis permainan dengan menggunakan bahan bisa digabungkan, dirancang ulang, disusun, dipisahkan, disatukan kembali dengan berbagai macam cara. Permainan ini mendorong anak untuk memiliki pemikiran yang berbeda, pemecahan masalah, dan keingintahuan yang tinggi pada anak. 

Saat anak diberikan permaianan dari barang recycle, anak akan belajar menjelajahi objek tersebut, berpikir kritis untuk merefleksikan ide dalam benaknya, dan tentunya mengasah kreativitas anak untuk menciptakan sesuatu. Ini yang membuat benda-benda bekas cenderung lebih exploratif dan mengasah critical thinking anak. 

Ruang bermian yang cenderung statis tidak banyak membantu anak untuk mengeksplorasi dibandingkan ruang bermain yang menyediakan kebebasan dalam berpikir. Anak-anak bisa saja menjadikan wajan di dapur kita sebagai alat musik, gasing, jungkat jungkit, dan lain sebagainya yang meemungkinkan anak-anak menjadi sangat inventif dan kreatif dalam permainan mereka. 

Saat di rumah aja selama pandemi ini, ada orang tua yang berpikir akan memenuhi segala fasilitas agar anak bisa lebih betah di rumah dengan membelikan berbagai macam permainan. Padahal kenyataanya ada anak yang hanya memainkannya sekali dua kali kemudian ia merasa bosan dengan permainan itu. Lalu kemudian si anak mencari-cari sesuatu di kulkas, Dia menemukan telur dan ingin sekali mengocok telur karena hal itu ia anggap sangat menyenangkan.

Jadi saya rasa, barang yang harus ada selama anak-anak di rumah bukanlah mainan yang begitu banyak jumlahnya. Sediakan saja barang-barang bekas yang bisa kita buat menjadi permainan seru bersama anak. Ini justru lebih memberikan kualitas dan momen berharga kaerena adanya kebersamaan dalam keluarga. Saling berkerja sama untuk menciptakan barang bekas menjadi barang yang bernilai.

Saya tidak menyudutkan para pedagang mainan edukasi dan lainnya. Ini hanya opini dari kacamata saya. Tentunya setiap orang tua berhak memberikan hal yang terbaik untuk anak. Semua dikembalikan ke value masing-masing orang tua ya. Judul diatas juga opini saya yang diperoleh setelah banyak mempelajari tentang loose part play.  Walau gimanapun tujuan kita sama-sama ingin mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sukses dan bermanfaat. Go ahead everything is your choice. Mari tetap menjadi orang tua yang saling bersinergi ya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY12

x

BERLATIH MINDFULNESS: CARA TEPAT MENGURANGI STRESS SELAMA PANDEMI


Perasaan takut, marah, stress, sampai burn out adalah kondisi psikologis yang sangat wajar kita temukan pada banyak orang selama pandemi COVID 19. Terlebih media selalu memberitakan berita yang memunculkan ketakutan bagi banyak orang. Jumlah pasien yang makin meningkat setiap hari, jenazah pasien COVID yang tidak diterima untuk dikubur di dekat pemukiman warga, sampai pasien yang dikucilkan oleh tetangga bahkan diusir karena diduga positif COVID. 

Pemberitaan negatif ini seolah-olah membombardir kita dengan rasa takut hingga memunjulkan stress dan frustasi dalam diri. Jika kondisi ini akan terus menerus dialami, imun tubuh kita akan lemah sehingga akan sangat mudah terserang penyakit bahkan virus itu sekalipun. As we know bahwa sebenarnya sangat banyak pasien yang berhasil sembuh dari Corona, namun mereka yang sembuh adalah mereka yang mampu mengelola diri dengan mengkonsumsi pola hidup yang sehat dan kesehatan mental yang BAGUS.  Catat ya kesehatan mental adalah elemen yang sangat penting di tengah situasi pandemi ini. Jadi segera lakukan prevensi dan upaya bagaimana agar kita tidak terkena stress berlebih selama pandemi. 

Selama beberapa pekan terakhir, saya mempelajari mindfulness dari rekan saya yang kebetulan adalah praktisi mindfulness. Mindfulness adalah suatu kesadaran diri untuk fokus pada status pikiran pada emosi saat ini. Fokus pada present neither past nor future. 

Saya begitu excited sama mindfulness ini karena lebih realistis dan apa adanya dengan kehidupan kita sehari-hari.  Misalnya ketika kita dirudung rasa takut dan cemassaat harus menghadapi ujian, biasanya seorang motivator meminta kita untuk selalu positive think jika kita bisa melalui ujian itu. Kita diminta untuk membayangkan jika di ruang ujian nanti kita bisa mempresentasikan diri dengan baik. Kita tidak diperkenankan untuk merasakan rasa takut itu karena dianggap bisa memperburuk keadaan. Namun dengan metode mindfulness, justru kita belajar untuk menerima rasa takut ini. Kita terima dan kita sadari jika rasa takut ini sedang melanda diri kita. Kemudian kita sadari jika saat ini kita takut dan kondisi kita sedang berdiam diri tanpa adanya hal yang menggangu. Dengan penerimaan ini perlahan rasa takut itu akan mengikuti keadaan kita yang sudah mulai merasakan ketenangan dan tanpa disadari penerimaan rasa takut itu bisa membuat ita menjadi lebih baik lagi. 

Jadi pada dasarnya, jika kita berusaha menghilangkan atau menghindari sesuatu yang tidak disukai, ternyata kita justru sedang fokus untuk menjauhkan perasaan itu. Akibatnya apa? Ya tanpa disadari kita bukan terfokus pada cara menghindarinya, namun malah ternginag-ngiang dengan perasaan yang ingin kita hindari itu. Ini yang dinamakan MONKEY MIND. 



Monkey mind adalah sesuatu meloncat-loncat dalam pikiran kita. Saat kita mencoba fokus, monkey mind akan lebih sering kita alami dan akhirnya akan mendistraksi pikiran kita yang berusaha untuk fokus. Jadi saat kita fokus, bukan berarti kita harus menghilangkan semuanya dalam pikiran kita, karena pada dasarnya otak manusia akan tetap bekerja dalam situasi apapun. Yang perlu kita lakukan adalah menjinakan si monkey mind ini dengan cara menerimanya dan bekerjasama dengannya. Coba kalau semua perasaan yang tidak ini terus menerus kita hindari. Sama saja kita melarikan diri dan bisa saja kita bagaikan perampok yang akan tetap dihantui untuk selalu dikejar-kejar dengan perasaan itu. 

Mudahkah menjinakan monkey mind ini? Salah satu hal yang diajarkan dalam mindfulness ini adalah berlatih meditasi. Dengan berlatih meditasi kita melatih untuk mengatur nafas kita, nafas adalah kunci ketenangan sehingga kita lebih mudah untuk menjinakan hal yang tidak menyenangkan di pikiran kita. Usahakan untuk menyempatkan diri 15 menit dalam sehati untuk tidak melakukan apapun selain duduk diam dan mengembuskan nafas secara perlahan. Itu akan membuat kita lebih tenang dan menerima kondisi saat ini.

Selain dalam mindfulness kita dilatih untuk melakukan single tasking dalam pekerjaan sehari-hari. Memang masyarakat urban saat ini dituntut itu bisa multi tasking dalam segala hal. Akibatnya otak kita bisa jadi akan overload dan berimbas pada burn out yaitu kelelahan secara psikis dan fisik. Pada dasarnya otak memang didesain untuk melakukan satu hal dalam satu waktu. Maka latihlah diri untuk selalu fokus mengerjakan 1 hal dalam satu waktu. Jika memang terpaksa harus melakukan multi tasking, maka sadari jika saat ini kita akan melakukannya dan menerima kondisi agar fisik dan mental kita tetap waras. 

Dengan menghabiskan banyak waktu di rumah selama pandemi, sudah saatnya kita berlatih mindfulness agar hidup kita lebih sejahtera dan minim akan distraksi yang mengakibatkan kita stress dan frustrasi. Yuk berlatih mindfulness :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY11